Terjerat Pesona Preman Insaf

Terjerat Pesona Preman Insaf
23. Sewot


__ADS_3

Pandangan Aiza kembali tertuju ke arah Akhmar yang masih terlihat santai meski dokter tampak menarik- narik jarum dari tangan pria itu.


“Lain kali, nggak usah kepo dengan urusan orang lain ya!” ucap Aiza.


Akhmar hanya memutar mata, tak peduli dengan kekesalan Aiza.


“Kamu itu laki- laki, nggak pantas melihat aurat perempuan,” sambung Aiza yang disambut dengan seulas senyuman oleh dokter yang menjahit luka di tangan Akhmar.


“Yaaa… Suapaya halal dilihat, dihalalin saja!” ucap dokter asal nyeplos, mengira Akhmar dan Aiza sudah saling kenal dekat.


Tidak.  Mereka tidak kenal dekat.  Mereka hanya pernah terlibat pada sebuah masalah yang membuat keduanya menjadi saling kenal.


Aiza melengos pergi, melangkah di koridor menuju ke meja administrasi untuk segera membayar biayanya.


“Aiza, kamu nggak apa- apa?” Adnan, pria berkaca mata mendekati Aiza.  Dia adalah tetangganya Aiza.  Sosok yang dikenal kutu buku.  Rajin membaca.


“Nggak apa- apa,” jawab Aiza dengan seulas senyum.  Ia merasa baik- baik saja.


“Aku tadi juga ada di masjid Nurul Huda, tapi aku sedang ke toilet saat kejadian berlangsung, jadi aku nggak melihat semuanya.  Kata mereka, kamu dibawa ke rumah sakit, aku nyusul ke sini.”


“Aku nggak apa- apa, kok.”  Aiza menunjukkan kalau ia baik- baik saja.

__ADS_1


“Syukurlah.”  Adnan tampak lega.


Aiza menoleh ke belakang saat merasakan punggungnya disenggol oleh seseorang hingga tubuh mungilnya terhuyung ke depan.  Ia terkejut melihat Akhmar berdiri di belakangnya, pria itu bahkan tampak tak peduli, dia tengah mengeluarkan dompet untuk membayar biaya administrasinya.


“Kamu nggak mau minta maaf?” tanya Aiza menatap Akhmar.


Pria itu menoleh ke arah Aiza.  Alisnya terangkat seperti tak berdosa.


“Kamu udah nyenggol aku!” ucap Aiza.


“Oh.. kena ya?”  Masih saja ia seperti tak bersalah.


Apakah Akhmar tidak merasakan senggolan sekuat itu?  Ataukah dia sudah mati rasa sampai- sampai tidak merasakan sentuhan?  Parah.  Aiza tak mau menjawab.  Lebih baik membungkam. 


Ditunjuk oleh Akhmar, Adnan mengangkat alis.  “Aku?”


“Iya.”


“Adnan.  Kenapa?”  Adnan balik tanya.


Akhmar mendekati Adnan, merangkul pundak pria itu dan berkata, “Jagain pacarmu!  Jangan sampai kecelakaan lagi.  Jadi laki harus respek,” ucap Akhmar kemudian menepuk pundak Adnan.  Melirik Aiza dan melenggang pergi.

__ADS_1


Dih… Siapa juga yang pacaran dengan Adnan?  Kehidupan Aiza jauh dari kata pacaran.  Kenal sama laki- laki pun jarang.  


“Nan, aku duluan!” pamit Aiza kemudian melangkah melewati Adnan setelah pria itu menganggukkan kepala.


Aiza melangkah keluar rumah sakit, tiba- tiba ia dikejutkan oleh sebuah motor yang melaju kencang ke arahnya, dan tiba- tiba menyerempetnya.  Tubuh Aiza terjatuh.  Si penyerempet itu tampak berusaha banting setir ke kanan untuk mengalihkan motornya, berusaha menghindari kecelakaan, namun kejadian itu begitu cepat hingga sulit dihindari.


Akhmar.  Ya, Pria itu lagi.  dia menegakkan motornya yang tumbang.  Lalu menghampiri Aiza.


“Ayo, kubantu!”  Akhmar menjulurkan tangannya.


Ya Allah, pria ini lagi?  Kenapa mereka bertemu terus?  Aiza membatin heran.


Merasa tak mendapat respon, Akhmar meraih lengan Aiza.


“Nggak usah!  Aku bisa sendiri!” ucap Aiza kemudian bangkit berdiri dengan tubuh terhuyung- huyung karena kakinya sakit.  Baru saja ia tertimpa botol dan serpihan kaca lampu, sekarang malah diserempet begini.  Ada- ada saja.


Ekspresi wajah Akhmar tampak tak bersahabat.  “Kamu memang keras kepala.  Selalu menganggap dirimu kuat.”  Ia geleng- geleng kepala melihat Aiza yang menolak bantuannya.


“Tunggu.  Sebenarnya ini sekarang aku yang salah atau kamu ya?  kok, malah kamu yang sewot sama aku?” tanya Aiza dengan tenang.


Akhmar menghela napas.  

__ADS_1


 


Bersambung


__ADS_2