
Tidak ada seorang pun yang mengetahui perihal pemakaian barang- barang haram itu kecuali Aiza dan Vito. Akhmar meyakini bahwa Aiza tidak akan mungkin membuat laporan itu kepada Pak RT. Aiza bukanlah penghuni wilayah itu. lagi pula Aiza tidak mengenal Pak Rt. Gadis itu juga tidak pernah terlihat melintas di wilayah sana kecuali saat berangkat dan pulang sekolah saja.
“Jawab! Ngaku lo!” pinta Akhmar.
Vito menggeleng sambil berusaha memberontak dari lingkaran lengan Akhmar. Namun usahanya sia- sia. Kekuatan lengan Akhmar benar- benar luar biasa.
Akhmar lalu melepaskan lengannya dari leher Vito. “Lo mau ngaku nggak?”
Vito menggeleng.
Kesal, Akhmar mendorong dada Vito. Tubuh Vito terjatuh. Ia berusaha bangkit berdiri, sayangnya kembali terjatuh. Ia menoleh menatap Atep dan yang lainnya yang berdiri di belakangnya. Ia merangkak, menjauhi Akhmar.
“Jangan kabur! Gue Cuma mau nanyain, lo pelakunya atau bukan. Nggak ada orang lain selain lo yang mengetahui kejadian itu! Ngaku nggak?” ancam Akhmar membuat Vito kian ketakutan. Ia bangkit dan berjalan mundur melewati Atep.
“Hei, jangan kabur!” Atep meraih lengan Vito. Yang ditarik langsung melepaskan diri dari pegangan Atep. Ia menyentak lengannya dengan kuat hingga terlepas dari pegangan Atep, lalu ngibrit meninggalkan sekelompok orang yang menurutnya lebih menyeramkan dari zombie.
“Hei, jangan lari!” hardik Akhmar dan mengejar Vito.
Ketakutan, Vito terus berlari sambil menoleh ke belakang.
Akhmar berhasil meraih lengan baju Vito. "Gue nggak suruh lo lari! Diam di tempat!" bentak Akhmar kesal.
__ADS_1
Napas Vito terdengar ngos- ngosan, mukanya merah ketakutan. Ia berusaha melepaskan dirinya dari pegangan Akhmar. Namun Akhmar terus mencengkeram, tak mau melepaskan. Terjadi perlawanan dan aksi saling tarik.
Sampai akhirnya kekesalan Akhmar makin memuncak dan menendang Vito. Tubuh yang ditendang terguling dan menggelinding ke lereng curam.
***
Akhmar dan teman- temannya kini berada di pinggir jalan tak jauh dari rumah Atep. Mereka bertukar pandang dengan raut tegang.
"Mar, Vito pasti mati!" ucap Atep dengan raut frustasi.
Akhmar terdiam. Ia ingat tubuhnya ditarik oleh Atep sesaat melihat Vito terguling. Ia lalu membonceng, motornya dikendarai oleh Atep.
Akhmar masih tak yakin telah meninggalkan Vito, namun kenyataannya ia memang sudah meninggalkan Vito di lereng curam itu. Entah bagaimana nasib Vito sekarang.
"Tapi kalau dia udah mati gimana?" tanya Bajul.
"Percayalah, nggak akan mungkin Vito selamat setelah jatuh di jurang sedalam itu. Yang ada pastinya mati," ucap Enyong.
"Apa kita ke sana aja untuk nolongin dia?" usul Jambrong lagi.
"Jangan konyol! Itu sama aja lu ngantar nyawa ke jurang itu. Kalau ada yang tau kita berkeliaran di sekitar sana, pasti kita akan menjadi tersangka utama," bantah Atep frustasi.
__ADS_1
"Sudah! Jangan membahas ini lagi. Cuma ada dua hal yang menjadi kemungkinan. Kalian mau aman atau enggak?" tanya Akhmar menatap wajah- wajah di sekelilingnya dengan intonasi tegas.
"Gue nggak mau masuk penjara gegara ini ya!" ucap Atep lagi.
"Ya udah, jangan ada lagi yang membahas ini. Kalau pun kasus ini sampai ditangani polisi, maka gue lah yang akan bertanggung jawab. Gue nggak akan melibatkan kalian," ucap Akhmar dengan nada penuh penekanan. Tatapannya mendominasi.
Semuanya bertukar pandang dalam balutan kecemasan. Bagaimana tidak? Kini mereka dalam keadaan dilema. Antara ingin menolong Vito, namun juga tak mau dipersalahkan. Hati nurani masih bicara untuk dapat menyelamatkan Vito, namun perasaan tak mau dipenjara, juga menyisihkan nurani. Mereka bisa saja menjadi tersangka bila melakukan pencarian di area jurang. Lagi pula tak akan mungkin mereka bisa sampai ke dalam jurang untuk menjangkau Vito, kedalaman jurang tidak akan dapat dijangkau dengan tangan kosong. Apa lagi melam- malam begitu.
“Lalu… Kalau Vito masih hidup, percayalah kita semua akan masuk bui,” ucap Atep dengan suara gemetar.
“Cukup! Jangan lagi membahas ini! kalau ada apa- apa, gue yang akan bertanggung jawab!” tegas Akhmar. “Kalian bisa bungkam kan?”
Semuanya diam.
“Semuanya tergantung sama kalian, mau aman atau enggak!” Akhmar balik badan, meninggalkan tempat itu. Mau tak mau, Akhmar harus mengambil keputusan tegas meski itu terkesan tak berperikemanusiaan. Entah ia masih memiliki perikemanusiaan atau tidak. Ia pun meragukan hal itu.
***
Bersambung
Hai... ini Aiza dan Akhmar bakalan stay tune di sini. jadi jangan kemana mana dan selalu setia baca yah biar Aiza nggak kabur kaburan lagi. Ngecek pembaca nih, kalo rame, sok atuh lanjutkan. 😁😁😁
__ADS_1
Bantu share di grup kalian yah biar rame yg baca. Hayuuklah!