Terjerat Pesona Preman Insaf

Terjerat Pesona Preman Insaf
54. Memulai


__ADS_3

Menatap sosok wanita berkerudung panjang.  Pandangannya heran menatap penampilan pemuda di hadapannya.  Biasanya orang- orang yang muncul di rumah itu adalah orang- orang yang berpenampilan khas religious, tapi pemuda di hadapannya itu terlihat berbeda.  Rambut semi gondrong, pakai kalung, celana jeans, dan kaos bergambar tengkorak.  Manusia dari mana itu?


Meski menatap heran, namun wanita berusia empat puluh tujuh tahun itu tetap melempar senyum.


Akhmar balas melempar senyum kikuk.  Ia yakin wanita di hadapannya itu adalah ibunya Aiza.  Dan entah kenapa ia jadi kikuk dan segan menghadapi ibunya Aiza. “Saya Akhmar.”


“Di sini cari siapa ya?”


“Saya tadi mau… Oh ya, saya permisi, Bu.  Ada urusan.”  Akhmar yang bingung, memilih untuk kabur saja.  Meninggalkan Qanita yang terpaku dengan dahi bertaut.


Akhmar tidak langsung pulang.  Dia mencari rumah Adnan.  Konon katanya, Adnan dan Aiza tetanggaan.  Artinya rumah mereka berdekatan.  Akhmar mendapati sebuah rumah yang tak kalah besar dari rumah milik Aiza, terdiri dari tiga lantai dan dari luar pagar terlihat mencolok dari pada rumah yang lainnya. Ternyata Adnan juga berasal dari kalangan berada.


Akhmar mendekati rumah itu.  Ia melihat Adnan yang melintas dari samping rumah menuju ke depan, hendak masuk melalui pintu depan.  Pria itu urung masuk ke rumah saat menyadari keberadaan Akhmar.  Ia balik badan, menatap ke arah Akhmar.


“Akhmar, lebih baik sekalian ikut belajar mengaji dengan Aiza," ucap Adnan membuat langkah kaki Akhmar terhenti.


Akhmar menoleh. "Aneh, lo keliatannya suka sama Aiza, tapi kenapa lo kasih jalan lapang buat gue bisa dekat sama dia?"


"Selapang apa pun jalan yang gue kasih ke lo buat deketin dia, kalau dia itu jodoh gue, maka dia pasti akan jadi milik gue. Sebaliknya, sekuat apa pun gue persempit kedekatan Aiza dengan cowok lain, kalau dia bukan jodoh gue, maka dia nggak akan bisa jadi milik gue. Jodoh diatur Tuhan."


Akhmar menarik tipis sudut bibirnya. Kemudian ia melangkah pergi.


Sesampainya di rumah, Akhmar entah kenapa mengintip sosial media milik Aiza.  Dan ia menemukan kata- kata yang tertulis di postingan gadis itu.


'Dan mintalah pertolongan melalui sabar dan salat.'


'Allah tahu apa yang terbaik buat kamu dan kapan waktu yang tepat untuk kamu memilikinya.'


'Hanya karena sesuatu tidak terjadi untukmu saat ini, bukan berarti itu tidak akan pernah terjadi.'

__ADS_1


'Kenapa ujian itu berat menimpamu? Karena Allah memberikan pertempuran paling berat kepada tentara terkuat-Nya.'


Akhmar masih scroll terus ke bawah untuk membaca unggahan gadis itu di instagram. Selalu ada kata mutiara bernuansa islami di unggahan itu, dengan foto indah yang hanya menunjukkan tangan, hijab bagian belakang, dan sepenggal bagian tubuh tertutup yang tidak terlihat keseluruhannya.


'Barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya.'


'Allah memberikanmu kepahitan dunia supaya kamu dapat menghargai manisnya iman.'


Tak hanya foto yang disertai kata- kata mutiara saja yang diunggah gadis itu.


Juga didapati video menyentuh kalbu, video yang menunjukkan betapa Aiza sangat mencintai Ibunya.


Tampak Aiza tengah makan bersama teman- temannya di meja makan, ia menyantap sepotong ayam kentaki, yang ternyata hanya tinggal satu, sebab setelah dia mengambil potongan ayam, itulah ayam terakhir di piring. 


Dan saat ibunya datang lalu mengatakan ingin duduk bersama dengan teman- temannya Aiza untuk menyantap kentaki, Aiza pun mengembalikan kentaki tersebut lalu menyerahkannya kepada sang ibu.


