
"Aiza!"
Suara bariton terdengar mengguntur, membuat Aiza yang tengah belajar bersama dengan Nayla di ruangan keluarga itu membuat Aiza menghentikan gerakan menulis. Ia tidak menoleh. Ia sudah tahu suara siapa itu. Tak lain Ismail, abahnya.
"Abah bawain makanan kesukaan kamu. Ayo kemari!" Suara bariton itu terdengar penuh rayuan.
"Enggak." Aiza melanjutkan tulisannya. Ia duduk di lantai bersama dengan Nayla, sebuah meja yang tingginya sampai perut itu dijadikan alas untuk menulis.
"Pst." Nayla menyenggol lengan Aiza. "Abah lu tuh. Cuek banget sih? Entar kena omel loh."
"Biarin." Aiza masih menunduk, asik dengan tulisannya.
"Aiza! Beneran kamu nggak mau pisang selai? Ini kan makanan kesukaan kami. Abah bawa banyak untukmu." Ismail akhirnya mengalah, mendatangi Aiza dan menaruh bungkusan makanan itu ke meja.
Begitulah Aiza, sosok cantik yang selalu dimanja, disayang dan dipuji- puji. Tak pernah Aiza dimarahin karena memang dia itu bungsu yang dimanja. Ayahnya yang notabene galak dan suka mengomel itu pun tak pernah mau marah pada Aiza meski bagaimana pun sikap Aiza selama ini.
"Ayo, dimakan!" tawar Ismail sambil mengisap pucuk kepala bungsunya.
"Aiza puasa."
"Oh iya ya... Ini hari kamis. Abah sampai lupa. Abah pun nggak puasa. Soalnya sakit pinggang."
Aiza tak peduli. Terserah ayahnya mau berkata apa.
"Aiza, kamu menerima murid ngaji yang sudah dewasa ya? Abah kemarin yang ngajarin dia."
__ADS_1
Aiza membelalak, namun masih dalam posisi menunduk. Haduh, ia sampai lupa kalau jadwal setoran hafalan Akhmar adalah kemarin. Apakah pria itu sudah benar- benar menghafalnya? Mustahil ia menanyakan masalah itu ke ayahnya, bisa besar kepala ayahnya itu jika ia mengajak ngobrol sang ayah. Lebih baik jaga gengsi. Jangan bertanya. Sepertinya Akhmar beneran sudah hafal. Kalau dia belum hafal, mana mungkin dia berani datang.
"Pria itu terlihat bukan sebagai anak muda yang baik. Kamu harus hati- hati, jangan sampai membiarkan dia melakukan hal- hal yang tidak baik di rumah ini. Dia berbahaya. Abah sudah pernah bertemu dia sebelumnya, dia preman kawakan. Berbahaya. Niat kamu untuk mencari amal jariyah dengan memberi ilmu kepada seseorang untuk hijrah itu sangat bagus, tapi pikirkan resikonya. Kalau lebih besar mudharatnya, maka jangan lakukan," ucap Ismail memperingatkan.
"Abah lain kali nggak usah ngegantiin Aiza ngajar ngaji lagi, Kak Zahra kan bisa gantiin." Aiza menyeletuk pedas. Siapa lagi yang berani bersikap begitu kalau bukan Aiza. Gadis itu sudah biasa bersikap jutek dan ketus terhadap ayahnya. Si ayah pun tak kuasa mengomeli.
"Abah kan juga mau pahala."
"Nay, belajarnya udahan ya. Lo balik gih. Gue mendadak pusing." Aiza menutup bukunya.
Nayla yang mengerti maksud dari perkataan Aiza pun hanya bisa menurut saja. Padahal belajar kelompok belum selesai, tapi ia sangat paham letak permasalahan Aiza.
"Ya udah, gue balik ya Za. See you!" Nayla beranjak pergi.
Ismail malah terkekeh mendengar pertanyaan bernada protes itu. "Abah kan kangen kamu, kangen Kak Zahra, kangen umi kamu juga. Masak nggak boleh ke sini?"
"Abah nggak kasian ya sama Umi? Umi tuh mesti menahan beban setiap malem karena harus berbagi hati? Kasian umi." Aiza bicara dengan lantang.
Zahra yang berdiri di balik dinding dan menguping sampai heran atas perkataan adiknya itu.
"Aiza, kamu masih terlalu dini untuk memahami. Ada banyak kajian yang mulia di dalam kitab suci yang ditutunkan Allah. Dan salah satunya adalah ijinnya Allah untuk laki- laki memperistri wanita lebih dari satu. Ya sudahlah, kamu masih terlalu muda untuk memahami itu."
"Kalau seandainya Kak Zahra, atau pun Aiza yang dimadu sama suami kami kelak gimana? Kalau suami kami kelak punya istri empat gimana? Apa abah rela anak perempuan abah dipoligami dengan alasan nafsu?"
"Tidak masalah laki- laki menikah lebih dari satu kali. Kalian sebagai wanita juga harus memahami dalamnya kajian itu. Tapi kalau kalian tidak kuat, lebih baik jangan dipoligami. Sebab itu berat. Kalau umi kalian sih sudah sangat kuat." Ismail tersenyum lebar.
__ADS_1
Yah, percuma bicara sama abah. Aiza cemberut. Melengos pergi dan masuk ke kamar.
"Kak, kemarin ada murid baru. Udah gede. Ganteng loh, Kak," celetuk Iman, bocah paling nakal yang mengaji belakangan. Ia baru saja menyelesaikan bacaannya.
Aiza hanya mengangkat alis saja.
"Malam ini nggak tau tuh kenapa nggak dateng," imbuh Iman lagi.
"Udah, kamu balik gih. Kan udah selesai ngaji," ucap Aiza.
"Oke. Assalamualaikum!" Iman berseru keras.
"Waalaikumsalam."
Iman ngibrit berlari keluar. Tak lama kepala bocah itu kembali nongol. "Orangnya dateng kok, Kak."
Aiza hanya mengernyit menatap Iman yang menunjuk Akhmar berdiri di ambang pintu. Iman lalu pergi. Perhatian Aiza tertuju ke arah Akhmar. Penampilan pria itu tampak berbeda. Wajahnya terlihat sangat tampan mengenakan baju koko dipadu kopiah di kepala.
"Assalamualaikum," ucap Akhmar sambil melangkah masuk ruangan.
"Waalaikumsalam." Aiza menjawab lirih.
Akhmar duduk di hadapan Aiza.
BERSAMBUNG
__ADS_1