
Pemilik mobil turun, tersenyum menatap Akhmar yang duduk tenang. Kemudian pandangannya tertuju ke arah Aiza dan Adnan yang tertidur pulas.
"Nggak tidur, Den?" tanya bapak itu. "Temennya pada tidur semua."
"Kalau tidur semua, nanti nggak ada yang jagain mereka, Pak," jawab Akhmar dengan rileks.
"Aden setia banget sama temennya. Ini saya sudah sampai di rumah, Den. Mau mampir?" tanya Bapak itu.
Anak istrinya sudah berdiri di teras sambil melempar senyum ramah.
"Nggak usah, Pak." Akhmar turun. Ia lalu menjulurkan tangan hendak meraih pundak Aiza, ingin membangunkan, namun urung.
"Kenapa, Den? Nggak berani bangunin temennya? Itu pacarnya ya?" tanya si bapak.
Akhmar tidak merespon, tatapannya datar dan ia lebih banyak diam.
"Biar bapak saja yang bangunin." Bapak itu mendekati Aiza dan mengguncang pundak gadis itu pelan. "Neng, sudah sampai ini. Mari mampir!"
Aiza terbangun. Ia bangkit duduk sambil mengucek mata. Wajahnya tetap tampak cantik meski dalam keadaan bangun tidur.
Bapak itu juga membangunkan Adnan.
"Makasih banyak ya, Pak. Tapi kami nggak mampir. Kami jalan lagi aja," ucap Aiza sambil menuruni mobil, disusul Adnan yang juga turun dari mobil sambil membenahi kaca matanya.
__ADS_1
"Jadi mau langsungan ini, Neng?" tanya si bapak lagi.
"Iya, Pak. Pamit ya Pak, Bu. Permisi. Makasih banyak." Aiza melangkah pergi.
Adnan juga berpamitan dan menyusul Aiza menyusuri jalan.
Eh, Akhmar mana? Aiza mengedarkan pandangan mencari keberadaan pria itu, mendadak saja Akhmar menghilang.
Di kejauhan, tampak Akhmar berjalan gontai, menjauh menyusuri trotoar. Aiza mengawasi punggung pria itu sebelum akhirnya ia berlari mengejar.
"Mar! Akhmar!" panggil Aiza.
Akhmar menoleh sebentar, menatap Aiza yang berlari mendekatinya. Dengan sikap yang tenang dan datar, Akhmar menunggu Aiza sampai gadis itu berdiri di hadapannya. Kedua tangan Akhmar masuk ke kantong celananya. Alisnya terangkat.
Akhmar mengedikkan bahu. Lalu balik badan dan melanjutkan langkah.
"Hei.. kamu kok aneh begini?" merasa penasaran, Aiza mengiringi langkah Akhmar. Tiba- tiba saja Akhmar berubah menjadi seperti es batu.
Adnan di belakang mengikuti.
" Apanya yang aneh?" Akhmar balik tanya.
"Kenapa nyelonong pergi gitu aja? Ini nggak Akhmar banget." Aiza mengawasi wajah Akhmar yang kaku. Datar sekali.
__ADS_1
Akhmar menarik sudut bibirnya.
"Mungkin benar apa kata Adnan, hidupmu itu kacau karena aku. Dan nggak sepatutnya kamu bersamaku." Akhmar berbicara dengan tenang. Dia tampak lebih dingin.
Raut wajah Aiza berubah memerah, cemberut. "Ini artinya kamu mengakui bahwa kamu itu salah. Nggak ada yang salah dengan kita. Semuanya hanya salah paham."
"Saat kamu bersamaku, selalu muncul situasi dimana kesalahpahaman itu memojokkan mu." Akhmar menatap wajah Aiza yang menggemaskan. Bahkan wajah itu tetap tampak unyu saat dalam keadaan kesal seperti sekarang. "Jangan bersamaku lagi."
Ada yang menyayat di dalam sana saat mengatakan kalimat itu, pedih. Namun Akhmar tetap mengatakannya dengan wajah yang tenang. Tak pernah ia merasa sepilu ini, bahkan ini lebih menyakitkan dari hukuman setrap di kampus.
Akhmar balik badan lalu berjalan dengan langkah lebar meninggalkan Aiza. Membiarkan gadis itu dalam keadaan manyun mengawasinya.
Akhmar benar- benar sadar sekarang, bahwa benar apa kata Atep, ia dan Aiza itu seperti langit dan bumi alias jomplang. Aiza terlalu sempurna untuknya, gadis itu adalah gadis baik. Tak perlu menaruh harapan besar pada gadis itu. Biarlah hatinya sendiri yang merasakan, sedalam apa rasa cintanya pada Aiza. Sangat cinta. Aiza tak perlu tahu itu, namun ia merasa seperti lumpur yang tak pantas menemani berlian seperti Aiza.
Sejak saat Akhmar melihat Aiza mengobrol dengan Adnan di mobil tadi, Akhmar mendapati kemistri yang tepat pada dua insan itu. Adnan adalah pria baik, pria itu pantas menjaga Aiza. Tidak seperti Akhmar yang memiliki banyak kekurangan.
Kedekatan Aiza saat bersama dengan Adnan menarik perhatian Akhmar hingga ia tadi hanya diam membisu menyaksikan pemandangan itu, ia sadar diri. Siapalah dirinya? Yang kehadirannya justru membawa petaka dan banyak masalah untuk Aiza. Ia jelas jauh berbanding terbalik jika dibandingkan dengan Adnan yang alim dan baik. Casing Adnan saja sudah memperlihatkan sosok yang alim. Cara bicaranya sopan, tatapannya teduh. Dia pantas bersama dengan Aiza.
Tak ada kemarahan lagi dalam diri Akhmar menyaksikan kedekatan Aiza bersama dengan Adnan, justru perasaan tau diri yang muncul dalam dirinya meski terselip rasa panas di dalam dada, yang mungkin itulah namanya cemburu.
***
Bersambung
__ADS_1