Terjerat Pesona Preman Insaf

Terjerat Pesona Preman Insaf
96. Dia Berubah Dingin


__ADS_3

Akhmar merasa lelah setelah berjalan agak jauh. Napasnya mulai tersengal.  Ia kemudian berjalan menuju ke masjid. Ia akan beristirahat di sana.


Baru saja langkahnya memasuki halaman masjid, terdengar suara mengaji di masjid itu yang digaungkan melalui pengeras suara. Tak berselang lama, disusul suara adzan isya. 


Disaat orang- orang berdatangan, sibuk mengejar tempat wudhu, lalu lalang antara yang masuk ke ruangan wudhu dan masuk ke masjid setelah wudhu, Akhmar duduk di sisi teras melepas penat.


Mayoritas mereka yang terlihat sibuk itu adalah laki- laki. Tak terlihat seorang pun yang berwujud perempuan.


"Nggak shalat, Mas?" tanya salah seorang pria yang melintas di sisi Akhmar seusai wudhu.


Akhmar hanya melirik tajam tanpa mau menjawab. Ia diam dan nyender di tiang masjid.


Mulai sepi. 


Tak lama terdengar suara dari dalam masjid meminta para jamaah untuk merapatkan shaf lalu dilanjutkan dengan takbir.


Seorang pria berlari tunggang langgang dari kejauhan menuju ke masjid, sarung menyelempang di pundak, celana pendek selutut, peci hitam.  Kopiahnya jatuh di halaman masjid. Si pria yang kakinya sudah sampai teras masjid itu, balik lagi untuk mengambil kopiah yang terjatuh, lalu langsung masuk ke masjid dan menyusul ke shaf paling ujung, ikut shalat. Dia sudah wudhu di rumah.


Akhmar mengawasi pria yang menjadi masbuk itu dengan pandangan datar. Sebegitunya memenuhi panggilan shalat, sampai lari ngibrit karena sudah ketinggalan. 


Ada remaja yang mungkin usianya sekitar lima belas tahun diantara para jamaah. Remaja itu menoleh ke kiri saat rukuk, mencubit teman di sebelahnya. Yang dicubit diam saja, melanjutkan shalat.


Akhmar jadi teringat masa dulu saat SMA, ketika ia shalat di sekolah. Saat dalam posisi sujud, ia bangkit dan bergegas ke belakang shaf perempuan, lalu mencolek punggung beberapa cewek yang ada di shaf paling belakang. 


Ada yang tetap melanjutkan shalat tanpa peduli dengan colekan itu, ada yang langsung menoleh dan mengarahkan tatapan tajam, ada pula yang malah tertawa.


Akhmar menggeleng- gelengkan kepala mengingat itu.


Shalat pun usai dan jamaah berhamburan pergi. Sepi. Tak ada lagi penghuni di sana.

__ADS_1


Penat sudah hilang, Akhmar ingin pulang. 


Akhmar berjalan sampai di halaman, ia berpapasan dengan Aiza dan Adnan.


Mereka bertukar pandang.


Baru saja Akhmar menghindari Aiza ditengah perasaan cemburu dan ingin menjauh dari gadis itu atas dasar sadar diri, malah lahi- lagi ia dipertemukan dengan si gadis bermata Barbie itu.


Aiza sontak tergelak. "Nah, ini yang namanya takdir, ketemu terus. He heee... Mau kemana kamu? Udah shalat belum?"


Akhmar terdiam, sorot mata masih menatap Aiza.


"Hei, ditanyain kok malah bengong? Udah shalat apa belum?" tanya Aiza lagi.


"Belum," jawab Akhmar terkesan dingin. Pria itu merasa sadar diri sekarang, siapa yang lebih pantas bersama dengan Aiza. Membuatnya merasa tak perlu bersikap obsesi pada gadis itu.


"Ya udah, ayo shalat!" ajak Aiza yang langsung menuju ke tempat wudhu perempuan. 


Mereka lalu shalat berjamaah. Adnan menjadi imam.


Salam menandakan shalat telah usai. Aiza berdzikir dan berdoa, tidak banyak yang ia sampaikan melalui doa, hanya minta kebahagiaan uminya saja.


Aiza menuju keluar dan memakai sepatu. Ia menoleh ke arah Akhmar yang berjalan keluar setelah memakai sendal, pria itu melangkah gontai meninggalkan masjid melalui pintu pagar sebelah kanan yang agak jauh dari posisi Aiza.


Aneh, kok Akhmar jadi berubah dingin begitu? Ada apa dengan pria itu? Apakah Akhmar benar- benar ingin menjauh karena tak ingin membuat Aiza berseteru lagi dengan keluarganya? 


Aiza menatap kepergian Akhmar dengan dahi bertaut. 


"Akhmar!" panggil Aiza setengah berteriak.

__ADS_1


Akhmar menoleh, datar saja.


"Kamu mau pulang?" tanya Aiza. "Nggak sarapan dulu?"


Akhmar menggeleng, kemudian lanjut berjalan lagi.


Ada sesuatu yang aneh mengalir di hati Aiza melihat sikap Akhmar yang benar- benar berubah. Aiza tak rela Akhmar menjauh hanya karena alasan itu.  


"Nan, aku duluan ya. Kamu pukang aja!" pamit Aiza pada Adnan.


Adnan yang baru saja memakai sendal itu pun terkejut. "Trus kamu mau kemana? Lebih baik kamu pulang ke rumahmu. Orang tuamu pasti akan menerima kamu. Bagaimana pun kamu itu anak mereka."


"Mereka itu udah nggak bisa percaya sama anaknya sendiri, kesalahpahaman udah dijelasin tapi tetep aja nuduh aku buruk. Sebelum mereka mempercayai aku, maka aku nggak akan pernah bisa kembali." Aiza sangat mengenali sifat orang tuanya.


"Kamu jangan keras kepala."


"Mereka lebih keras kepala. Apa sulitnya mempercayai aku? Dan aku juga nggak akan pernah menjauh dari Akhmar karena nggak ada kesalahan antara aku dan Akhmar. Kalau aku menjauh dari dia, artinya aku membenarkan tuduhan itu."


"Minimal kamu meminimalisir kesalahpahaman, sebab dua manusia yang berbeda jenis kelamin saat berdua saja memang banyak mudharatnya, salah satunya terjadinya fitnah. Maka memang ini harus dihindari."


"Itu bener. Tapi situasi aku dan Akhmar saat terjadi kesalahpahaman ini selalu terjadi kebetulan dan tanpa disengaja. Apanya yang mau dihindari?" Aiza membuang napas.


Adnan hanya bisa terdiam. "Trus kamu mau kemana? Apa kamu punya uang?" tanya Adnan.


"Ada dikit. Ya udahlah, kamu nggak usah pusing mikirin aku. Nanti jadi ikutan puyeng." Aiza terkekeh. "Aku pergi."


Aiza melangkah santai meninggalkan halaman masjid.


***

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2