
“Aku tahu kamu dan teman- teman kamu itu sama aja, nggak beradab!” ketus Aiza pada Akhmar meski ia merasa dibela saat ini. “Jadilah manusia beradab! Karena kebalikan dari beradab itu adalah biadab!”
Aiza menerobos melewati sisi kanan Akhmar saat melihat ada celah. Ia berlari menjauh. Namun rok panjangnya membuat langkahnya begitu ribet. Ia sampai tidak menyadari buku pinjamannya yang sejak tadi ditenteng di tangan, lolos dari pegangannya dan terjatuh.
Akhmar terkejut. Mukanya yang bengis mendadak memerah, emosi. Kok, dia malah dikata- katain? Sialan Aiza! Setengah hati emosi, namun setengah hati lainnya seperti takluk.
Atep meraih buku yang terjatuh dan membolak-balikkannya dengan dahi berkerut.
Dalam hati, Akhmar mengumpat- ngumpat.
Aiza lega melihat ada angkot melintas dan langsung menyetopnya. Angkot berhenti tepat di hadapan Aiza. Aiza langsung menelusup naik dan duduk di jok melepas napas lega.
Angkot melaju.
“Huuuft… Akhirnya lepas juga dari manusia tengik,” lirih Aiza sembari menyandarkan kepala.
__ADS_1
Detik berikutnya mata Aiza membelalak merasakan hentakan kuat di jok sampingnya. Ada yang duduk di sana. Mata Aiza melirik ke samping menatap celana jeans yang lututnya sedikit robek, tak lain penumpang yang baru saja duduk di sisinya sebelum akhirnya ia menatap mata gelap Akhmar yang sudah berada sangat dekat dengan wajahnya.
Lagi-lagi Aiza membuang muka. Aiza ingin pindah tempat duduk. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh kursi, sayangnya semua kursi penuh.
Dalam hati Aiza berdoa, semoga cowok di sampingnya itu berubah menjadi batu, kayak cerita orang tentang Malin Kundang. Aiza membuka mata setelah beberapa detik memejamkannya. Sepertinya doanya ketika terpejam tadi tidak terkabul, lelaki di sampingnya masih cengengesan saat ia membuka mata.
“Aku duduk di sini bukan untuk menggombalimu, aku hanya mau peringatkan bahwa kamu bakalan jauh dari jodoh dan menjadi perawan tua atas sikapmu yang zalim pada laki- laki.” Suara akhmr terdengar sedikit mengancam.
Cih, amit- amit ngomongin jodoh. Jangan sampai punya jodoh begajulan kayak pria di sisinya itu, ya Allah! Dasar cowok nggak punya etika, di depan banyak orang begini berani-beraninya ngobrol sama perempuan. Aiza membatin muak sembari memalingkan wajah.
Aiza tidak bisa menggeser posisi duduknya karena sudah sangat menempel dengan sosok wanita paruh baya di sebelahnya. Ia mendengus sebal dan mukanya memerah malu saat mendapati semua mata di dalam angkot itu memandanginya. Dikira ia cewek apaan dipepetin cowok begitu? Aiza panik.
“Aku baru kali ini bertemu cewek sombong dan angkuh!”
“Bisa diem, gak!” gertak Aiza dengan suara direndahkan supaya tidak didengar oleh semua orang. Namun suaranya tetap terdengar oleh semuanya, membuat sejurus pandangan mengarah pada Aiza.
__ADS_1
“Jangan digangguin anak gadis orang, Bang. Kasian tuh mukanya udah sebel bener kayak pengen muntah gitu,” celetuk seorang Bapak.
Sialan! Hampir saja Akhmar mengumpati Bapak yang berkomentar itu. Namun urung. Entah kenapa ia tak mau menunjukkan sikap temperamental saat itu.
“Kami pacaran,” sebut Akhmar sekenanya.
“Ooo... Gitu. Pacarnya serius banget kayaknya? Ngambeknya beneran itu.”
“Ya udah, beliin apa gitu. Entar ngambeknya pasti hilang.”
“Biasanya cewek paling suka sama bunga, kasih bunga saja.”
“Saya mah pas pacaran dulu, sukanya dicium buat ngilangin ngambek,” celetuk Ibu yang duduk di samping Aiza.
Bersambung
__ADS_1