
Lampu- lampu yang menyala menambah kesan indah.
Aiza diajak mengobrol oleh Jihan, tantenya Akhmar sepanjang berjalan menuju ke kolam.
“Kamu cantik sekali,” puji Jihan dengan senyum saat menatap wajah Aiza.
“Alhamdulillah.” Aiza kikuk.
"Secara ilmu dan agama, kamu itu gadis yang tepat untuk Aldan. Aldan itu pria yang baik, pekerja keras, tekun, dan soleh. Walau pun kalian belum saling kenal, tapi tante yakin kalian pasti akan cocok." Jihan bersemangat.
Tak begitu mendengar perkataan Jihan, perhatian Aiza malah sibuk mengawasi seisi rumah. Semuanya mewah. Kolam renang luas dikelilingi meja yang sajian di atasnya menggiurkan. Lezat.
Ada berbagai macam menu makanan, buah- buahan, juga minuman.
Akhmar berasal dari keturunan berada, namun pria itu seperti tidak menikmati itu karena lebih terkesan haus akan kasih sayang.
Dan… sekarang dimana Akhmar? Pria itu tidak kelihatan. Batang hidungnya tidak muncul sejak tadi.
Semua orang tampak asik menyantap ringan dalam posisi berdiri. Demikian juga Jihan yang langsung menghampiri anaknya, mengatur bocah laki- laki berumur empat tahun supaya tidak berlarian ke sana kemari.
Aiza menghampiri salah satu meja, menatap buah anggur, lalu mengambil satu dan mengunyahnya.
__ADS_1
Lagi- lagi pandangan Aiza berkeliling, mencari Akhmar. Sebelum urusannya dengan Akhmar kelar, pikirannya tak henti mengupas tentang Akhmar.
Tunggu dulu, apakah abah tau kalau Pak Adam memiliki dua anak laki- laki. Satunya Aldan dan satunya lagi Akhmar. Lalu bagaimana reaksi abah saat tau bahwa Akhmar adalah calon dari bagian keluarganya? Pikir Aiza.
Beberapa tahun silam, nama Akhmar tercatat sebagai pria begudalan, begajulan, preman dan satu lagi, laknat. Itu kata- kata umpatan yang kerap dilontarkan oleh Ismail.
"Assalamualaikum."
Aiza terkejut dan menoleh. Ia mendapati Aldan yang sudah berdiri di sisinya. Atoma wangi berputar di sekelilingnya.
"Waalaikumsalam," jawab Aiza.
Wajah Aldan masih sama seperti tadi, berseri- seri bak insan sedang kasmaran.
"Iya Mas, ini lagi menikmati buah anggur." Aiza mengangkat salah satu buah yang dia pegang.
Pandangan Aldan tertuju ke arah buah yang ada di tangan Aiza lalu tersenyum. "Itu strawbery."
Aiza sontak terkejut dan menatap buah di tangannya ia mengulum senyum. Ia menatap buah di tangannya dan berbisik kesal, "Antum gimana sih, yang nyelinap strawbery kok ngakunya anggur."
Aiza kembali meletakkan strawbery ke tempat semula.
__ADS_1
"Baik, mari kita duduk. Kita makan bersama." Adam mempersilakan para tamunya. Ia menarik kursi dan duduk.
Demikian juga yang lain, memilih duduk di kursi terdekat.
"Yuk, ke meja tempat hidangan menu makan malam," ajak Aldan.
Aiza melangkah menuju meja dimana seluruh orang sudah duduk mengelilinginya. Ia menyusul duduk ke salah satu kursi, yang tanpa diduga, Aldan pun duduk di kursi sebelah Aiza. Mereka bertukar pandang. Aldan melempar senyum, sedangkan Aiza tampak kikuk. Serba salah.
"Alhamdulillah... Keluarga saya yang sebentar lagi akan menjadi bagian dari keluarga bapak kyai, bisa mengadakan makan bersama begini untuk bersilaturahmi. Semoga kegiatan ini akan mengikat tali silaturahmi menjadi semakin baik," ucap Adam dengan suara bariton. "Silakan Bapak kyai untuk memulai doa."
"Baik. Terima kasih Pak Adam. Alhamdulillah, Allah sudah memberikan waktu yang baik ini untuk kita bisa bersilaturahmi." Ismail berbicara dengan gayanya yang menjaga wibawa. Ia lalu mengucap basmallah dan dilanjutkan dengan doa.
Hening.
Situasi sangat hening saat doa dipanjatkan. Seluruhnya mengaminkan setelah doa selesai dibaca.
Suasana masih hening ketika sosok pria datang, langkah sepatunya yang beradu dengan lantai membuat sejurus pandangan tertuju ke arahnya. Pria dengan rambut yang disisir rapi dengan polesan minyak rambut, kaos cokelat serta celana hitam itu melangkah gontai menuju ke meja yang menjadi kerumunan. Tak lain Akhmar.
Pria itu meraih salah satu kursi yang masih kosong dan duduk di sana. Tepat berhadapan dengan kursi Aiza.
Ya Allah... Itu Akhmar. Entah kenapa perasaan Aiza bahagia melihat kehadiran Akhmar, pria berwajah putih bersih itu. Namun detik berikutnya, perasaan itu tersingkir oleh rasa gundah saat ia menyadari ada Aldan di sisinya.
__ADS_1
Bersambung