Terjerat Pesona Preman Insaf

Terjerat Pesona Preman Insaf
75. Deg- degan


__ADS_3

"Guru ngaji di sini adalah Aiza, bukan Pak Ismail, jadi pedoman murid ngaji di sini itu peraturan dari Aiza, bukan siapa pun,” tegas Aiza. “Aku nggak pernah minta kamu supaya berhenti ngaji ya. Kalau kamu mau belajar ngaji, jangan setengah- setengah. Yang minta kamu belajar ngaji di sini juga bukan aku tapi kamu sendiri." 


Aiza sedang bersemangat membantu Akhmar hijrah, setidaknya ia harus berhasil sampai Akhmar benar- benar bisa hijrah. Bukan hanya sekedar ingin mengajari Akhmar mengaji saja, Aiza juga ingin membuat Akhmar berubah. Bukankah mengajak dan membentuk akhlak baik adalah suatu yang mulia?  Kalau pun pada endingnya Akhmar tidak juga bisa berubah, setidaknya Aiza sudah berusaha sampai klimakss.


Aiza tidak ingin Akhmar menyerah begitu saja, apa lagi semenjak ia mendengar tentang kehidupan Akhmar yang memiliki hubungan buruk dengan papanya, Aiza ingin membuat Akhmar berdamai dengan papanya. Meskipun Aiza sendiri masih berperang dengan perasaannya untuk bisa berdamai dengan sang ayah.


“Jadi beneran, aku masih boleh belajar ngaji?” tanya Akhmar.


“Lah, kan tadi udah kubilang.  Di sini yang bikin peraturan itu Aiza.  Titik.”


“Trus, kalau aku digebukin sama Pak Ustad Ismail, apakah kamu mau bertanggung jawab?”


Aiza tersenyum.  “Iyalah.  Aku yang akan menghadapi abah.”


Akhmar salut dengan kegigihan Aiza.


“Hafalan kamu belum kelar.  Kamu masih punya hutang sama aku.  hutang itu harus dibayar!” celetuk Aiza.  “O ya, soal motor, hape dan pekerjaan kamu gimana?”

__ADS_1


“Nggak usah mikirin itu.  itu urusanku.”


Aiza terdiam.  Ia sebenarnya merasa sangat bersalah.  Ia menganggap bahwa dirinyalah yang menjadi penyebab kekacauan hidup Akhmar.


“Maafin aku ya!” lirih Aiza.


Akhmar sontak membelalak.  


Eh, nggak salah nih?  Si cewek jutek dan sinis itu akhirnya minta maaf?  Buset, mimpi apa semalam?  Berasa ketiban durian runtuh.


“Kenapa minta maaf?  Kamu kan nggak salah apa- apa.  Kejadian waktu itu adalah kecelakaan.  Dan nggak ada yang berharap bisa kecelakaan kan?  Termasuk kamu.”  Akhmar mengangkat alis, menatap wajah cantik yang menggemaskan di hape nya, wajah yang dililit penyesalan.


Bleb.


Sambungan terputus.


Akhmar menyentuh dadanya.  Kok deg- degan?  Untungnya Aiza tidak menyadari sesuatu yang sejak tadi dia sembunyikan.

__ADS_1


“Mar!” 


Suara panggilan itu membuat Akhmar menoleh ke sumber suara.  Tampak Bajul, Atep, Enyong dan Jambrong muncul.  Di pundak mereka tergantung tali tas masing- masing.


“Hm?”  Akhmar menaikkan alis.


“Kemana aja lo?  Nggak pernah gabung lagi sama kita- kita?” tanya Atep.  “Masih sibuk ngurusin cewek itu?” 


“Aiza namanya,” sahut Bajul.


“Entar malem ngopi yok di kafe biasa,” ajak Enyong.


“Gue sebenernya mau banget ngumpul bareng kalian, tapi sekarang ini gue sedang sulit,” jawab Akhmar dengan dahi bertaut.  Menampilkan ekspresi seperti penjual daging yang seluruh jualannya tidak laku, persis seperti orang sedang kesusahan.  


“Lo sendiri yang nggak mau dibantu.  Keuangan lo kan bisa ditanggung sama kita- kita.  Inilah yang namanya teman,” sahut Enyong tampak kurang setuju dengan pengakuan Akhmar.


“Plis ya, gue nggak perlu jelasin dua kali.  Gue bukan pengemis.  Gue sehat dan gue masih bisa pergunakan kesempurnaan fisik gue untuk nyari duit.  Gue klop banget sama kebersamaan kita, tapi situasinya sekarang sedang nggak mendukung.  Kalian ngerti ya!”  Akhmar merangkul pundak Enyong dan pundak Atep.  “Gue cabut!”  Akhmar menepuk pundak Bajul, kemudian melenggang pergi.

__ADS_1


Beginilah cara Akhmar menolak kebersamaannya dengan teman- temannya secara halus, ia berharap penolakannya itu tidak akan membuat teman- temannya sakit hati atau pun kecewa.  Walau bagaimana pun, eman- temannya bersikap seperti itu karena sangat mengharap bisa berkumpul bersamanya.


Bersambung


__ADS_2