
Waktu terus berjalan, hubungan Aiza dan Aldan berjalan dengan apa adanya. Mereka tidak begitu dekat, sebab memang keduanya tidak pernah berinteraksi. Keduanya sepakat untuk taaruf dengan komunikasi seperlunya tanpa perlu berlebihan, mereka hanya akan dekat saat sudah halal nanti.
Aldan hanya sesekali menghubungi Aiza, itu pun sebatas menanyakan kabar saja, tidak lebih.
Mereka juga tidak pernah ketemuan selayaknya insan yang sedang kasmaran lainnya. Mereka cukup saling mengingat di hati saja, saling percaya, karena yakin Tuhan yang akan menjaga pasangan.
Sedangkan Akhmar? Aiza tidak pernah lagi bertemu dengan Akhmar. Tidak pernah berkomunikasi lagi dengan pria itu. Dia menghilang begitu saja.
Ini sudah berjalan dua bulan. Situasi tetap tidak berubah. Apakah Akhmar sudah bulat dengan keputusannya itu? Ah, ke apa Aiza masih memikirkan itu? Seharusnya tidak.
"Bawa rantang ini ke calon besan kamu ya! Umi sudah masakin makanan yang baik. Insyaa Allah mereka suka. Ini juga ada kue kering buatan umi." Qanita membungkus kue dan menyerahkannya kepada Aiza.
Pagi itu Aiza sudah tampak rapi dengan penampilannya yang selalu anggun mengenakan kemeja dan kali ini paduannya adalah celana panjang.
"Umi meminta Aiza nganterin makanan ke rumah Mas Aldan?" Aiza mengernyit heran.
__ADS_1
"Iya. Besok kan di hari pernikahanmu, kue buatan umi juga yang digunakan untuk menjamu tamu." Qanita tersenyum lebar.
Aiza menghela napas. Ini kenapa umi jadi rempong begini?
"Aiza kan malu kalau bawa begini ke sana, Umi," tolak Aiza.
"Kemarin, Pak Adam nanyain kue buatan umi yang mau dipakai untuk acara nikahan. Jadi kamu bawa aja kuenya ke sana supaya calon mertuamu itu mencicipi, semoga suka. Langganan umi aja pada suka kok, malah selalu kehabisan terus." Qanita tampak bersemangat.
Sebenarnya Aiza ingin menolak, namun melihat uminya yang bersemangat, Aiza tak sampai hati. Kasian kalau uminya jadi patah semangat.
Aiza menerima rantang dan plastik berisi beberapa cup kue kering dengan raut galau.
"Aiza, kamu nggak suka ya?" tanya Qanita tiba- tiba sesaat setelah mengawasi ekspresi wajah bungsunya.
Aiza menatap uminya tanpa mengubah paras wajahnya atau pun berpura- pura tersenyum, memang ia sedang galau sekarang.
__ADS_1
"Abisnya umi rempong banget sih." Aiza manyun.
"Bukan itu maksud umi."
"Lalu?"
"Umi nggak membahas rantang dan kue yang harus kamu antar, tapi umi membahas apakah kamu tertekan dengan pernikahan ini?" tanya Qanita.
"Sejak awal umi tahu kalau perjodohan ini bukan atas kemauan Aiza, tapi karena keterpaksaan. Aiza menuruti karena sebatas bakti, nggak lebih."
Qanita merangkul pundak bungsunya. "Kamu yang sabar ya. Ingatlah, kamu memikul amal besar untuk ini. Jangan lakukan demi kebahagiaanmu, tapi lakukan demi amal kamu, demi Allah. Dan satu hal, umi ridha kalau kamu menikah dengan Aldan, dia pria yang baik, dia juga pasti bisa menjadi imam yang baik untuk kamu. Apa lagi yang diharapkan seorang wanita dari laki- laki jika bukan ketaqwaannya? Supaya bisa dijadikan panutan untuk kebahagiaan akhirat."
Aiza menggelengkan kepala pelan, jika menuruti nafsu, maka ia tentu akan mengikuti suara hati. Tapi jika menuruti akal, ia tentu akan lebih memilih yang baik- baik. Juga demi kebaikan khalayak. Seperti apa yang dikatakan Qanita.
Aiza, ayo semangat. Harus bisa memilih yang lebih berat akhiratnya, jangan hanya mikirin dunia.
__ADS_1
Bersambung