Terjerat Pesona Preman Insaf

Terjerat Pesona Preman Insaf
84. Berbeda


__ADS_3

Malam itu, Aiza memegang hape, menatap nama Akhmar di hape nya itu. 


Kenapa Akhmar nggak ngubungin aku sebagai mantan guru ngajinya? Apa kabar dia? Apa aku telepon aja dia, pura- pura nanyain hafalannya sampai mana?  Ah enggak, bahaya kalau Akhmar sampai tau bahwa itu cuma modus. Mau dikemanain mukaku?


Astaghfirullah kenapa sih jadi sekonyol ini? Nggak boleh. Ini nggak boleh. Aiza melempar hape dan meninggalkan kamar. Ia menuju ke meja makan. Sudah ada umi dan Zahra yang duduk manis di meja makan. 


Seperti yang terjadi di beberapa hari belakangan, semenjak kejadian di kamar waktu itu, umi tidak lagi memanggil Aiza untuk makan bersama.


Aiza selalu makan sendirian.


Sekarang, Aiza kebetulan melihat umi dan Zahra Qanita duluan duduk di meja makan. Mereka sedang menyantap makan malam. 


Suasana benar- benar berbeda saat satu meja bersama dengan Qanita, sebab wanita itu tak lagi banyak bicara. selalu diam. 


Aiza mengambil piring. Ia terkejut melihat piringnya diisi nasi oleh Qanita. Meski wanita itu mengambilkan nasi untuk Aiza, namun ia tetap diam. Tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya, seperti hari biasanya.


Biasanya, saat Qanita mengambilkan nasi untuk anak- anaknya, ia akan bicara banyak hal, 'Makan yang banyak, supaya sehat. Jangan lupa berdoa. Pilih lauk yang disukai'. Dan masih banyak lagi kata- kata yang lain.


Duuh... Aiza beneran merasa bersalah, dia seperti tersangka di meja ini.


Setelah selesai makan, Qanita langsung pergi dengan ekspresi datar. 


Beginikah seorang ibu jika merasa sangat kecewa? 

__ADS_1


Pandangan Aiza terus tertuju ke arah uminya hingga menghilang dari pandangan.


"Dek, kamu gimana sih? Kok bisa- bisanya bikin umi kecewa? Kasian umi kan jadinya tuh, bertambah deh beban pikiran umi sekarang.”  Zahra protes.


Aiza memegang tangan Zahra.  “Kak Zahra percaya sama Aiza kan?” Tatapan Aiza meyakinkan.  Dahinya sampai bertaut.


Zahra menarik napas, membalas pegangan tangan adiknya.  Ia menatap prihatin.  “Kakak percaya kok sama kamu.  Mana mungkin seorang Aiza berbuat nggak senonoh, kamu udah snagat memahami batas halal dan haram.  Semua yang terjadi pasti hanya kebetulan aja.  Jangan sedih ya!”


“Kalau percaya sama Aiza, kenapa sikap kakak belakangan ini beda ke Aiza?  Kakak nggak memanggil Aiza untuk makan bareng kayak biasanya, kakak nggak ajak Aiza bersenda gurau, kakak banyak diemnya, sama kayak umi.”  Aiza cemberut.


“Kakak tuh segan sama umi.  Kakak ngehargain perasaan umi.  Biar umi ngerasa kalau kakak ada di pihak umi.  Kamuyang sabar ya.  kamu nggak sendirian kok.”  Zahra memotivasi.


“Ya Allah, ternyata Kak Zahra nggak berubah.  Aiza udah sedih tadinya.  Ternyata Aiza masih punya dukungan.”  Aiza memeluk kakaknya.


“Iya, Kak.”  Aiza menghambur meninggalkan meja makan.  Ia tidak masuk ke kamar, melainkan menuju ke pagar beton samping rumah.  Ia menuliskan satu harapannya di sana, tepat saat itu Akhmar juga melakukan hal yang sama di pagar beton bagian luar. 


Ujung spidol milik Aiza bersamaan dengan ujung spidol milik Akhmar, bergerak di atas dinding yang hanya bersebelahan.


Suara batuk kecil dari arah dinding bagian dalam membuat Akhmar menyadari bahwa ada sosok di dalam sana. Dan ia mengenal suara itu.


"Za, kamu di situ?" seru Akhmar agak keras supaya suaranya didengar oleh Aiza. 


Meski berbatasan dengan dinding beton setinggi dua meter, namun suara Akhmar terdengar jelas di telinga Aiza.

__ADS_1


Gadis itu sontak tersenyum mendengar suara Akhmar. "Hei, si biang kerok, kamu di situ? Iya, ini aku." Aiza menempelkan telinga ke dinding.


"Kamu apa kabar?" balas Akhmar di balik dinding.


"Baik." Aiza sedikit menjauhkan telinga dari dinding. Tanpa perlu menempelkan telinga, ternyata suara Akhmar cukup keras dan terdengar dengan jelas. Aiza melompat- lompat girang. E eeeh.. ia langsung berhenti melompat saat sadar bahwa sikapnya itu aneh. Kenapa jadi segirang ini hanya karena mendengar suara Akhmar? Aiza menepuk jidatnya sendiri. Sayangnya pukulannya agak keras hingga membuat bintang- bintang bermunculan di sekitaran kepalanya. Puyeng.


"Kamu masih mau temenan sama aku?" tanya Akhmar.


"Kenapa enggak?"


"Serius?"


"Kalau aku nggak mau temenan sama kamu, aku nggak akan mau ngejawab omongan kamu." Aiza tersenyum menatap dinding, seakan Akhmar ada di dinding itu.


"Aku udah membuat hidup kamu kacau, barang kali kamu kesel karena itu. Setiap kali bersamaku, kamu kena azab terus." Akhmar menyenderkan pundak ke dinding.


"Yaelah, kamu kali yang kena azab. Aku mah cuma kecipratan teguran aja." Aiza cekikikan.


"Muka kamu kayak apa sekarang? Udah berubah atau masih seperti dulu?" 


"Udah keriput. Kenapa?" sergah Aiza. "Ya nggak ada yang berubahlah. Masak cuma seminggu nggak ketemu udah langsung keriput aja." Aiza menggeser langkahnya sekitar tiga langkah menuju pagar jeruji besi. Demikian juga Akhmar yang menggeser langkah mendekati pagar jeruji besi. Saat itulah mereka bersitatap.


Wajah Akhmar tampak berbeda, baru satu minggu tidak bertemu, Akhmar sudah terlihat tak beraturan lagi. Berantakan. Terakhir kali bertemu, Aiza tidak melihat bulu yang tumbuh di rahang keras pria itu. Namun kini terlihat jelas tumbuh di sana. Rambutnya yang sedikit gondrong tampak tak beraturan, diikat satu. Sisa anak rambutnya menutupi kening dan alis. Pria itu mengenakan kemeja jeans warna biru dengan kancing yang atasnya terbuka. 

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2