
“Aiza!” lirih Akhmar menatap gadis itu.
“Ooh… Ini pacar elu?” ucap salah seorang pemuda sambil menunjuk- nunjuk Aiza. “Sikat gaes!” Ia memerintah anak buahnya supaya mengejar Aiza.
Membaca situasi yang tak baik, Akhmar langsung menarik lengan Aiza dan mengajaknya kabur dari sana. Jumlah lawan ada delapan orang, dan Akhmar tadi sudah berhasil melumpuhkan tiga lawannya.
Namun karena mereka berbalik berniat hendak menyerang Aiza, maka Akhmar memilih untuk mengajak gadis itu kabur saja. Resiko yang dihadapi akan jauh berat saat para pemuda yang sedang naik darah itu membabat Aiza.
“Kok, malah aku yang jadi sasaran?” Aiza bingung, terengah berlari bersama dengan Akhmar.
Akhmar tak mau banyak bicara, hanya menoleh sekilas ke wajah Aiza sambil terus berlari. Sesekali ia menabrak pengunjung di pasar itu, tanpa sengaja menyenggol meja hingga membuat barang- barang berantakan. Teriakan membahana. Gaduh sekali.
Para pemuda di belakang tak putus asa untuk mengejar.
Akhmar berbelok, memasuki keramaian yang paling padat. Lalu keluar dan melompati pagar. Untungnya pagar hanya setinggi paha, jadi Aiza bisa ikut melompatinya.
Kini mereka berada di area parkiran. Ada beberapa deret mobil di sekitar sana.
Akhmar naik ke mobil pick up. Bagian bak belakang yang terbuka membuatnya dengan mudah menyelinap dan menunduk di sana. Tepatnya diantara tumpukan barang yang entah barang apa saja. Ia mengangkat kepala saat menyadari tidak ada siapa pun di sisinya, seharusnya Aiza menyusulnya naik.
“Buruan, naik!” seru Akhmar menunjuk bak mobil di sisinya.
“Ngapain?” Aiza masih berdiri di posisinya.
“Sembunyi. Dari pada dianu- anuin sama mereka, mau?”
Aiza membelalak. Perkataan Akhmar seperti ancaman baginya. Ia lalu ikut naik dan meringkuk di antara tumpukan barang yang dibungkus karung dan kardus.
Tak lama kemudian terdengar suara gadus di dekat mobil itu. Tak lain para pemuda yang sejak tadi mengejar.
__ADS_1
“Bangs*t! kabur kemana mereka?”
“Kalau gue temukan mereka, gue bakalan tusuk pake pisau.” Salah seorang mengeluarkan pisau tajam.
“Beraninya dia ninju gue. Bener- bener minta dibejek- bejek. Sumpah, pingin mati tuh orang.”
Seorang Bapak memasuki mobil, duduk di bagian kemudi. Lalu menyalakan mesin mobil pick up. Mobil bergerak keluar dari parkiran menuju ke jalan raya. Mobil melesat sangat kencang mengingat jalanan tidak begitu padat.
Aiza bangkit duduk.
Akhmar malah di posisi berbaring sekarang, pokoknya pe we.
“Mar, ayo turun!”
Akhmar hanya mengangkat alis.
“Buruan suruh supirnya berhentiin mobilnya!” titah Aiza.
“Pak, tolong berhentiin mobilnya, Pak!” seru Akhmar.
Tak ada respon.
Mereka tidak tahu kalau supir menggunakan handset yang dipasang di telinga, ia asik mendengarkan lagu. Mana mungkin ia bisa mendengar suara Akhmar.
“Pak! Berentiin mobilnya!” Akhmar menepuk badan mobil.
Tetap tak ada pengaruh apa pun. Mobil terus melaju dengan kecepatan tinggi.
Akhmar menoleh ke arah Aiza sambil mengedikkan pundak dengan santainya. Menginformasikan bahwa hasil usahanya nihil.
__ADS_1
Aiza mendengus. Ia lalu menepuk- nepuk pintu mobil sambil berteriak, “Pak, berentiin mobilnya! Pak berentiin dong! Ayolah pak berentiin mobilnya!”
Tak lama kemudian mobil pun berhenti. Supir turun dan menatap kesal pada dua makhluk yang ada di bak mobilnya.
“Hei hei… Kalian siapa? Ini nih definisi numpang gratis.” Pemilik mobil pick up menggedor bak mobilnya.
“Maaf, Pak. Bukannya numpang gratis, tapi tersesat Pak.” Aiza merasa tak enak hati.
“Turun! Enak aja ngejogrok sembarangan! Ini mobil belinya pake uang!” kesal si Bapak sambil kembali memukul bak mobil.
“Mobil lo ini bisa gue beli!” geram Akhmar menatap tajam si bapak.
“Akhmar, psst!” Aiza mengisyaratkan supaya jangan balas marah. “Iya, Pak. Ini kami turun.” Aiza melompat turun setelah membuka pintu bak.
Akhmar juga turun.
“Belagu! Bilangnya bisa beli mobil gua. Tapi cari tumpangan gratisan begini!” Bapak itu tampak kesal sekali.
Akhmar menatap si bapak, lalu mendekatinya. Dengan tenang dan mata yang menatap tajam, Akhmar berkata, “Tangan gue biasanya bisa bikin orang langsung masuk rumah sakit. Mau yang mana? Kiri apa kanan? Kiri langsung ke rumah sakit, kanan langsung ke liang lahat.” Akhmar menunjukkan dua kepalan tangannya.
Menatap mata elang Akhmar, ditambah bisikannya yang terkesan mengancam, si bapak terdiam, tak berkutik.
“Akhmar!” Aiza memberi isyarat dengan gelengan kepala supaya akhmar tidak berbuat macam- macam.
Akhmar meninggalkan bapak itu, mengiringi Aiza menyusuri jalan yang sepi.
“Gimana caranya kita pulang?” ucap Aiza. Setidaknya ia merasa aman dan tenang berada di sisi Akhmar. Pria itu memberikan kedamaian, andai saja ada begal, perampok atau apa pun kejahatan malam sejenisnya, maka Akhmar pasti akan pasang badan.
“Cari taksi online.” Akhmar menyeletuk santai.
__ADS_1
Bersambung