Terjerat Pesona Preman Insaf

Terjerat Pesona Preman Insaf
105. Petuah Umi


__ADS_3

"Aiza memang salah. Aiza yang salah, Umi. Aiza udah bikin Umi kecewa. Tapi Umi harus tahu, bahwa Aiza dan Akhmar selama ini nggak pernah berbuat hal- hal yang dilarang agama. Aiza tahu hukumnya, Umi. Apa yang umi lihat selama ini hanyalah salah paham."


"Benarkah? Kamu nggak bohong?"


"Aiza nggak berani berbohong sama umi. Aiza takut kualat." Aiza mengangguk.


"Ya Allah.. Umi hanya ingin anak- anak umi menjadi anak yang solehah." Qanita memeluk erat tubuh Aiza.


Zahra sejak tadi sudah menangis. Ia lalu ikut maju,  memeluk tubuh Qanita dan Aiza. Mereka berpelukan dalam tangis yang mengharu biru.


Beberapa detik, Aiza melepas pelukan. Dia tatap wajah sembab uminya yang masih dilelehi air mata. Tangan mungilnya menghapus air mata di pipi uminya. 


"Umi jangan nangis lagi ya!" Aiza tersenyum.


Qanita balas tersenyum dan mengangguk. "Iya, umi nggak akan menangis lagi."


"Kenapa umi malah membahas tentang kebencian Aiza pada abah tadi? Bukankah yang membuat abah murka tadi adalah kedekatan Aiza dengan Akhmar?" tanya Aiza.


"Sebab umi tahu bahwa abah kamu itu memendam kesal terhadapmu, selama ini kamu bersikap kurang baik terhadapnya, dan kasus Akhmar menjadi tempat pelampiasan kemarahannya. Abah bukan semata- mata mempersalahkan kamu karena masalah Akhmar saja, tapi ia sedang mencari waktu yang tepat untuk bisa mencari kesalahanmu. Umi tau itu."

__ADS_1


Aiza menyenderkan kepalanya di dada Qanita, lalu berucap lirih, "Umi, maafin Aiza yang nggak bisa menerima abah kawin terus, Aiza selama ini sebel sama abah."


"Umi paham, itu karena wujud protes kamu ke abah supaya abah berubah. Tapi kamu harus tahu satu hal, bahwa bagaimana pun buruknya orang tua, kamu harus tetap bersikap baik kepada orang tuamu. Ini bukan umi yang perintahkan, tapi Al Quran." Qanita mengelus jilbab bungsunya.


Aiza jadi teringat kata- kata pria yang dia panggil ustad muda. Persis seperti yang Qanita katakan barusan. Memang begitulah seharusnya, namun sulit bagi Aiza menerapkannya. Sulit.


"Umi, kenapa umi selama ini diam dimadu beberapa kali sama abah? Umi beneran ikhlas? Umi tetap berperilaku patuh pada abah meski abah menyakiti umi terus- terusan?"


Qanita menarik sudut bibirnya, menunduk untuk menatap wajah mungil yang nyender di dadanya. Mereka bersitatap. "Umi ikhlas. Umi ikhlas karena Allah. Hanya aja, umi nggak ingin penyakit abah kamu yang sibuk ingin kawin itu terus- terusan berlangsung. Sudah cukup jangan diteruskan lagi. Abah kemarin ingin menceraikan salah satu istrinya dan menikah lagi dengan wanita baru lainnya. Inilah yang umi nggak inginkan. Abah bukan hanya menyakiti satu wanita, tapi banyak wanita."


"Jangan sampai Aiza dapet sumai yang kayak abah ya, Umi. Ngeri!" celetuk Aiza lirih.


Sontak Zahra terkekeh. Sejak tadi ia sedih, tapi kata- kata Aiza membuatnya jadi tertawa. Qanita tersenyum.


Muka Aiza memanas menyadari jadi bahan tertawaan. Ia sadar sudah salah bicara.


"Udah kepikiran punya calon imam aja, Dek. Sekolah aja belum bener." Zahra tertawa lagi.


Aiza menyembunyikan wajahnya yang memerah ke dada uminya. Malu.

__ADS_1


Qanita mengusap punggung bungsunya. "Umi berpesan satu hal, kalian kalau milih calon imam harus teliti, agamanya bagaimana, akhlaknya bagaimana, keluarganya bagaimana pula. Pilihlah imam yang agamanya baik, akhlaknya baik, serta keluarganya baik pula. Sebab seseorang tumbuh berkembang dengan baik di lingkungan dan pendidikan keluarga yang baik pula."


Kulit Aiza meremang mendengar pesan uminya. Bagaimana mungkin malah membicarakan masalah jodoh begini? Kan merinding disko jadinya. Jauh amat mikirnya.


"Dek, kamu tiduran aja dulu ngapa, nanti pinggangnya sakit loh," ucap Zahra mengingatkan. Ia lalu membantu Aiza berbaring, menyuapi adiknya makan bubur.


"Kak, tadi apa bener Akhmar nungguin Aiza di sini?" tanya Aiza. 


Zahra bertukar pandang dengan Qanita. Mendadak ekspresi wajah Zahra menjadi canggung. Perkara Akhmar adalah perkara yang sensitif, ia takut salah bicara.


"Ya, tadi Akhmar di sini dan diusir sama abah kamu," jawab Qanita. "Katakan sama Umi, kenapa Akhmar bisa ada di sini menungguimu? Apakah tadinya kalian sedang pergi bersama lalu kecelakaan, atau apa?"


"Aiza juga nggak tau kenapa Akhmar bisa ada di sini. Sebab terakhir kali Aiza nggak sadarkan diri, nggak ada Akhmar bersama dengan Aiza. Atau... Mungkin Akhmar adalah orang yang mengendarai motor itu? Dia lalu bawa Aiza ke rumah sakit?" Aiza berpikir. Ia lalu menceritakan seluruh kejadian hingga akhirnya ia pingsan di pinggir jalan.


"Jangan lagi pergi dari rumah, pulang ya nak!" pinta Qanita. "Umi selama ini diam bukan berarti umi nggak  mencemaskan mu."


"Tapi kan abah nggak mau ada Aiza di rumah, Umi. Aiza nggak akan pulang."


Qanita tak bisa bicara lagi.

__ADS_1


***


Bersambung


__ADS_2