
Sementara Aiza yang dibawa bersembunyi di balik dinding, menyikut perut Akhmar dengan mata yang melotot, mata itu kian bulat. Disaat posisi melotot begini, wajah itu bukannya menakutkan, malah semakin imut seperti boneka berbie.
“Tenang, jangan teriak! Aku nggak akan menyakitimu. Aku ke sini bukan mau maling. Kalau aku mau jahat, udah sejak awal ketemu kamu, aku melakukan kejahatan itu!” bisik Akhmar berusaha menenangkan.
Sorot mata Aiza mulai tenang, tidak melotot lagi. Organ tubuh gadis itu juga tidak tegang lagi. Akhmar berpikir bahwa keadaan sudah aman, ia melepas tangannya dari mulut Aiza, juga melepaskan lingkaran tangannya dari tubuh gadis itu.
Aiza bersungut dan menjauh dengan muka cemberut. Menatap Akhmar dengan sorot tajam.
Lalu tiba- tiba Aiza berteriak, “Aaaaaaaa….”
Akhmar terkejut dan membelalak. Kenapa malah teriak sekeras itu? haduuuh… Akhmar pasrah. Ia memilih diam dan tak bergerak dari posisinya. Setelah ini, biarlah apa pun yang terjadi biar terjadi. Paling- paling ia bakalan dimaki- maki oleh orang tuanya Aiza dan diusir dengan tidak hormat.
Aiza menghambur keluar dari persembunyiannya, menemui Zahra.
“Ada apa, Za? Kenapa teriak- teriak?” Zahra menatap Aiza dengan raut panik.
Aiza melirik ke arah dinding dimana Akhmar bersembunyi, lalu menjawab, “Sapu tangan Aiza kotor!” Aiza memperlihatkan sapu tangan miliknya yang tercoret oleh sedikit noda.
Zahra sontak memperlihatkan raut malas sambil menepuk keningnya. “Iiiih… lo iseng banget sih? Malem- malem begini teriak- teriak sampe separah itu. nggak taunya Cuma gegara sapu tangan kotor. Nggak lucu tauk!”
“He heee…” Aiza nyengir.
“Ada apa ini?” Qanita, ibunya Aiza muncul dengan raut cemas.
“Tauk nih, Umi. Aiza nge prank doang.” Zahra mencubit pipi cubi adiknya gemas.
“Serius nggak ada apa- apa? Suara jeritan Aiza terdengar sampai dapur loh.” Qanita masih cemas.
__ADS_1
Aiza masih tersenyum. “Nggak ada apa- apa, Umi.” Aiza mengangkat dua jarinya lalu menghambur memeluk wanita berwajah cantik yang melahirkannya itu. “Maaf!”
“Oh…” Qanita mulai tenang.
“Lain kali jangan iseng. Bikin jantungan. Mana teriakan lo tadi sampe sehisteris itu, gimana semuanya nggak panik? Kirain lo kenapa- npa.” Zahra mengacak pucuk kepala Aiza yang dibalut kerudung.
“Iya, maaf.” Aiza tersenyum.
“Ya udah, umi mau balik ke dapur lihat oven. Kuenya mungkin udah mateng.” Qanita berlalu diikuti oleh Zahra.
Huuuh… lega. Aiza mengelus dada. Ia menoleh dan melirik dinding dimana tadi AKhmar bersembunyi. Apakah pria itu masih berada di sana? Sebenarnya Aiza bisa saja mengungkap keberadaan Akhmar yang nyelonong masuk area rumah tanpa permisi supaya dimarahin sama ibunya, tapi niat itu urung. Mungkin inilah saatnya ia balas membantu kesulitan Akhmar, pria yang pernah menyelamatkannya dari dua preman anarkis.
Aiza melangkah menuju ke balik dinding. Akhmar ternyata masih ada di sana, berdiri dengan raut tenang, kedua tangannya menyilang di dada.
“Kenapa masih disitu?” titah Aiza. “Kamu ke sini mau setor bacaan kan? Ya udah masuk!”
“Pertanyaan mu konyol. Kalau aku ngajakin kamu masuk, lalu kenapa nggak boleh?” balas Aiza gedeg. Banyak hal yang membuatnya menjadi kesal setiap kali menatap Akhmar. Pertama, pria itu sudah menambah daftar masalah baru di kehidupannya pada malam mencekam waktu itu. Kedua, pria itu adalah sekelompok para preman yang wajib dijaga jaraknya. Ketiga, Aiza kecewa pada Akhmar karena ternyata sosok yang dia kagumi adalah pria yang aslinya memiliki sifat yang berkebalikan dengan yang ditampilkan di video. Keempat, baru saja pria itu muncul dengan cara yang juga tidak benar.
Akhmar mengikuti Aiza memasuki sebuah ruangan luas yang di sudutnya terdapat setumpuk meja kecil dan pendek khusus untuk mengaji. Ada white board serta lengkap dengan peralatan lainnya, serta ada tulisan Arab yang indah di white board tersebut. Ada banyak kaligrafi di dinding.
Aiza duduk di lantai, menghadap meja setinggi perutnya.
Pandangan Akhmar tertarik pada kata- kata indah yang tertulis rapi dan ditempel di dinding.
‘Allah tidak membebani suatu jiwa melebihi apa yang dapat ditanggungnya’.
‘Jangan putus asa, karena kamu lebih unggul jika kamu beriman’
__ADS_1
‘Kami adalah orang- orang yg paling hina di bumi dan Allah memberi kami kehormatan melalui Islam’.
Kepala Akhmar terus berputar membaca tulisan latin yang terukir indah.
“Duduk ya!” titah Aiza menatap Akhmar yang malah asik mengawasi seisi ruangan.
Akhmar pun mengambil posisi duduk.
“Kamu yang bagus ya, jangan duduk begini! Pindah sana!” Aiza menggeser duduk ke samping, menjauhi Akhmar yang duduk di sebelahnya.
“Oh. Salah? Duduk dimana ini?” tanya Akhmar tanpa beban.
“Di depanku!” Aiza menunjuk lantai depannya yang dialas dengan permadani.
“Oke.” Akhmar berpindah, menggeser duduk dan kini ada di hadapan Aiza.
“Udah hafal kan?” tegas Aiza.
“Ya.”
“Bagus. Letakin tanganmu di atas meja!” titah Aiza.
Akhmar mengernyit. Namun menurut saja. Malas berdebat dengan orang cantik. Perempuan selalu benar. Mending mengalah. Akhmar menaruh tangannya ke atas meja.
Bersambung
Jempol klik like dulu 😉
__ADS_1