
"Apakah kamu memiliki perasaan sama Akhmar?" tebak Qanita dengan tatapan serius. "Apakah hubunganmu yang dulu pernah dekat dengan dia itu telah meninggalkan kesan, yang akhirnya sekarang membuatmu keberatan untuk memulai hidup baru dengan Aldan? Apakah kamu memang benar- benar mengharapkan Akhmar?" sambung Qanita ingin mendapatkan penjelasan.
Aiza membalas tatapan uminya dengan sungguh- sungguh.
"Aiza tau, seorang ibu pasti mengerti apa yang dirasakan anaknya. Kalau pun Aiza mengharapkan Akhmar, bukan berarti itu keinginan yang keliru. Di mata semua orang pilihanku itu salah, tapi belum tentu menurut Allah salah. Hati Akhmar nggak ada yang tau, Aiza mungkin yang jauh lebih tau. Iya, Akhmar memang kelihatan nggak baik dari luar, dan memang masa lalunya pun juga nggak baik, tapi bukan berarti endingnya juga buruk. Aiza lihat, sekarang Akhmar udah berubah lebih baik."
"Setidaknya umi nggak mau anaknya umi sampai salah pilih suami. Ini menyangkut akhiratmu, menyangkut masa depanmu, jangan main- main dengan pilihan."
"Umi takut Aiza akan bernasib sama seperti umi? Yang menderita tekanan batin menghadapi suami yang tukang kawin?" ceplos Aiza.
Qanita tersenyum samar.
"Umi tenang aja, Aiza akan tetap mengikuti pilihan yang terbaik meski itu nggak seperti yang Aiza inginkan, yaitu Mas Aldan," ucap Aiza.
"Alhamdulillah. Umi percaya Aldan akan menjadi yang terbaik untuk kamu. Dia pria yang soleh. Kamu nggak akan menyesal memilih dia, percayalah!"
Aiza hanya bisa menghela napas. Sudahlah, ia akan menjalani saja semua ini.
__ADS_1
"Masih mau bawa rantangnya kan?" tanya Qanita dengan seulas senyum.
Aiza mengangguk. "Iya, Umi. Kalau bukan umi yang suruh, Aiza juga nggak mau."
Gadis itu nyengir kemudian berlalu membawa rantang dan bungkusan kue.
Dengan naik taksi, Aiza akhirnya sampai di rumah Akhmar. Huuuh... Jantung Aiza berpacu cepat menatap rumah itu. Padahal ia sudah menepikan hasratnya untuk tidak lagi berharap pada Akhmar, percuma berharap pada yang tidak menginginkannya, tapi kenapa ia masih berharap akan bertemu Akhmar?
Plis, harapan itu harus terkubur.
Pintu terbuka sesaat setelah Aiza memencet bel di rumah besar itu. Saat pintu bergerak, Aiza deg- degan, siapa tau Akhmar yang membuka pintu. Halaah... Lagi lagi harapan itu muncul. Kenapa sesulit ini mengubur harapan itu?
Aiza menunduk, yang pertama tampak di matanya adalah sepatu. Pelan, kepalanya terangkat dan menatap sosok Aldan.
Oh.. ternyata Aldan. Pria itu tersenyum.
"Assalamualikum." Aiza berucap lirih.
__ADS_1
"Waalaikumsalam."
"Ini... Umi mengantar ini." Aiza menyorongkan rantang yang malu- maluin itu, berikut dengan plastik berisi toples yang semuanya adalah kue kering.
"Oh... Untuk kami? Mashaa Allah... Aku nggak ingin umi kamu serepot ini."
Aiza hanya tersenyum tipis. Manik matanya sedikit berputar melihat ke arah dalam, mencari keberadaan sosok lain, yang seharusnya memang tidak perlu dia cari. Hasilnya zonk, sosok itu tidak dia temukan. Cepat ia menepis harapan konyol yang sudah sejak awal ia lenyapkan dari pikiran tapi membandel. Apakah ini yang dinamakan godaan syetan? Atau memang harapan tulus?
"Ayo, masuk! Kita makan bersama." Aldan yang sudah mengenakan pakaian ala kantoran itu mengajak Aiza sarapan. "Ini pasti enak banget. Aromanya aja sedap begini."
"Maaf, Mas Aldan. Aku buru- buru. Mau ngurusin pondok yang baru dalam proses itu," tolak Aiza halus.
"Apakah perlu Mas antar?"
"Enggak usah. Makasih mas. Aku bisa sendiri. Assalamualaikum." Aiza melangkah pergi, kembali masuk ke taksi yang masih menunggu. Ia memerintah supir taksi menuju ke toko bangunan yang dia ketahui alamatnya tak jauh dari sana.
Bersambung
__ADS_1