Terjerat Pesona Preman Insaf

Terjerat Pesona Preman Insaf
73. Tuduhan


__ADS_3

"Dasar Tua bangka!" Akhmar mengelus pipinya yang sakit bekas hantaman tangan Ismail. "Gila, tua tua begitu tapi kuat juga mukul."


Sementara Aiza, gadis itu menatap ke belakang saat mobil terus melaju membawanya pergi, dia lihat Akhmar duduk di tepi jalan ditemani rintik hujan. Dan saat Akhmar hilang dari pandangan, Aiza kembali menghadap ke depan.  Sekilas melirik wanita muda yang duduk di sisi ayahnya.  Entah kenapa ia muak sekali melihat wanita itu.  Istri muda yang ke empat alias mama muda untuk Aiza.  Usia mereka bahkan tidak beda jauh.


Terlintas di pikiran Aiza, kok wanita itu mau menjadi istri ke empat ayahnya?  Apa yang ada di pikiran wanita itu?  bukankah dia awalnya masih gadis?  Masih sangat muda?  Cantik lagi.  lalu kenapa mau dengan lelaki tua yang bahkan sudah memiliki tiga istri, dan dialah yang ke empat.  Ya ampun.  Apakah tidak terpikir olehnya akan menyakiti wanita lain?


“Kenapa bisa ada di sana bersama dengan laki- laki itu?” tanya Ismail dengan nada yang masih kesal, kesal mengenang Akhmar.  Napasnya bahkan masih tersengal.  Betapa ia muak dan murka pada pria itu.


“Akhmar tadi kecelakaan, jadi Aiza yang bawa motornya karena dia kesulitan nyeir motor.  Dan malah dikejar preman jalanan, trus ya sampai sana tadi.  Motor Akhmar dibakar, kami tadi sedang nungguin kendaraan umum yang melintas,” jawab Aiza dengan pandangan keluar, menatap rintik hujan yang mendarat di kaca mobil.


“Pantas saja.  Dia itu kriminal.  Wajar dikejar preman.  Dari situ saja sudah kelihatan bagaimana buruknya akhlak si Akhmar.  Manusia tidak beradab.”  Ismail menepuk bundaran setiran.


Aiza diam saja.  Di mata semua orang, Akhmar memang terlihat buruk, tak ada baiknya sama sekali.  Tapi setelah Aiza mengenalnya lebih dekat, Akhmar memiliki sisi baik juga.  Sama seperti manusia lainnya.  Kelihatannya memang sangar, namun nyatanya masih bisa diajak bicara baik- baik.  Iya, semua manusia memiliki sisi baik dan buruk.  


“Dia sudah melakuakn apa saja ke kamu?  Kamu diapain aja sama dia?  dia macem- macem?  Pegang- pegang kamu?  Atau apa?  Bilang!” ucap Ismail bertubi- tubi.


“Enggak.  Aiza nggak diapa- apain.”

__ADS_1


“Manusia otaknya kotor begitu pasti punya niat jelek.  Hidupnya saja kacau.  Begajulan. Berandalan.  Akhmar itu tidak punya akal sehat.  Kurang ajar!  Di awal pertemuan dengan abah, dia melempar sepatu ke kepala abah.”


Aiza terkejut.


“Pokoknya Akhmar itu manusia buruk!”  Ismail tampak sangat muak mengenang Akhmar.  “Berandalan begitu kok ya dikasih hidup.  Untung nggak mampus dikeroyok preman.”


Aiza diam saja mendengarkan ayahnya menggerutu.  Ia paham sekali bagaimana sikap ayahnya saat marah, ya mengomel gitu.  


Mobil terus melaju membelah kesunyian.  Namun kesunyian itu jadi hilang akibat suara Ismail yang tak henti- hentinya mengomel, mengata- ngatai Akhmar.


Di kiri dan kanan jalan, sudah mulai tampak perumahan warga.  Mereka memasuki wilayah perkotaan.


Hujan sudah reda.


“Mau beli minum dulu, dari tadi ngomong jadi haus.”  Ismail melepas sealt belt.  Ia menoleh ke arah Rumi, wanita muda di sisinya.  “Rumi, Mas mau beli minum, kamu mau minum apa?”


“Minuman itu loh Mas yang ada gambar beruangnya.  Apa itu ya?”  Suara Rumi terdengar manja sekali.

__ADS_1


Sebenarnya dia lebih pantas memanggil ‘abah’ ketimbang ‘mas’.  Aiza geli sendiri mendengar suara Rumi.  Entah itu karena ia sudah sejak awal tak menyukai pernikahan antara Rumi dan Ismail, atau memang karena suara Rumi yang mendesah dan menggelikan.


“Ooh… Susu beruang?” tanya Ismail.


“Iya, Mas.  Mas tau banget.  Sama itu loh Mas, makanan yang terbuat dari ubi dan rasanya pedes manis.  Kalau nggak salah itu makanan khas Padang.”  Suara Rumi terdengar semakin mendesah dan manja sekali.


Dih!  Amit- amit!  Aiza memalingkan pandangan, tak ingin melihat sikap Rumi yang mengusap- usap lembut lengan Ismail.  Kenapa Aiza sekesal ini, Ya Allah?  Salahkah Aiza?


“Itu keripik sanjai namanya,” ungkap Ismail.  


“Nah, iya itu maksudnya, Mas.  Makasih ya Mas.”  


Ismail turun.


Aiza menatap ke samping, mengamati pemandangan di luar.


Rumi menoleh, memposisikan duduknya sedikit menyamping hingga pandangannya bisa dengan jelas menatap wajah Aiza.  Ia lalu berkata, “Aiza, kamu kok bergaul sama preman begajulan begitu?  Dari penampilannya saja sudah kelihatan kalau dia itu manusia nggak bener.  Kalau bergaul pilih- pilih dong!  Jadi nggak sembarangan.  Dan… perempuan yang baik itu nggak keluyuran malam- malam begini, bahkan bisa sampai sejauh ini.  Kamu beneran nggak ngapai- ngapain sama laki- laki tadi kan?  Kehormatan wanita itu letaknya pada kesuciannya.”

__ADS_1


Crazy nih orang!  Maksud dari omongannya tuh menganggap kalau aku ini pacaran dan menyerahkan kehormatan ke Akhmar gitu? Berani banget ngomong begitu?  


Bersambung


__ADS_2