Terjerat Pesona Preman Insaf

Terjerat Pesona Preman Insaf
126. Wadidaw Warakedadaw


__ADS_3

Hubungannya dengan Aldan membawa kepada situasi tak nyaman. Dan satu lagi, bagaimana reaksi Ismail saat mengetahui Akhmar adalah bagian dari keluarga Adam? Aiza pelan melirik ke arah Ismail, abahnya itu sepertinya belum menyadari siapa Akhmar. Wajar, wajah Akhmar tampak jauh berbeda dengan tampilannya yang bersih dan memikat itu. Tapi itu tak berlangsung lama, sebab detik berikutnya, Ismail tampak mengernyit menatap wajah Akhmar, seperti sedang mengingat- ingat sesuatu. 


"Hei... Kau ini! Beraninya kau muncul di sini? Pasti kau mau mengejar- ngejar anakku, iya kan? Setelah bertahun- tahun kau menghilang, sekarang muncul lagi. Ini kenapa dia dibiarkan masuk ke sini?" Ismail bangkit berdiri sambil menunjuk- nunjuk Akhmar.


Akhmar yang menjadi sasaran kemarahan Ismail pun dengan tenangnya hanya mengangkat alis, menatap Ismail.


"Kamu siapa kenapa bisa ada di sini?" kesal Ismail yang masih memendam dendam pada Akhmar. Ia mengangkat  satu ekor ikan goreng dan melemparkannya ke arah Akhmar. Bayangan sepatu yang pernah menimpuk kepalanya pun membayang di ingatannya, berharap Akhmar akan menerima timpukan yang sama seperti yang dia alami.


Syuuut... Ikan terbang melayang. Tangan Akhmar tepat menangkap ikan tersebut tanpa tubuhnya berkelit.


"Abah!" Qanita menenangkan suaminya sambil mengelus dada dan juga menahan lengan suaminya.


Aiza di posisi duduk diam, menatap Akhmar disaat yang lain pada heboh akibat perilaku Ismail yang terbawa emosi saat menatap wajah Akhmar.


"Pak Kyai, tunggu sebentar. Kenapa Pak Kyai marah begitu? Ini Akhmar anak bungsu saya. Apakah ada yang keliru dengan anak saya?" tanya Adam dengan posisinya yang kini berdiri.


"Anak? Berarti adiknya Aldan?" tanya Ismail ingin meyakinkan dirinya sendiri. 

__ADS_1


"Ya benar. Akhmar ini adalah adiknya Aldan," jawab Adam. "Kenapa pak kyai marah dengannya? Apakah ada yang salah dengan lutra saya?" tanya Adam yang menyadari bahwa bungsunya dulu adalah sosok yang urakan, dia memahami letak kemarahan Ismail.


Kemarahan Ismail sedikit memudar saat tahu bahwa Akhmar adalah adiknya Aldan, yang tentunya adalah anak dari calon besannya. Kemarahannya itu surut bukan karena menerima Akhmar sebagai bagian dari keluarganya, melainkan karena menghargai Adam sebagai calon besannya.


Ismail menarik napas panjang, mengembuskannya pelan hingga emosinya benar- benar redam.


"Aku pernah menimpuk Pak Ismail dengan sepatu, dan kurasa itu meninggalkan kesan buruk untuk Bapak. Maaf, Pak. Sewaktu remaja saya memang nggak tau sopan santun, mohon dimaklumi. Bukan berarti sekarang saya nggak bisa menghargai orang yang lebih tua, pengalaman menjadikan saya lebih banyak menelan ilmu. Maaf pak kyai," ucap Akhmar tenang. Ia kembali meletakkan ikan yang dia tangkap ke meja.


Aiza melepas napas lega melihat sikap Akhmar yang ternyata sangat tenang dan jauh dari emosi. Suaranya yang mendominasi dan terkesan berwibawa, membuat suasana tegang perlahan menjadi sedikit rileks. Ismail kembali duduk. Ia tidak mau memperpanjang urusan karena saat ini sedang berhadapan dengan calon besan. Setidaknya ia tahu malu. 


Andai saja Ismail tidak terkena serangan jantunh, Aiza pasti sudah langsung mengumumkan di meja makan itu bahwa ia hanyalah seorang pengganti, dan ia sebenarnya emncintai Akhmar. Ah, kalau saja hal itu dia umumkan, nyawa Ismail jadi taruhan. Maka Aiza hanya bisa pasrah sambil menahan gemas.


Kehangatan yang tadi tercipta, kini mendadak jadi kaku dan kesannya lebih dingin.


"Mari, silakan dinikmati hidangannya!" Adam mempersilakan dengan berwibawa.


"Silakan silakan! Ayo jangan sungkan sungkan!" Desi yang merupakan tantenya Akhmar, tampak seperti pemilik rumah.

__ADS_1


Desi adalah adik dari almarhum istrinya Adam, sedangkan Jihan adalah adik kandung Adam. Mereka sama- sama berstatus sebagai tantenya Akhmar, namun berasal dari keluarga berseberangan.


Semuanya mengambil makanan sesuai selera. Aiza mengambil cumi- cumi jumbo yang dimasak saus tiram. Tentu tanpa nasi. 


"Cieeee... Kak Aiza dan Mas Aldan cocok banget ya!" celetuk remaja cantik yang tak lain keponakan Aldan.


Sontak sejurus pandangan tertuju ke arah Aiza dan Aldan.


"Iya tuh, udah duduknya udah deketan, selera makannya juga sama," timpal Jihan tersenyum lebar.


"Waw... Kalau berumah tangga cocok banget itu, seleranya sama. Mantul deh."


"Masak pun bisa berduaan. He hee.."


Pembicaraan orang- orang di meja makan membuat Aiza menoleh ke arah piring Aldan yang ternyata juga berisi cumi- cumi gede. Hal itu membuat mereka jadi seperti dua sejoli yang satu selera.


Aiza segera melirik ke arah Akhmar, apa kabar pria itu? Akhmar ternyata juga tengah menatap Aiza hingga kini mereka bertukar pandang. Akhmar segera mengalihkan perhatian, mengambil gelas dan meneguk air mineral.

__ADS_1


Bersambung


Ah, sepi sejauh ini. Besok gk update dulu deh. Nunggu pembacanya rame dulu baru update 😓😓😓😓


__ADS_2