Terjerat Pesona Preman Insaf

Terjerat Pesona Preman Insaf
34. Teguran


__ADS_3

Tiba- tiba dari kejauhan tampak seseorang berjalan mendekat ke arah mereka.


Sejurus pandangan pun tertuju ke arah orang tersebut, dia membawa senter. Langkahnya terdengar cukup keras sehingga mengundang perhatian mereka.


"Tumben ada orang malam- malam ke sini? Ini bukannya wilayah yang jarang dilewati orang ya?" ucap Atep.


"Apanya yang salah sama orang yang lewat sini?" Bajul menimpali. "Namnya juga jalan umum. Siapa aja bisa lewat."


Jalan itu memang jarang dilintasi karena jalan itu adalah jalan lama yang membuat lintasan menjadi lebih jauh setelah ada pembangunan jalan baru di wilayah itu.


"Selamat malam, anak muda!" sapa seorang bapak yang menghampiri mereka, menggunakan sarung serta peci hitam.


"Malam, Pak! Ada apa, Pak?" ucap Atep.


"Jadi begini, Pak Rt ingin membicarakan sedikit hal kepada kalian. Bisakah kalian menemui Pak Rt sekarang?" tanya bapak itu dengan senyum sopan.


Semuanya bertukar pandang. Tak mau memberikan jawaban. Kecuali Akhmar yang menatap bapak itu dengan tatapan mendominasi.


"Bisa. Kami akan ke sana!" jawab Akhmar.

__ADS_1


"Baik, saya permisi." Bapak itu berlalu pergi.


"Ada apaan Pak Rt memanggil kita?" Atep bertanya- tanya.


"Apa masalah perkelahian Akhmar di masjid waktu itu?" sahut Bajul.


"Kalian pada mau tau apa yang akan disampaikan Pak Rt kan? Ayo, ke sana!" Akhmar sudah menunggangi motor dan mengendarainya.


Gegas teman- temannya mengikuti Akhmar.


Sesampainya di rumah Pak Rt, mereka bertamu dan duduk di sofa seperti yang diminta oleh Pak Rt.


Mereka disuguhi minuman hangat, serta cemilan yang manis- manis.


"Bukan soal itu. Kalau masalah keributan di masjid sudah diurus sama Pak Kades," jawab Pak Rt. "Sayangnya sampai sekarang Jamed malah menghilang entah kemana."


Akhmar mendengarkan dengan seksama.


"Jadi begini, tanpa perlu memperpanjang waktu, saya selaku ketua RT yang dipercayakan mengemban tugas di wilayah ini, saya mendapat keluhan dan laporan dari warga yang merasa resah atas kegiatan kalian yang selalu ngumpul- ngumpul di persimpangan jalan, dan katanya sambil menggunakan barang haram," sebut Pak Rt dengan ekspresi yang diwarnai dengan senyum. Ramah, juga sopan. 

__ADS_1


Wajah- wajah pemuda itu tampak tegang seketika, bertukar pandang. Kecuali Akhmar yang terlihat tenang, membalas tatapan Pak Rt dengan santai. Begitu juga dengan Bajul yang hanya diam sambil sesekali melirik ke arah Akhmar.


Semuanya diam, menunggu sang komandan yang bicara. Mereka memang selalu mengandalkan Akhmar sebagai juru bicara.


"Saya merasa ini perlu dibicarakan baik- baik. Jika memang kalian masih bisa diajak bicara dari hati ke hati, untuk tidak lagi melanjutkan kegiatan itu, saya rasa tidak perlu saya bicara dengan orang tua kalian untuk membahas ini," ucap Pak Rt lagi. "Saya tahu ini akan membuat kalian bermasalah dengan orang tua bisa saya menyampaikan ini, dan bahkan belum tentu masalah ini akan selesai dengan mengadu pada orang tua kalian. Oleh sebab itu, kita bicarakan secara kekeluargaan. Saya yakin kalian sudah dewasa dan berpikir baik untuk hal ini."


"Jadi maunya bapak bagaimana?" tanya Akhmar.


"Sebagai pemuda di lingkungan ini, tolong untuk menghentikan kegiatan kalian itu. Jangan lagi memakai barang haram, sebab kami bisa bertindak ke pihak yang berwajib. Bisakah ucapan saya ini dimengerti?" Pak Rt tersenyum.


"Bisa. Kami menyesal dan akan mengubah kebiasaan kami. Terimakasih bapak sudah mengingatkan," ucap Akhmar.


"Alhamdulillah. Kalau begitu, supaya saya bisa percaya dan tidak meneruskan kasus ini, demi keamanan bersama, saya minta tes urin kalian bulan depan sebagai pembuktian kalau kalian betul- betul berhenti. Setuju?" tanya Pak Rt.


"Boleh." Akhmar mengangguk.


"Ya sudah, silakan cemilannya dimakan." Pak Rt mengambil sebuah kue.


"Makasih, Pak. Kami nggak bisa lama di sini. Jadi langsung pamit." Akhmar bangkit berdiri meninggalkan rumah itu diikuti oleh teman- temannya.

__ADS_1


Mereka mengendarai motor dengan pikiran yang menghantui kepala masing- masing, semuanya bertanya- tanya, siapa yang melaporkan masalah itu ke Pak Rt?


Bersambung


__ADS_2