Terjerat Pesona Preman Insaf

Terjerat Pesona Preman Insaf
08. Mengharukan


__ADS_3

Aiza membelalak kaget melihat kondisi motornya yang masih dalam keadaan sama seperti ketika terakhir kali ia melihatnya. Hancur. Sudah sepuluh hari semenjak kejadian mencekam itu berlalu, tapi si motor butut masih dalam keadaan bobrok begini tanpa disentuh oleh mekanik bengkel. 


Kaki Aiza kini sudah membaik.  Ia bisa berjalan ke sana kemari, mengambil makan sendiri, berjalan ke kamar mandi pun sendiri.  tidak seperti dulu yang selalu dipapah oleh kakaknya.  Bahkan shalat pun dilakukan dengan posisi duduk.


Sampailah sekarang ia berada di bengkel.


"Ini motorku kok masih ngejogrok begini bentuknya, belum diperbaiki, Kang?" tanya Aiza.


"Biaya perbaikannya dua juta delapan ratus ribu, bisa lebih juga," ucap kang bengkel sambil mengawasi motor milik Aiza yang sudah bobrok. 


"Ya ampun, Kang? Mahal amat?"


"Ya nama juga banyak yang diganti. Motor udah tua begini, Neng. Mana hancur lagi. Makanya nggak berani baikin sebelum ketemu pemiliknya, soalnya mahal."


Kenapa mahalan biaya perbaikannya ketimbang harga jual motornya? Itu motor butut warisan kakek nggak akan laku dijual dengan harga dua juta lima ratus ribu. Dan biaya perbaikan malah melebihi harga jual. Hadeeh..

__ADS_1


"Ya udahlah, Akang beli aja itu motornya, laku berapa?" tanya Aiza.


"Satu juta dua ratus ribu."


Hah? Biaya perbaikan dua juta delapan ratus ribu, harga motor cuma satu juta dua ratus ribu? Gileee.


"Dua juta dong, Kang," bujuk Aiza.


"Nggak bisa. Kalau mau, kubayar segitu, kalau nggak mau ya udah." Kang bengkel berjalan menjauh, mulai memperbaiki motor lainnya.


Transaksi pun terjadi.


Semenjak itu, Aiza pulang dan pergi ke sekolah naik angkot.


***

__ADS_1


Pagi itu, Aiza masih duduk di atas sajadah usai melaksanakan rutinitas ibadah shalat subuh.  Mukena warna putih dengan renda pink di sekitar wajah membuat mukanya yang bulat semakin cantik mempesona.  Mukena yang sudah lima tahun tidak pernah ganti, warna tidak lagi seputih dulu.  Sudah agak using karena terlalu sering dipakai.  Dia memiliki tiga mukena, tapi mukena itulah yang paling dia sukai.  Sebab itu adalah mukena hadiah dari sang ibu saat dia juara satu lomba hafis Qur’an.


Sekilas pandangan Aiza tertuju ke arah jaket yang tergantung di dinding.  Itu adalah jaket milik pria asing itu.  


Pandangan Aiza berpaling dari jaket.  Di tangannya memegang handphone.  Awalnya ia membaca Al Qur’an yang ditampilkan oleh aplikasi.  Tapi aplikasi Al Qur’an sudah ditutup dan beralih ke yang lain.


Manik mata berwarna biru bergerak mengikuti sederet tulisan yang berjejer rapi di smartphone dalam genggamannya, membaca kabar berita di salah satu laman.


Biasanya pemberitaan banyak mengabarkan tentang anak kandung menuntut ibu di pengadilan hanya karena uang, hibah tanah, dan harta.  Tapi di Arab Saudi, dua kakak beradik ke pengadilan hanya untuk berebut hak pengasuhan ibu kandungnya.  


“Ya Allah…”  Bibir merah Aiza tersenyum seusai membaca kalimat itu.  jempolnya menekan tombol video dan melihat rekaman seorang pria menangis di pengadilan hingga air matanya membasahi jenggot.  Ia kalah berkenaan hak perawatan ibunya yang sudah tua.


Mata Aiza mulai berembun, terharu.  Masih ada anak yang baktinya sampai semengharukan itu.  Dimana kebanyakan orang memprioritaskan harta, tapi orang itu memprioritaskan ibu.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2