
Aiza menata perasaannya. Dia harus ingat, bahwa Akhmar bukanlah lagi menjadi harapannya.
Akhmar tampak sedang berbicara dengan Meta, memerintah sesuatu pada anak buahnya itu, ditanggapi dengan centil dan malu- malu oleh Meta.
Tak kalah cari perhatian, Aisha yang sejak tadi berdiri di sana pun, asik merapikan jilbabnya.
"Mas Akhmar, kalau haus bilang aku ya, nanti aku buatin minum," ucap Aisha sambil menyentuh lengan kokoh Akhmar.
Pria itu hanya mengangguk singkat.
Ditengah jeda pembicaraan antara Akhmar dan Aisha, Aiza pun berkata, "Meta, nanti konfirmasi aja ke aku ya! Aku tinggalin nomer hape aku ini." Aiza meletakkan selembar kertas bertuliskan nomer hape nya. Ia lalu melewati Akhmar dan berlalu pergi tanpa menoleh lagi.
Ya, jangan menoleh, jangan menoleh. Jangan. Walau hati masih saja ingin menoleh untuk melihat yang dibelakang san, namun akalnya mengatakan supaya ia jangan menoleh.
Langkah Aiza baru saja sampai di teras ketika Akhmar tiba- tiba melewati dirinya, tidak sendirian. Ia diiringi oleh Aisha. Gadis itu menyusul Akhmar dengan langkah tergesa- gesa supaya bisa menyeimbangkan langkah kaki Akhmar yang lebar dan telah jauh meninggalkannya.
__ADS_1
Mereka tampak masuk ke mobil.
Ekor mata Aiza mengawasi ban mobil itu hingga melewati batas halaman.
Aiza cepat memalingkan pandangan, menoleh ke arah lain.
Ya Allah, kenapa melihat Akhmar bersama dengan wanita lain rasanya hati ini seperti digerus oleh benda tak kasat mata? Nyeri.
Aiza masih terus memalingkan wajah ketika akhirnya terdengar suara hantaman keras yang menyayat hayi. Brakkk! Disusul oleh benturan lain yang suaranya tak kalah heboh.
Kali ini nekat, Aiza melihat pemandangan yang mengejutkan. Orang- orang sedang mengerumuni lokasi kecelakaan. Mata Aiza menyipit mengawasi mobil yang hancur dalam posisi miring ditabrak mobil lain, meski hanya sebagian kecil badan mobil yang bisa dia jangkau dengan penglihatannya, namun ia tahu itu bahwa itu adalah mobil milik Akhmar.
Ya Allah.. Aiza menghambur menuju ke tempat kejadian. Memastikan keadaan yang sebenarnya. Ia menyingkirkan beberapa tubuh manusia yang menghalangi jalannya untuk bisa sampai ke posisi paling depan.
Tepat, ia melihat Akhmar yang tak sadarkan diri dengan pelipis berdarah, dibawa masuk ke mobil lain. Aisha sudah lebih dulu dimasukkan ke mobil yang sama, Aiza hanya bisa melihat kaki Aisha saja yang sudah tergeletak di jok mobil. Entah bagaimana kondisi gadis itu.
__ADS_1
Tubuh Aiza terasa lemas menyaksikan itu. Ia masih mengumpulkan kesadaran saat mobil yang membawa tubuh Akhmar dan Aisha berlalu pergi.
Lalu Aiza berlari kembali ke area toko bangunan untuk menjemput kendaraannya. Ia akan menyusul ke rumah sakit untuk memastikan keadaan Akhmar.
Perjalanan memakan waktu cukup lama karena Aiza terjebak macet setelah bertemu dengan beberapa lampu merah yang durasinya cukup lama.
Setibanya di rumah sakit, Aiza langsung menuju ke ruangan Akhmar. Tidak ada siapa- siapa di kamar itu. Kosong. Hanya ada bed yang kasurnya sedikit berantakan, ada bercak darah di alas kasurnya.
Aiza yakin Akhmar baru saja dari sana, ia mencium aroma tubuh Akhmar di sana. Ia lalu keluar ingin menanyakan pada suster, namun urung ketika ia melewati kamar lain dan tanpa sengaja pandangannya mendapati Akhmar di kamar yang dia lewati itu.
Melalui jendela kaca, Aiza melihat Akhmar ada di sana. Tapi pria itu tidak dalam posisi terbaring, melainkan duduk di sisi bed, tidak sendirian. Ada Aisha yang terbaring lemah di atas bed, kening gadis itu dibalut perban, kakinya diperban, juga tangannya yang tak luput dari balutan perban. Muka gadis itu pucat sekali.
Bersambung
(sedang mode kurang sehat. mohon maklum) 🥺🥺
__ADS_1