Terjerat Pesona Preman Insaf

Terjerat Pesona Preman Insaf
81. Salah Paham Yang Hakiki


__ADS_3

Entahlah, kenapa malah Aiza yang merasa ingin memberintak melihat uminya terzolimi. Semenjak abahnya menikahi banyak wanita, jatah bulanan uminya dikurangi dan dikurangi terus. Sampai- sampai sekarang uminya pun mesti berjualan kue untuk membiayai hidupnya juga hidup Aiza dan Zahra. Apakah ini adil? Dan lihatlah, Qanita tetap saja patuh dan hormat, serta merta melayani suaminya dengan sangat baik. Tak ada protes, tak ada keluhan, juga tak ada emosi pada uminya itu. Dia terlihat legowo. Entah hatinya.


Aiza tak ingin uminya menderita batin. Secara fisik, okelah uminya kelihatan baik- baik saja, tapi secara batin, tidak baik- baik saja. 


Bahkan abahnya juga membeli mobil hanya untuk jalan- jalan bersama istri mudanya. Sering keliling kota dengan alasan dakwah, padahal cuma mau indehoy ke kota lain. Aiza gedeg sekali setiap kali mendengar itu. Manusia yang begitu kok berdalih khilaf sehingga tak bisa adil pada istri istrinya, makanya kalau tak bisa adil ya jangan punya banyak istri, yang ada hanya menyakiti dan membuat dosa di sepanjang hidupnya. 


Qanita memang begitu, patuh pada suami dan selalu mengutamakan kepentingan suami, tak peduli dia yang mesti terluka. Nyaris seperti lilin, yang rela menerangi sekeliling dan merelakan dirinya yang terbakar hingga mati.


"Aiza semakin lama semakin membangkang saja!" Ismail menggeram kesal. Giginya menggemeletuk.


"Aiza itu masih terlalu muda, masih belum bisa memahami keadaan," balas Qanita sambil mengelus lengan suaminya supaya suaminya lebih tenang.


"Aku ini selalu menyayangi dia. Nggak pernah marah sama dia. Apa karena itu makanya dia ngelunjak?"


"Aiza cuma lagi pengen unjuk rasa aja, Bah. Dia memang masih kecil," sahut Zahra lembut.


"Halah, itu kan alasan saja. Jangan anggap dia masih kecil terus. Dia sudah tujuh belas tahun," ucap Ismail.

__ADS_1


"Mungkin inilah ******* dari pemberontakan Aiza yang nggak terima memiliki banyak ibu, apa lagi umi mesti sampai jualan kue demi mencari nafkah semenjak abah mengurangi jatah belanja untuk umi," sahut Zahra lagi menunduk. 


"Loh, bukannya kodrat perempuan memang memiliki satu suami dan suami memiliki banyak istri? Itu jelas tertuang di dalam kitab suci. Kalau ada perempuan yang membenci poligami, berarti dia membenci ketetapan Allah yang jelas tertulis di kitab." Ismail bicara dengan sangat tegas.


Selalu itu yang menjadi dalih bagi Ismail untuk membela diri. Beginilah kalau membaca ayat separuh- separuh. Entah sebenarnya dia memahami kebenarannya, atau menutup mata hati demi kelancaran dalam hal kesenangan duniawi. 


"Umi kamu saja ikhlas menerima semua ini, kok malah Aiza yang bolak balik protes?" Ismail geleng- geleng kepala. "Perempuan itu memang sudah sepatutnya di dapur memasak, melayani suami, ya sudah jalani saja itu."


Tak ada lagi yang bisa dikatakan oleh Zahra, dia diam. Sedangkan Qanita, sejak tadi memang sudah diam. Dia tahu, apa pun yang akan dia katakan tak akan bisa mengubah jalan pikiran Ismail. Suaminya itu keras kepala, selalu menganggap dirinyalah yang paling benar.


Di sisi lain, Aiza berlari masuk ke kamar. Dia menghempas duduk di sisi kasur dengan sentakan kuat hingga dipan berderit.


"Sebel. Sebel. Sebel. Abah kenapa menyesatkan pikirannya sendiri dengan cara itu?" Aiza menggerutu sendiri. "Umur abah udah setua itu, tapi masih aja pikirannya nggak terbuka. Tuhan itu menurunkan ayat dengan sangat memuliakan wanita, juga memuliakan laki- laki. Tapi bagaimana cara abah membaca ayat kok bisa hanya memuliakan dirinya sendiri dan menganggap rendah wanita dengan cara suruh nurut saat dizolimi.  Hadeeh.. durhaka banget gue ngegerutiin orang tua begini."


Eh... Aiza kaget saat melihat pintu lemari kamarnya yang berukuran besar itu bergerak- gerak. Sedikit terbuka. Padahal biasanya selalu rapat. Bisa dimasukin kecoa buntung kalau terdapat celah begitu. Atau jangan- jangan memang sudah ada kecoa buntung di sana?


Aiza membuka lemari, tidak ada apa- apa di sana. Pakaiannya terlalu padat hingga pintunya sulit ditutup. 

__ADS_1


Ia melepas jilbab dan menggantungkannya di tempatnya, lalu mengambil salah satu piama tidur warna pink.


Sesaat setalah ia melepas gamisnya, belum sempat mengenakan piama yang dia pegang, tiba- tiba pintu lemari satunya terbuka, Akhmar menyembul keluar.


Bukan hanya Aiza saja yang kaget, Akhmar pun kaget.


"Astaghfirullah..." Qanita yang baru saja membuka pintu dan kini berdiri di ambang pintu, terkejut. 


Aiza cepat menempelkan piama ke dadanya.


"Ya Allah.. Aiza. Akhmar!" Qanita menatap kedua insan di dalam kamar dengan raut yang masih tak berubah, kaget.


"Ini nggak seperti yang umi duga. Aku tadi nyasar dan malah salah masuk ke sini. Saat aku mendengar suara Aiza mendekati kamar, aku langsung sembunyi ke lemari, dan ...." Akhmar belum sempat menyelesaikan ucapannya ketika Qanita masuk dan memberikan hadiah manis ke pipinya, hingga membekaslah tangan wanita itu di pipi Akhmar yang putih.


Akhmar tidak mengatakan apa pun. Tidak marah. Hanya terdiam. 


Sempurnalah pikiran Qanita makin tergiring mengenai hubungan miring antara Aiza dan Akhmar. Ucapan Ismail yang mengatakan bahwa Akhmar membawa pergi Aiza di malam hari dengan niat untuk berkencan, membuat Qanita makin yakin bahwa bungsunya sedang menjalin hubungan pacaran layaknya anak- anak yang liar.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2