
Jamed terpana menatap empat anak buahnya yang bertubuh besar itu kalah dengan Akhmar yang hanya seorang diri. Tak perlu ditanya seberapa banyak umpatan dan makian yang bertabur di benaknya. Raut wajahnya mulai menegang menatap Akhmar yang melangkah mendekat ke arahnya.
"Lo udah berurusan dengan Aiza, maka lo juga harus berurusan sama gue. Inget Bang, nggak ada yang gue takuti." Akhmar memulai dengan melayangkan tendangan.
Perkelahian pun berlangsung sengit. Keduanya melakukan gerakan cepat, aksi pukul dan tendang.
Saat akhirnya tubuh Jamed terbanting dan tersungkur di tanah, Akhmar memburu tubuh besar yang dipenuhi tato itu dan memukulinya. Jamed tak berdaya, ia kalah cepat, gerakan Akhmar di atas rata- rata.
Akhmar mengangkat kepalan tangannya ke udara dan melayangkannya ke arah wajah Jamed yang ada di bawahnya.
Jamed memejamkan mata, siap menerima pukulan, membayangkan batang hidungnya menjadi pesek dan masuk ke dalam.
Namun bayangan Jamed tidak terjadi, beberapa detik terpejam, tak terjadi apa- apa. Jamed membuka mata, menatap kepalan tangan Akhmar yang berada di jarak sangat dekat dengan matanya. Kepalan tangan itu menjadi sangat besar.
Ke dua tangan Jamed tak berkutik karena ditekan dengan kedua lutut Akhmar, sedangkan kakinya nyeri dan sulit di gerakkan.
"Katakan, kenapa lo kurang ajar pada Aiza? Kenapa? Salah apa dia sama lo?" geram Akhmar.
"Aiza nggak salah apa- apa. Gue dapet bayaran."
"Siapa yang ngebayarin lo?"
Jamed diam.
"Siapa?" Akhmar kembali mengangkat kepalan tangannya dan mengarahkannya ke wajah Jamed.
__ADS_1
"Oke, gue katakan!" seri Jamed.
Bugh!
Akhmar mendaratkan pukulan. "Gue nggak suka diajak main- main. Apa masih nggak mau mengakui siapa orang yang ngebayar elo?"
"Atep."
Akhmar terperanjat. "Bohong!"
"Nyatanya dia yang ngebayar gue. Lalu gue mesti menyebut nama siapa lagi? Atep yang ngebayar gue. Lo tau kan kalau Atep adalah anaknya orang kaya? Dia bisa ngebayar gue. Duit yang dia kasih ke gue juga lumayan."
"Lo disuruh ngelakuin apa ke Aiza?" Suara Akhmar bergetar.
"Disuruh merawanin dia."
"Lo maki saja Atep. Tapi tenang aja, gue belom sempet sedikit pun nyentuh Aiza. Dia berhasil kabur."
"Nggak ada alasan Atep ngelakuin ini, atau jangan jangan lo cuma mau mengadu domba aja?" tebak Akhmar dengan emosi yang memuncak.
"Nggak ada untungnya gue ngadu domba elo dan Atep."
"Inget Bang, gue nggak akan ampuni elo kalau lo berani macem- macem lagi sama Aiza." Akhmar meninggalkan Jamed, kemudian langsung mengendarai motornya menuju ke lokasi tongkrongannya. Tepatnya di persimpangan jalan.
Di sana ternyata orang yang dia cari tidak ada. Sepi. Tak ada penghuni Semua bangku kosong.
__ADS_1
Akhmar langsung menuju ke rumah Atep. Tampak motor gede milik Bajul bertengger di sana.
Akhmar langsung menuju ke dalam rumah seperti biasanya. Rumah itu tidak asing baginya, sangat familiar.
"Tep!" panggil Akhmar dan langsung nyelonong masuk ke kamar Atep.
Di kamar yang luas, dengan perabotan rumah yang serba wah, serta ranjang king size, Atep tampak duduk di lantai dengan kepala nyender di dipan kasur. Bajul berbaring di di lantai sisi Atep sambil mengunyah makanan.
Bajul fan Atep terkejut melihat kedatangan Akhmar, ada apa gerangan Akhmar yang selama ini tidak pernah peduli itu tiba- tiba muncul ke rumah Atep?
Atep tersenyum senang melihat kehadiran Akhmar. "Woi Mar, mimpi apa lo bisa dateng kemari? Perlu diadain pesta ini?" tanya Atep dibarengi dengan senyum lebar.
"Tempat tongkrongan sepi banget semenjak lo ngilang. Kita nggak pernah lagi nongkrong di sana. Anak- anak pada bubar," sahut Bajul.
"Anak- anak nggak semangat ngumpul lagi semenjak lo nggak ada," timpal Atep.
"Udah? Udah nanya- nanyanya? Sekarang giliran gue yang ngomong." Akhmar berdiri di hadapan Atep. Tatapannya tajam, suaranya sarkastik. "Kenapa lo bayarin Bang Jamed buat nyelakain Aiza?"
Ekspresi wajah Atep sontak memerah, gusar.
"Jawab, Tep!" Akhmar tidak mau langsung main hakim sendiri karena butuh penjelasan Atep, butuh pengakuan temannya itu. Gawat jika salah sasaran.
"Mar, gue bisa jelasin semuanya! Gue bayarin Bang Jamed karena ..."
Bugh! Pukulan keras mendarat di wajah Atep hingga kepala Atep membentuk dipan kasur.
__ADS_1
"Jadi bener lo pelakunya? Bangs*t lo, Tep! Apa masalah lo sama Aiza, hm?" Akhmar mencengkeram leher baju Atep dengan sorot mata tajam dan napas yang memburu.
Bersambung