
Ismail terbatuk kecil. Ia berusaha menata ekspresi wajahnya supaya lebih rileks.
"Maaf, saya ini terbawa emosi kalau melihat putri saya kenapa- napa. Bawaannya trauma. Soalnya saya itu sayang sekali dengan Aiza." Ismail ngeles. Berusaha menutupi sifatnya yang tempramental supaya tidak menjadi bahan perhatian.
"Ya sudah, saya permisi. Kasian Aiza kalau pulang sendiri." Ismail berpamitan.
Adam mengangguk mempersilakan tamunya pulang.
Ismail dan Qanita melenggang meninggalkan ruangan tamu.
"Jangan sampai calon besan kita tau kalau dulu Akhmar dan Aiza punya kasus, bisa- bisa Aldan ilfil dan Adam pun membatalkan pernikahan karena beranggapan Aiza itu gadis nggak bener," bisik Ismail.
"Semua yang terjadi antara Aiza dan Akhmar kan hanya sebuah kesalah pahaman," balas Qanita yang juga ikut berbisik.
__ADS_1
"Halah. Kesalah pahaman yang beruntun gitu?" Ismail melambaikan tangan ke sembarang arah.
Saat mereka melewati ruangan utama, mereka melihat Akhmar yang baru saja menapaki anak tangga hendak naik ke lantai atas.
"Hei, kamu!" Ismail berseru membuat Akhmar menoleh dan menatap pria yang dulu dia anggap sebagai calon mertua, kini malah berbalik menjadi calon mertua kakaknya. "Awas ya, jangan sampai kamu bilang ke orang tuamu atau pun kakakmu bahwa kamu pernah dekat dengan Aiza, karena itu akan mengurangi nilai positif papamu terhadap putriku!" Ismail memperingatkan.
"Nilai seorang Aiza hanya akan berubah oleh akhlaknya sendiri. Pak Kyai tau kan berapa kadar iman putri sendiri? Jadi jangan cemas." Akhmar berkata dengan santai, tak sedikit pun terpengaruh oleh ancaman Ismail. Ia lalu melangkah naik ke atas.
"Hei, aku belum selesai bicara!" Ismail membuang napas.
Mereka lalu pulang.
***
__ADS_1
Aiza sudah lebih dulu sampai di rumah, pulang naik taksi. Ia berdiri di belakang rumah, tepatnya di teras. Berdiri berpegangan pagar teras, meremas pagar tersebut.
Aiza kesal sekali atas sikap Akhmar. Pria itu tiba- tiba saja berubah hanya dalam hitungan detik. Padahal, sepulang dari Kairo, keadaan masih sama saat pertama kali Aiza bertemu dengan Akhmar. Pria itu menatap Aiza dengan tatapan yang sama seperti saat Aiza meninggalkannya lima tahun silam. Ada harapan besar di mata itu, yang dapat dengan jelas Aiza melihatnya
Dan saat Akhmar tahu kalau Aldan adalah calon suami Aiza, mendadak sosok Akhmar pun berubah drastis hanya dalam hitungan detik saja. Tatapan pria itu berubah menjadi dingin, sikapnya pun sangat dingin.
Bahkan dengan mudahnya melepas Aiza untuk pria lain tanpa mau peduli dengan penjelasan Aiza. Inilah yang paling menyakitkan bagi Aiza.
Baiklah, jika memang Akhmar sudah benar- benar menyerah, jika memang sudah tidak ada lagi yang diharapkan dari Akhmar, Aiza pun tidak bisa berbuat apa- apa lagi. Mungkin memang inilah saatnya melepaskan Akhmar. Mungkin memang Akhmar yang terbaik menurut Aiza, tapi tidak menurut Allah. Akhmar mungkin bukan jodoh Aiza.
Ya Allah... kenapa berat sekali mengambil keputusan ini? Padahal Aiza tau kalau Akhmar tidak mengharapkannya lagi. Tetap saja, hatinya masih terpaut.
"Aiza, kenapa kamu tadi menangis?" Qanita yang baru saja muncul, meraih pundak Aiza, menatap wajah putrinya yang mendung. Mana mungkin Qanita mempercayai perkataan Akhmar yang bilang kalau Aiza menangis hanya karena mencret.
__ADS_1
Aiza menggigit bibir bawah. Ingin melanjutkan nangis lagi, tapi malu. Masak ia secengeng ini. Cuma gara- gara urusan cinta? Hadeeh... Tapi kenyataannya memang urusan cinta benar- benar bikin hati sakit.
Bersambung