
Akhmar masih berdiri di sana, rasanya tak ingin menjauh dari sana. Dari tempatnya berdiri, ia dapat melihat keadaan di dalam rumah melalui kaca bening yang tirainya belum ditutup. Tampak olehnya Aiza di dalam rumah membawa makanan menuju ke sebuah kamar, yang mna kamar tersebut juga dapat terpantau oleh pandangannya. Ia mendekati kamar yang berada di pinggir hingga jendela menghubungkan pandangannya dengan isi kamar.
Aiza duduk di sisi sang nenek yang sudah renta. Ia menyuapi neneknya makan. Sesekali menggelayut manja di pundak sang nenek. Senyum Aiza tak luput dari wajah itu. betapa Aiza sangat menyayangi neneknya, hormat dan patuh.
Menyaksikan itu, pikiran Akhmar terbuka. Ada yang menyengat di benaknya. Ia ingat bagaimana perbuatannya selama ini terhadap Papanya. Tak terhitung entah berapa kali papanya menangis batin karena merasa tersakiti.
Akhmar melangkah meninggalkan jendela.
Ismail yang baru saja keluar dari rumah, heran melihat makhluk asing yang melintas di depan rumahnya. Sejak kapan ada sosok berkumis itu di sekitaran rumahnya?
“Hei, siapa kamu?” tanya Ismail dengan raut penuh selidik dan tatapan tajam.
“Orang, Pak Ustad!” jawab Akhmar sedikit mengubah suaranya supaya tidak dikenali oleh Ismail.
“Hei, sini kamu!” titah ismail curiga.
“Nggak bisa, Pak Ustad.” Akhmar melangkah pergi menjauh dan langsung menaiki motornya, ia keluar melintasi pagar.
“Keterlaluan! Anak muda nggak ada sopan- sopannya. Di suruh mendekat, malah kabur!” Ismail menggerutu.
Qanita yang mengantar Ismail keluar, hanya diam. Wanita itu menyalami tangan suami dan mencium punggung suaminya itu penuh takzim.
__ADS_1
“Siapa laki- laki tadi? Postur badannya seperti kenal,” ucap Ismail sambil berpikir.
“Mungkin murid baru Aiza yang ngaji di sini,” jawab Qanita lembut.
“Kok, jadi banyak orang- orang dewasa yang mengaji di rumah ini? awas saja kalau mereka Cuma modus sama anak kita. Aiza itu kan cantik, pasti banyak laki- laki yang menyukainya. Dia harus bisa menjaga diri. Ya sudah, abah pergi. Assalamualaikum.”
Qanita menjawab salam.
Sedangkan Akhmar mengendarai motor di jalan raya. Ia menghentikan motor agak jauh dari sebuah bangunan besar. Belum terlalu larut malam. Seharusnya papanya masih tampak di sekitaran luar rumah. Iya, Akhmar sekarang berada di depan rumahnya dengan jarak agak jauh karena takut ketahuan.
Biasanya, Adam masih keluar masuk rumah, terkadang duduk di balkon lantai dua minum kopi sambil menikmati langit malam. Sayangnya Akhmar tidak melihat wujud sang papa hingga satu jam berlalu. Hanya tampak Aldan yang baru pulang pakai mobil, lalu masukke rumah. Stelah itu, rumah gelap.
Akhmar lalu berjalan beberapa meter, helm masih terpasang di kepala menutup seluruh wajahnya, pandangannya tertuju ke rumah Alya. Entah bagaimana kabar gadis itu? apakah dia masih sakit hati?
Akhmar terus melangkah hingga sampai ke perumahan paling ujung di jalan itu. Rumah Vito. Apa kabar keluarga Vito, yang telah ditinggalkan oleh Vito selama- lamanya? Hati Akhmar bergetar saat melihat ibunya Vito yang sudah tua keluar dari rumah. Wanita itu berjalan meninggalkan halaman rumah.
Akhmar berpapasan dengan anita paruh baya itu.
“Akhmar ya?” tanya si ibu sambil menunjuk Akhmar.
Meski kepala Akhmar dalam keadaan terbungkus helm, namun wanita paruh baya itu masih bisa mengenali Akhmar. Ia melihat dari postur tubuh pemuda yang dulu sering lewat depan rumahnya.
__ADS_1
Akhmar terkesiap. Wanita itu seharusnya membenci dirinya, atau bahkan memaki dirinya. Tapi sekarang malah tersenyum ramah begini, bahkan mengenalinya dengan sangat mudah.
“Udah lama nggak keliatan, kamu kemana saja?” tanya si ibu.
Akhmar terpaksa membuka kaca helmnya. “Ibu mau kenana?”
“Mau ke warung depan situ. Cari minyak kayu putih. Ini masuk angin.” Wanita itu menunjuk warung di depan rumahnya. Ia terus saja menatap wajah Akhmar dengan seksama. “Kalau lihat wajah kamu, ibu jadi teringat Vito. Vito itu kan seumuran kamu.”
Hati Akhmar tersengat mendengar wanita yang melahirkan Vito itu menyebut nama Vito. Alangkah dia kehilangan sosok putranya.
“Sehat- sehat ya, Nak!” Ibunya Vito tersenyum dan melangkah pergi.
Tatapan Akhmar tertuju ke langkah wanita itu, juga tangan wanita itu yang jelas terlihat sedang mengusap pipi. Meski di posisi memunggungi, namun Akhmar dapat melihat dengan jelas gerakan tangan wanita paruh baya itu yang sedang mengusap air mata. Wanita itu pasti terpukul melihat anak muda seumuran Vito.
Akhmar berlari kembali menuju ke motornya. Ada sesuatu yang menghantam keras di dadanya hingga terasa sesak untuk bernapas. Akhmar meninju jok motornya sendiri. berteriak keras dengan napas tersengal. Bagaimana ia bisa menebus semuanya? Begitu banyak orang- orang yang dia hancurkan.
Malam ini adalahmalam penuh penyesalan bagi Akhmar. Ia hanya bisa merenungi diri.
***
Bersambung
__ADS_1