Terjerat Pesona Preman Insaf

Terjerat Pesona Preman Insaf
12. Power


__ADS_3

"Akhmar, kalau nih cewek sampe bocorin kemana- mana, kita bisa kena masalah," ucap pria berkemeja biru.


"Gue jamin dia nggak akan membuat kalian ditimpa masalah." Akhmar menatap ke wajah Aiza saat mengatakannya.


Aiza bergegas balik badan kemudian setengah berlari meninggalkan tempat itu.


Sedangkan Akhmar, pria yang ditakuti oleh anak muda sekelasnya karena dianggap pemimpin preman di atas preman. Dia masih duduk di bangku kuliah, tapi kuliah yang hanya sebatas untuk mencari stempel doang, tanpa menuntut ilmu dengan sesungguhnya. Sebab jarang masuk kampus, seringnya malah di jalanan.


Pernah menghajar lima orang sekaligus hingga menjadi lumpuh. Iya, salah satu orang kakinya lumpuh olehnya. Bukan hanya itu, ia pernah menusuk lawan. Juga berkelahi lawan sepuluh orang, dan ia menang dengan lawan yang semuanya menjadi cacat.


Hal itu memberikan bukti nyata pada dunia, bahwa ia memang patut untuk ditakuti. Bukan disegani, sebab beda antara takut dan segan.


Siapa yang berani macam- macam pada Akhmar? Tidak ada. Semua orang di wilayah sana tahu siapa Akhmar, pemuda yang memiliki kelebihan dalam hal bela diri dan kecerdikan yang tak biasa.

__ADS_1


"Lo kenal sama cewek tadi? Lo bilang pernah ngegendong dia," ucap pria berkemeja biru, tak lain bernama Atep. Seharusnya namanya adalah Abid, namun Akhmar berhasil membuat julukannya menjadi Atep.


Semua teman- teman Akhmar tak luput dari nama julukan yang masing- masing unik dan lari jauh dariĀ  nama asli. Ibrahim mendapat julukan Bajul, Rahman menjadi Enyong, dan terakhir Alif yang nasibnya juga apes karena namanya jadi Jambrong. Kan jauh tuh dari Alif berubah menjadi Jambrong.


Akhmar merebahkan tubuhnya di atas kursi kayu panjang. Memejamkan mata dengan kaki menyilang.


"Kalian itu salah. Kenapa make gituan di sini. Apa nggak ada tempat lain yang lebih tersembunyi? Udah gitu, kalian nyalahin orang. Dasar belagu!" Akhmar berbicara dengan mata terpejam.


Teman- teman Akhmar bertukar pandang. Mereka adalah para mahasiswa keturunan konglomerat yang menuntut ilmu hanya sekedar untuk mencari titel. Masuk kampus pun jarang kesehariannya malah lebih sering nongkrong. Makan di kafe, dan lebih sering tawuran.


Enyong, pria berwajah tampan yang tubuhnya agak kurus itu jongkok dan memainkan hape. Memilih bungkam.


Jambrong, pria yang juga terlihat tampan dengan rambut khas ala Korea itu pun bersiul saja.

__ADS_1


Brum brum...


Suara deru motor membuat sejurus pandangan mengarah ke sumber suara. Tampak Bajul, yang juga merupakan salah satu anggota geng somplak itu muncul dengan mengegas- ngegas motor. Kendaraan yang ia tunggangi itu meluncur cepat dan berhenti di jarak dua senti saja dari motor milik Akhmar yang terparkir di sana.


"Buset, lo mau pala lo ditenggelamin di laut kalau sampe nabrak motornya Akhmar?" Atep geleng- geleng kepala.


Bajul hanya tersenyum tipis.


Tiba- tiba terdengar suara yang bersumber dari balik dinding pagar. Sejurus pandangan tertuju ke sumber suara tersebut. Hanya terlihat sedikit ujung baju yang dipastikan ada seseorang bersembunyi di balik dinding pagar.


"Ada yang ngintip," bisik Atep menatap baju itu. "Jangan- jangan dia udah ngintip sejak tadi, dia taulah kalau kita make. Gawat ini kalau kita sampe dilaporin ke warga."


Tak lama baju di balik dinding itu menghilang.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2