Terjerat Pesona Preman Insaf

Terjerat Pesona Preman Insaf
138. Berat


__ADS_3

"Calon istri dia itu adalah gue, Nay!" celetuk Aiza yang ekspresi wajahnya berubah jadi manyun.


Seketika itu Nayla terbatuk akibat keselek saat meneguk minumannya.


"Pelan- pelan, Nay." Aiza memperingatkan.


"Eh tunggu tunggu, lo mau nikah? Tiga hari lagi? Ya Allah, nggak salah, Za? Lo baru balik dari Kairo dan tiba tiba bilang mau nikah aja?" Nayla kaget bukan main.


Aiza hanya bisa mengangkat alis menanggapi kehebohan sahabatnya.


"Suer, gue nggak tau mau seneng atau sedih. Soalnya gue bingung, lo pergi ke Kairo demi ilmu, dan terakhir kali lo keliatan suka sama Akhmar. Nah, sekarang lo tiba- tiba mau nikah sama cowok lain." Nayla menunjukkan wajah bingung. "Lo udah lupain Akhmar ya?"


"Ceritanya panjang, dan kalau lo tau bahwa Akhmar itu adalah adiknya Aldan, lo pasti jauh lebih kaget."

__ADS_1


"Apa? Akhmar itu adiknya Aldan? Nggak cuma kaget ini, Za. Tapi jantungan ini." Nayla menyentuh dadanya sendiri.


"Kak Zahra dijodohin dan malah kabur di hari lamaran, lalu aku terpaksa menggantikan posisinya. Dan ternyata calon suami Kak Zahra adalah kakaknya Akhmar. Nyaris seperti di sinetron ikan terbang. Ini berat buat gue, Nay." Aiza melepas napas berat.


"Iya iya, gue tau itu berat banget. Ternyata kisah yang begitu nggak hanya terdapat di novel- novel romance ya, bahkan itu terjadi langsung di kehidupan lo. Sabar ya!" Nayla mengelus punggung tangan Aiza.


"Akhmar sekarang cuek banget sama gue, dingin. Dia kayak melihat orang asing saat ngeliat gue."


Aiza hanya diam. 


"Lo kan udah mau nikah. Mana mungkin bisa mikirin cowok lain.  Aldan juga keliatan soleh kok. Harapan lo untuk dapetin imam yang baik bakalan terwujud. Sosok soleh itu ada pada Aldan," ucap Nayla menyemangati.


“Setelah sekian tahun gue berharap sama Akhmar, pada akhirnya malah jadi begini.  Bahkan Akhmar juga jadi cuek sama gue setelah tau kalau gue mau nikah sama kakaknya.  Nggak ada lagi yang bisa ngebuat gue terus berharap sama Akhmar.  Situasinya bener- bener sulit.  Sekarang ini gue berusaha untuk membuang jauh perasaan gue buat Akhmar.”  Aiza mengusap pipinya yang telah basah.  “Jodoh itu emang misteri ya!  Yaaa… Mungkin emang jodoh gue itu Aldan. Tapi kenapa sampai sekarang gue nggak rela melepaskan Akhmar? Apakah karena gue ini terlalu berharap kali ya sama Akhmar?”

__ADS_1


Nayla langsung meraih pundak Aiza dan memeluknya.  Ia usap lengan Aiza lembut untuk menguatkan.


Aiza malah terkekeh. "Eh, ini kenapa malah jadi mewek- mewekan begini. Cengeng banget ya gue? harusnya kan nggak nangis begini. Udah ah." Aiza melepas pelukan, kembali mengusap pipi putihnya yang basah.


Nayla pun hanya bisa diam menatap senyum miring di wajah Aiza. Ia tahu bahwa Aiza sedang tidak baik- baik saja.


"Ayuk makan! Ini entah sejak kapan makanannya udah disajikan." Aiza menyantap makanan miliknya dengan lahap, terlihat biasa saja meski ia baru saja menangis tadi. Seakan tidak terjadi apa- apa. Ya begitulah yang namanya Aiza, tidak mau melarutkan diri dalam kesedihan. Yang bisa larut itu kan gula, masak kalah sama gula.


Nayla ikut makan dengan irama yang sama seperti yang dilakukan Aiza, penuh semangat meski hatinya prihatin atas apa yang dialami sahabatnya.


***


Bersambung... ...

__ADS_1


__ADS_2