
Ruangan dipenuhi para tamu. Aiza sibuk membantu Qanita membawakan makanan ke ruangan depan.
Terdengar pembicaraan serius ala bapak- bapak, antara Ismail dan orang tua pihak laki- laki. Tamu undangan berasal dari kalangan berada. Mereka datang menggunakan mobil- mobil elit.
Aiza tidak berani mengangkat kepala apa lagi meneliti wajah- wajah di antara para tamu saat menghidangkan makanan hanya untuk melihat calon suami Zahra.
"Jadi setelah lamaran ini, saya harap pernikahan akan segera dilangsungkan paling tidak tiga bulan setelah ini," ucap suara bariton dari pihak laki- laki.
"Alhamdulillah. Saya setuju. Sesuatu yang sangat baik itu perlu disegerakan. Harus!" sahut Ismail.
Ya Allah... Tiga bulan lagi? Iya, hanya tiga bulan waktu yang tersisa untuk Zahra melajang. Dia sudah akan menjadi seorang istri. Aiza tersenyum senang. Ia beringsut mundur membawa nampan ke belakang. Berpapasan dengan Qanita di pintu ruangan lain.
"Aiza, kamu panggil Kakakmu sana! Suruh keluar! Bilang sama Zahra, jangan lama- lama dandannya. Nanti calonnya keburu pergi," pinta Qanita dengan senyum tipis.
Aiza tersenyum dan mengangguk. Ia meletakkan nampan ke meja, menghambur memasuki kamar Zahra.
"Kak Zahra!" panggil Aiza. Sunyi. Pandangan Aiza langsung tertarik pada selembar kertas yang terletak di atas kasur dengan sebuah pena di atasnya.
Aiza menyambar kertas itu dan membaca tulisan rapi di sana.
__ADS_1
.
Assalamualaikum, Aiza.
Kakak tahu pasti kamu yang oertama menemukan surat ini. Sebab orang yang memanggil kakak ke kamar pasti adalah kamu.
Aiza, kakak ini dijodohkan sama abah dengan pria asing kaya raya. Kata abah, di samping calon suami kakak adalah orang terpandang, dia juga berakhlak baik, juga dari keluarga baik- baik.
Sudah empat tahun belakangan, kakak memiliki pilihan sendiri. Tapi itu di luar pengetahuan umi dan abah. Aiza pasti tau kalau kakak nggak berani mengakui semua ini sebelum waktunya.
Dan tepat saat abah mengatakan bahwa abah memiliki seseorang yang tepat sebagai calon suami untuk kakak, kakak beranggapan bahwa ini adalah waktu yang tepat untuk mengatakan semuanya. Kakak bermaksud jujur kepada umi dan abah bahwa kakak sudah memiliki calon pilihan imam. Sayangnya calon imam yang kakak pilih malah pergi menerima tawaran pekerjaan ke luar negeri dan meminta supaya kakak menunggu.
Sayangnya pria pilihan kakak itu kembali lagi, dia mengurungkan niatnya karena nggak terima jika kakak dinikahkan dengan pria lain. Dia ingin menikahi kakak. Dia serius menyayangi kakak. Dia adalah Adnan. Kakak menyayanginya, juga sebaliknya. Saat kamu membaca surat ini, kakak yakin kakak sudah berada di dekat Adnan.
Abah, Umi,
Maafkan Zahra yang telah membuat masalah besar di keluarga ini. Tapi percayalah, Zahra tidak pernah berbuat hal buruk. Maaf kalau Zahra menghadapi masalah ini dengan sepengecut ini. Tapi ini berat buat Zahra, karena Zahra tahu, abah nggak akan mungkin bisa menerima pilihan Zahra disaat Zahra sudah mengambil keputusan sebelumnya. Ini pasti akan memancing kemarahan besar dan abah pasti akan tetap memaksa Zahra untuk menikah dengan pria asing pilihan abah. Nggak akan ada yang bisa menolak hal itu kecuali Zahra pergi.
Maaf maaf maaf.
__ADS_1
Zahra.
.
Mata Aiza masih membelalak, ia lalu berlari keluar, berpapasan dengan Qanita di pintu. Ia menyerahkan surat itu pada Qanita.
Sontak saja Qanita terkejut bukan main seusai membaca isinya. Tubuh Qanita lemas. Namun ia tetap terlihat tegar, berjalan menuju ke ruangan depan, menampilkan senyum dan memanggil Ismail supaya ke belakang sebentar.
"Mas, ada hal penting. Ayo, kita ke belakang sebentar!" bisik Qanita yang duduk di sisi suaminya.
Mendengar itu, Ismail pun mengangguk dengan dahi bertaut menunjukkan rasa penasaran. Ismail berpamitan pada tamu untuk ke belakang sebentar sambil mempersilahkan para tamu untuk menyantap hidangan.
"Ada apa? Ada penting apa ini?" tanya Ismail saat sudah berada di ruangan belakang.
"Zahra kabur," lirih Qanita dengan mata gusar sambil menyerahkan surat.
Ismail terkejut. Lalu membaca surat itu.
Bersambung
__ADS_1