Terjerat Pesona Preman Insaf

Terjerat Pesona Preman Insaf
128. Mengungkap Tentang Bajul


__ADS_3

"Lain kali hati- hati. Pisaunya kan tajam," ucap Aiza.


Tak ada balasan apa pun dari Akhmar. Pria itu tetap diam. 


Aiza mengangkat wajah, menatap wajah tampan nan bersih yang berada sangat dekat di hadapannya. 


"Akhmar, ada hal penting yang ingin aku sampaikan, tentang Bajul." Aiza menutup botol betadin dan memasukkannya kembali ke kotak.


Akhmar menarik tangannya yang terluka. Ia mengernyit.


"Sebenarnya ini nggak cocok aku sampaikan di sini, tapi aku merasa nggak punya waktu banyak untuk bicara denganmu. Nggak baik kalau disimpan terus." Aiza menghela napas. "Bajul bicara banyak padaku beberapa jam sebelum dia pergi ke luar negeri. 


Akhmar menatap Aiza tanpa bersuara. 


"Bajul bilang, aku diminta menyampaikan ke kamu karena dia takut kamu marah seandainya dia menyampaikan secara langsung ke kamu." Aiza ingin melihat respon Akhmar, setidaknya menanyakan sesuatu tentang Bajul, namun sampai detik ini Akhmar tetap diam.

__ADS_1


Tak mau buang waktu, Aiza pun melanjutkan, "Sebenarnya sumber kemarahanmu beberapa tahun silam bukanlah Vito. Orang yang mengadukan kamu ke pak Rt kalau kamu dan geng kamu itu memakai barang haram adalah Bajul, orang yang mengadu kalau kamu sering bawa cewek ke kos an Mang Usup adalah Bajul."


Raut terkejut pun langsung mencuat ke wajah Akhmar. Keningnya mengernyit dan kulit wajahnya yang putih pun memerah.


"Aku harap kamu jangan marah. Bajul memiliki alasan untuk itu," bisik Aiza dengan lembut.


Wajah Akhmar masih terlihat merah dengan sorot mata yang tajam.


"Setiap orang memiliki cara untuk mewujudkan tujuannya. Dan tujuan Bajul adalah ingin membuat kamu hijrah pada yang baik. Ketika kamu mendapat hukuman atas kesalahanmu, Bajul beranggapan bahwa itu akan membuat kamu jera. Tapi ternyata dia salah, hal itu justru memancing emosi kamu, bahkan malah mengundang kesalahpahaman yang berujung fatal." Aiza pun tak kuasa menahan sesak saat membayangkan kenyataan yang terjadi pada Vito karena menjadi korban salah sasaran.


"Aku paham, tapi semuanya udah terjadi."


"Lalu apa gunanya membahas ini, toh semuanya sudah berlalu. Pengakuan ini nggak akan mengubah kenyataan yang sudah terjadi." Akhmar menyentakkan kedua tangannya ke meja dapur.


"Tolong jangan limpahkan kesalahan ini kepada Bajul, ingatlah bahwa Bajul hanya menjadi pelapor saja, sedangkan orang yang melakukan penganiayaan itu adalah kamu. Kesalahan bukan di Bajul, ingat itu!" Aiza mengecam.

__ADS_1


Mendengar itu, Akhmar hanya mengusap wajah kasar.


"Aku ingin kamu meninggalkan semua yang buruk di masa lalu, hijrah pada yang baik," pinta Aiza. "Jadikan kasus Vito sebagai pelajaran."


"Sudah, jangan bahas ini lagi." Akhmar melirik jarinya, darah segar kembali merembes dari luka itu akibat gerakan tangannya saat menyentak ke meja.


"Darah itu keluar lagi." Aiza menarik tangan Akhmar dan mengangkatnya ke atas, lalu menambah ikatan kain di luka itu. "Kamu harus dibawa ke dokter. Lukamu harus dijahit."


Akhmar menggeleng.


"Luka itu cukup dalam," imbuh Aiza.


Akhmar hanya diam.


Melihat Akhmar yang dingin bak salju, Aiza pun berkata, "Akhmar, kenapa sikapmu berubah begini? Apakah kamu marah sama aku atau  kenapa?" tanya Aiza yang tak tahan melihat sikap Akhmar yang dingin bak es balok. "Aku nggak tau apa yang terjadi padamu selama kita berpisah. Terakhir kali kita masih berkomunikasi enam bulan silam, tepatnya saat aku masih di Kairo melalui via telepon. Semuanya masih baik- baik aja. Lalu kenapa sekarang begini? Aku udah jelasin semuanya ke kamu. Dan aku minta solusi sama kamu. Apakah aku perlu mundur dari perjodohan ini?"

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2