Terjerat Pesona Preman Insaf

Terjerat Pesona Preman Insaf
39. Bayangan Kematian


__ADS_3

    Jam setengah delapan malam, Akhmar sudah berbaring di ranjang dengan mata terpejam.  Bukan tanpa alasan seorang Akhmar mendadak ingin tidur cepat.  Biasanya, paling cepat dia tidur jam sepuluh malam.  Kali ini, ia berharap bisa tidur nyenyak dan esok pagi akan bangun dengan pikiran segar tanpa teringat Vito.  Tapi harapannya sia-sia.  Bayang-bayang Vito terus mengganjal di pelupuk matanya.  Ia gelisah memikirkan kondisi Vito.  Posisi tidur pun tidak bisa tenang, bolak-balik.  


Akhmar akhirnya hanya berbaring tanpa memejamkan mata, lampu yang sudah dimatikan, kembali dinyalakan.  Matanya sibuk menatap gambar-gambar penyanyi rock yang ia tempel di dinding demi mengalihkan bayangan Vito di kepalanya.  Tapi bayangan Vito tetap mengisi di sana.


Andai saja tidak ada yang menemukan Vito di lokasi kejadian, bisa jadi Vito meregang nyawa.  Apa perlu Akhmar kembali ke lokasi kejadian dan membawa Vito ke rumah sakit?  Jalan pikiran Akhmar benar-benar sudah buntu.  Akhmar merasa sangat penasaran dengan kondisi Vito.  


Sudah banyak cara Akhmar lakukan untuk mengalihkan perhatiannya dari bayang-bayang Vito, namun tetap saja tidak bisa.  


Dering ponsel membuyarkan pikirannya.  


“Shit!   Belalang nungging!  Berisik aja nih hape, gua lempar mati lo!  Bikin jantung deg-degan mulu ah!”  Akhmar ngomel-ngomel sendiri sebelum akhirnya melotot melihat si penelepon.


Alya, gadis yang akhir-akhir ini sering dia ajak jalan- jalan dan bahkan beberapa kali menginap di kos-kosan Mang Usup.  


“Ngapain lagi nih cewek belagu nelepon-nelepon gua?  Bikin tambah pusing aja dah ah.”  Akhmar menekan tombol diam.  Detik berikutnya ponsel kembali berdering, nama si penelepon tetap sama.  akhirnya Akhmar menyerah dan menjawab telepon.


“Ada apa, Alya?” tanya Akhmar berusaha sedikit kalem.


“Aku mau ketemu!” rengek Alya di seberang.  Suaranya terdengar manja layaknya gadis sedang merengek pada pacarnya.


“Mau ngapain?”


“Pokoknya aku ke situ sekarang.”


“Nggak usah!”

__ADS_1


“Kenapa?” rengek Alya lagi.


“Kamu kan tau sendiri, aku nggak enak sama Mas Aldan kalo dia ngeliat ada cewek dateng ke rumah.”


“Emang kenapa?  Lagian Masmu jam segini kan belom pulang.  Dia lembur kerja, kan?”


Akhmar melirik arloji di pergelangan tangannya, kemudian mengangguk.  “Ya udah, kesinilah!”


“Oke!”  Alya menjerit heboh di seberang sana.


Tak lama kemudian, terdengar suara pintu kamar diketuk dari luar.  Akhmar mengernyitkan dahi.  Bagaimana mungkin ada yang mengetuk pintu kamarnya? Semua penghuni rumah akan langsung masuk kamar tanpa harus mengetuk pintu terlebih dahulu, demikian juga dengan Bajul, Atep dan Enyong, mereka akan ngeloyor langsung masuk kamar tanpa harus ketuk-ketuk pintu.  Lalu kenapa sekarang ada yang mengetuk pintu?  Ataukah Roni?  Asisten rumah tangga Akhmar?


Masih berkutat dengan pikirannya, pintu terbuka sebelum sempat Akhmar berdiri untuk membukanya.  Akhmar terkejut melihat Alya sudah berdiri di ambang pintu dan melompat masuk tanpa menunggu tuannya mempersilakan.  Gadis itu segera menutup pintu dan menatap Akhmar dengan bibir manyun.  Kemudian gadis itu berlari menghambur dan memeluk Akhmar tanpa permisi.


“Hei hei, ini kenapa?”  Akhmar mengelus rambut pirang sebahu milik Alya.


Halah, cengeng!  Akhmar garuk-garuk kepala.  Rasanya ingin mengusir gadis itu dari kamarnya karena ia sedang badmood dan tak ingin diganggu, tapi ia masih berusaha bersabar mendengar tangisan gadis itu.


“Papi tadi marah sama aku, Akhmar,” ucap Alya disela tangisnya.


“Marah kenapa?  Ya udah sini duduk dulu.”  Akhmar memegang lengan polos Alya yang tanpa penghalang karena Alya mengenakan dress tanpa lengan dengan bawahan di atas lutut.  Ia mengajak Alya duduk di sisi spring bed. Gadis itu menurut, kepalanya masih menempel di bahu Akhmar.


Dasar manja!  Pikir Akhmar menatap wajah polos Alya yang memang manja.  Gadis yang hidup dengan segudang kemewahan itu tentu diperlakukan istimewa di rumahnya, wajar dia manja dan cengeng.


“Entah dari mana Papi tahu kalau aku sering dibawa sama kamu nginep di kosan Mang Usup, tempat Kosan Rania.”  Alya bercerita masih dengan terisak-isak.

__ADS_1


“Yang penting kamu nggak usah ngaku ke Papimu, bilang aja semua yang Papimu denger itu fitnah.”


“Tapi…”  Seperti ada yang igin Alya jelaskan lagi, namun ia terlihat ragu untuk mengungkapkannya.


“Tapi kenapa?”


“Tadi siang aku…  Mm… enggak, ah.”


“Kamu ngomong jangan setengah-setengah.”


Alya diam menikmati sesenggukannya.


Akhmar melirik kesal pada kepala Alya yang menyandar di bahunya.  Bagaimana caranya supaya Alya pergi dari kamarnya?


“Ya udah, jangan nangis.  Nanti cantiknya hilang.”  Akhmar menjepit hidung Alya dengan jarinya. Alya mendongakkan wajah dan menangkap wajah Akhmar yang sudah sangat dekat dengan wajahnya.


“Akhmar, jangan tinggalin aku, ya!  Kamu bantuin aku kalau Papi marah sama aku.”


“Iya.”


“Bantuin aku ngomong ke Papi kalau Papi bahas masalah ini lagi, ya!”


“Iya.”  


Malas mendengar rengekan Alya, Akhmar membungkam mulut Alya dengan bibirnya. 

__ADS_1


Bersambung


Jangan lupa klik Like sebelum next


__ADS_2