Next, ada pula video Aiza sedang berada di pasar bersama ibunya. Ia mengambil alih barang belanjaan di tangan ibunya yang dipenuhi dengan sayur mayur, tak ingin ibunya kelelahan membawa barang- barang berat.


Ada pula momen dimana Aiza mengajak ibu dan Zahra makan di warung makan, lalu seorang pelayan memberikan kejutan kue spesial untuk ibunya Aiza, katanya kejutan khusus ibu. Aiza dan Zahra sontak memeluk Qanita penuh haru. Orang lain sanggup memberikan kejutan dan hadiah menarik untuk sang ibu, namun Aiza tak pernah melakukan itu. Di sanalah letak keharuannya.


"Aiza mencintai umi," ucap Aiza lembut.


Kemudian Aiza memberikan tulisan di setiap video yang dia unggah, baik berupa tulisan berjalan, juga tulisan yang sekilas tampak di video, semuanya menarik.


'Kasih sayang ibu sepanjang masa, Kasih Sayang Anak Sepanjang Galah'. 


Kata- kata itu memiliki makna yang dalam, bahwa sayangnya seorang ibu bersifat selamanya. Sedangkan kasih sayang anak untuk orang tua memiliki batasan. Seringkali seorang anak tidak peduli dan bertindak egois, bahkan jarang untuk menanyakan kabar si ibu. Apalagi jika anak mempunyai kesibukan yang padat, bisa dipastikan hanya sekedar menelepon atau duduk bersama sang ibu lima belas menit saja tidak menyanggupi.


Hal- hal yang kecil sarat dengan kasih sayang ini sering diabaikan. Saking abainya tidak menjadi prioritas terpenting dalam berkehidupan.

__ADS_1


Kapan terakhir kali bertukar kabar dengan ibu, terakhir apa yang dibicarakan bersama ibu? 


Jika Anda tidak menemukan jawabannya berarti sudah lama tidak membuka obrolan dengan ibu. Sebenarnya ibu tidak membutuhkan berapa materi yang Anda berikan, yang terpenting Anda dalam keadaan sehat dan selalu terlindungi. 


Dulu kecil, ibu tanpa lelah mengajak Anda bercanda, tertawa lepas padahal letih setelah bekerja. Meskipun penat namun tetap berusaha untuk menghibur, tidak membiarkan Anda kesepian sendiri. 


Kini, tidak perlu tertawa puas setelah keluar dari mall, cukup minum teh bersama sambil menceritakan masa kecil pun sudah cukup. Tidak perlu mewah untuk memiliki kebahagiaan yang nyata. Selagi bersama ibu hal-hal kecil pun terasa menyenangkan.


Sekali lagi, Anda telah melewatkan hal kecil yang diabaikan. 


Mengatakan kalimat “Aku mencintaimu, ibu” adalah menjadi hal yang menyentuh bagi ibu. Belajar banyak memaknai hidup. Kehidupan yang selalu ibu ajarkan tidak akan kita bisa beli bahkan dengan uang satu triliun. Bentuk kasih sayang yang tidak tahu dengan apa kita bisa menggantinya.


Akhmar terdiam. Ha pe di tangannya terlepas. Ia merebahkan tubuh dengan posisi menelentang. Kata- kata Aiza mengusik pikirannya hingga tiba- tiba ia teringat ayahnya. Sosok pria yang menjadi ayah sekaligus ibu untuknya. Sebab sejak ibunya meninggal di usianya yang masih bayi, ayahnya sudah mengerjakan semua pekerjaan seorang ibu. Baik membuatkan susu, menidurkan, mengajak main, juga menggendong dengan kain sambil bekerja pun pernah dilakukan.


Akhmar membuang napas berat. Kenapa efek dari kalimat yang disampaikan Aiza melalui unggahannya itu benar- benar terpatri di benaknya? 


Akhmar memejamkan mata.


Dan soal Vito… Tak ada kabar pengejaran polisi, atau pun tiba- tiba dilakukan penjemputan di kontrakannya itu untuk diseret ke dalam sel.  Dia masih aman sampai sekarang.


Akhmar menggelengkan kepala mengingat Vito.  Apa kabar Vito?  Apakah di alam kubur itu gelap?


Akhmar kembali menggelengkan kepala.  Kenapa malah jadi kepikiran kuburan?  Ia mengusap kulitnya yang meremang.


Lalu ia meraih smartphone dan memutar murotal untuk mendengarkan surat Al Fajr.  Mulailah ia menghafal surat tersebut.


***


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2