
"Malam ini akan diadakan acara makan bersama di rumah calon suamimu. Kita berangkat sepuluh menit lagi. Abah tunggu di depan!" ucap Ismail menatap Aiza yang berpapasan dengannya di ruangan tamu. Sorot mata Ismail mengawasi penampilan Aiza yang sudah tampak rapi dan anggun, mengenakan gamis rompi warna abu- abu dipadu jilbab warna senada. "Oh.. kamu sudah siap mau pergi? Baguslah, ayo kita berangkat sekarang!"
Ismail melangkah menuju ke luar dengan raut gembira.
Lah? Ini jadi salah paham lagi. Padahal kan Aiza mau pergi ke tokonya Kahmar untuk mengurus bahan bangunan. Abahnya malah salah mengira. Lagian Ismail juga main mendadak aja.
Aiza yakin Ismail tentu sudah menyepakati acara makan malam bersama, dan mustahil acaranya dibatalkan.
"Abah!" Aiza berlari keluar.
Ismail yang sudah duduk di dalam mobil bagian kemudi pun menurunkan kaca mobil.
"Ya?" tanya Ismail.
"Abah pergi sama umi aja ya. Aiza nggak ikut," seru Aiza.
"Ini acara untuk kamu, kok malah kamu nggak ikut? Ayo, cepat!"
Nah kan, Aiza jadi serba salah.
__ADS_1
Qanita menyembulkan kepala dari jendela mobil, tersenyum sambil menganggukkan kepala.
Tak mau urusan menjadi panjang, Aiza akhirnya memilih untuk menyetujui ajakan kedua orang tuanya.
Aiza masuk ke mobil, duduk di bagian kursi belakang.
"Umi, abah, kenapa nggak bilang sebelumnya kalau mau diadakan acara makan bersama? Kenapa mendadak gini?" ucap Aiza saat mobil sudah melaju di jalan raya.
"Soalnya abah tau kamu nggak kemana- mana," jawab Ismail.
"Aiza tadinya mau ke toko bangunan ngurusin daftar bahan- bahan yang abah kasih ke Aiza," jawab Aiza.
Yaelah.. sekarang ini sepasang suami istri pada kompak begini sih?
Sebenarnya Aiza ingin membantah, menolak saja ajakan abahnya, tapi ia sedang menjaga hati orang tuanya sekarang. Ternyata, menjadi patuh itu sulit. Hati menjadi taruhan. Ia harus mengorbankan separuh bahkan seluruh perasaannya untuk hal ini. Demi menjaga hati yang lain.
Keluarga Adam sudah menunggu, mereka menyambut kedatangan Ismail dan keluarga dengan suka cita.
Malam itu, ternyata tidak hanya keluarga kecil Adam saja yang menyambut, tapi juga keluarga besarnya, ada paman, bibi, anak- anak, serta kakek dan nenek juga. Meriah.
__ADS_1
Aiza tidak menyangka jika acara yang mendadak itu disambut dengan semeriah itu.
Anak- anak berlarian, berkejaran, sedangkan yang tua- tua duduk di sofa asik mengobrol ngalor ngidul. Biasalah obrolan orang tua.
Seharusnya ini hari menegangkan bagi Aiza, dimana ia akan bertemu dengan calon suami di meja makan, tapi tidak. Justru rasanya ia malah seperti tahanan yang siap digeret ke tiang gantungan, menegangkan. Serem. Sebab ia akan bertemu dengan Aldan dan juga Akhmar di satu tempat dengan situasi yang kacau begini.
Di tengah keramaian, Aiza malah merasa bingung sendiri. Dia harus bersikap bagaimana sekarang? Seharusnya ia tidak berada di sana sebelum urusannya dnegan Akhmar selesai.
Tampak Aldan menuruni anak tangga. Seperti biasa, penampilan pria itu selalu rapi dengan kemeja biru dipadu celana hitam. Raut bahagia di wajah cerah berseri itu tampak sangat jelas terpancar.
“Nah, ini yang kita tunggu- tunggu akhirnya turun.” Adam menyambut kedatangan Aldan.
Aldan membalas dengan melempar senyum. Ia menunjuk ke lantai atas ketika Adam membisikkan sesuatu ke telinganya.
“Baiklah, mari kita makan bersama,” ajak Adam pada para tamunya.
Anak- anak berhamburan.
Keluarga besar Adam berjalan menuju ke belakang, tepatnya ke kolam renang. Di sana sudah tersedia beberapa buah meja panjang yang di atasnya tersaji beraneka ragam menu makanan.
__ADS_1
Bersambung