Terjerat Pesona Preman Insaf

Terjerat Pesona Preman Insaf
30. Pria Super


__ADS_3

Aiza menghela napas mengumpulkan keberanian.  Ia akan tetap lewat sana tanpa harus membalikkan badan.  Kenapa harus takut?  Aiza bukan penakut.  Aiza gadis pemberani.  Ia melenggang terus berjalan hingga jarak persimpangan semakin lama semakin mendekat.  


Ada tujuh orang di depannya sana.  Suara riuh bersahut-sahutan yang bersumber dari mulut para cowok itu membuat Aiza sebal.  Sedikit pun Aiza tidak menoleh meski para pria itu memanggil-manggil namanya.


Ia tidak perlu bertanya-tanya dari mana para lelaki itu mengetahui namanya.  Peduli amat dengan hal itu.  Yang sekarang perlu ia lakukan adalah berjalan melintasi persimpangan jalan dan mencari angkot. 


Aiza menggeram kesal melihat para cowok berjalan-jalan memenuhi badan jalan.  Tapi ia tetap terus melangkah tanpa gentar.


Sekumpulan para cowok itu tak lain adalah rombongan Akhmar Cs.


“Pst… Cewek tuh!” bisik Enyong menunjuk Aiza yang berjalan di kejauhan sana.


Atep menatap Aiza dengan gemas.  Gadis itu ternyata cantik sekali.  Ia pun mulai tertarik.


Aiza berhenti saat Atep menghadang di depannya.  


Tanpa dikomando, teman-teman Atep yang lain seperti sudah mengerti dengan tugasnya, mereka menutup jalan lainnya hingga Aiza tidak lagi mendapat akses jalan.

__ADS_1


Mereka mulai senang menggoda sosok Aiza semenjak Akhmar kerap membela Aiza.  Lagi pula wajah Aiza sangat cantik sekali, membuat mereka gemas dan tak mau melewatkan kesempatan untuk dapat menggoda aiza.  Sama seperti yang mereka lakukan pada gadis- gadis lain.  


Sedangkan Akhmar masih jongkok di atas kursi, tak bergerak sedikit pun dari posisinya, ia mengawasi ke arah Aiza dengan tenang.


“Cantik!  Mau lewat?” tanya Atep sambil tersenyum lebar, berusaha menampilkan keramahan sebaik mungkin demi mengambil hati Aiza.  Setelah dulu ia sempat marah pada Aiza, kini ia merasa tertarik untuk mengisengi gadis cantik itu.


Aiza memang balas tersenyum, tapi senyuman yang menunjukkan kekesalan hingga hanya bibir atasnya saja yang terangkat.


“Minggir!” ketus Aiza.


“Gue anterin, mau?” tawar Atep, menunjukkan rayuan receh selayaknya dia melakukannya pada gadis- gadis lain ditanggapi dengan positif oleh para gadis.  Wajahnya yang mumpuni membuat para ladies terkesima.


Namun berbeda halnya dengan Aiza, gadis itu malah semakin gedeg melihat tingkah para cowok di hadapannya.  


“Minggir!” ulang Aiza lebih galak menampilkan sorot mata tajam.


“Ups, ampun.”  Atep menangkupkan kedua tangan dan menundukkan kepala seperti sedang menyembah.  

__ADS_1


Aiza menoleh ke belakang, ia ingin membalikkan badan saja dan pulang melewati jalan lain yang tentunya akan lebih jauh karena harus berputar.  Tapi sudah ada tiga cowok yang berdiri menghadang di belakangnya.  Ia benar-benar dikelilingi para cowok aneh yang membuat kepala hampir pecah.


“Minggir!” Sekali lagi Aiza menghardik.


Akhmar masih mengawasi dari jarak beberapa meter dengan tenang.  Ia mengira Aiza akan tersipu malu saat digodain para cowok.  Ternyata ia salah, gadis itu malah terlihat semakin muak dan jijik.


“Jangan jual mahal, dong!” ucap Bajul.


“Iya, jual murah aja kagak laku,” sahut Atep.


“Sudah!  Sudah! Bubar!” sergah Akhmar yang langsung menyelinap masuk diantara kerumunan.  


Jika Akhmar sudah bicara, maka anak- anak yang lain pun membungkam.  Sorot mata Akhmar yang tegas membuat lawan tunduk dalam hitungan detik.  


Akhmar kemudian menatap Aiza yang terlihat kesal sekali.  Kemudian dengan tegas akhmar berkata, “Pergilah!”


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2