
Aiza melambaikan tangan pada Nayla saat mereka akan berpisah setelah melakukan kegiatan sekolah. Aiza melangkah melewati gang, bibirnya bergerak menghafal doa alam menunaikan ibadah haji.
Di depan sana, tampak rombongan pemuda yang tengah berkumpul. Seperti biasa, nongkrong di persimpangan jalan. Tak ada Akhmar diantara mereka.
Akhmar udah nggak pernah nongkrong lagi di sana, cuma temen- temennya doang yang selalu tampil di tempat itu.
Aiza tak gentar berjalan melewati para pemuda itu meski kemarin ia sudah mendapatkan perlakuan tak baik dari mereka.
Tak ada suara rayuan, panggilan atau pun godaan receh dari mulut para pemuda itu. Semuanya membungkam tepat saat Aiza melintas.
Atep menutup mukanya dengan buku, walau pun bukunya kebalik.
Enyong memalingkan pandangan dan kini posisinya malah memunggungi Aiza. Bajul ngelirik ke sana sini, menatap Aiza lalu menatap teman- temannya. Jambrong hanya mengelus dagu sambil mainan hape. Dua pria lain juga tampak asik mainan hape.
Aiza terus berjalan melintasi para pemuda itu hingga ia berlalu.
Aneh, para cowok begajulan itu jadi pada alim begitu? Salah makan apa mereka? Aiza geleng- geleng kepala.
Langkah Aiza terhenti di ujung gang, menatap terik matahari yang membuat kepala pusing, Aiza berhenti sebentar untuk berlindung di balik pagar dinding. Setelah penat sedikit terusir, Aiza terlebih dahulu menoleh ke kiri dan kenan sebelum akhirnya menyeberangi jalan.
Suara deritan ban yang berputar diiringi teriakan kemudian menyusul suara gedebum.
__ADS_1
Brak!
Aiza masih dalam keadaan tegak berdiri dengan kedua mata terpejam ketika sebuah motor ambruk, pengendaranya berusaha mengerem dengan mendadak bahkan membanting stir ke kiri hingga ban motornya berputar cepat dan pengendaranya tak kuasa mengendalikan kecepatan yang luar biasa itu.
Gara- gara injakan rem dadakan setelah kendaraan melaju kencang, pengendaranya pun terjungkal dan terlempar dari motor.
Aiza membelalak kaget menyaksikan sosok pengendara yang terkapar di atas aspal. Gara- gara menghindarinya, pria itu akhirnya kecelakaan. Cepat- cepat Aiza menghampiri pria itu.
“Ya Allah!” Aiza meraih lengan si pengendara yang merintih kesakitan memegangi lututnya yang berdarah.
“Awh!” Pria yang mengenakan helm itu meringkuk.
Pasti sakitnya luar biasa. Suara bantingan motor tadi sampai sengeri itu. tapi untungnya kepala si pengendara terlindungi oleh helmnya.
“Mas, ayo, Aiza bantu.” Aiza meraih lengan pria itu supaya bangkit dan didudukkan ke sisi jalan supaya tidak mengganggu perjalanan.
Aiza lalu menegakkan motor dan menyingkirkannya ke sisi jalan. Beberapa kendaraan yang sempat terhenti pun kembali bergerak.
“Maaf, Pak, Bu!” Aiza menganggukkan kepala sopan pada orang- orang yang perjalanannya terganggu.
Aiza meghempas duduk di sisi pria yang kini membuka helm itu. ia terperanjat menatap wajah yang sangat dia kenal. Akhmar.
__ADS_1
Pria itu memegangi lututnya, celana bagian lutut sampai sobek dan menampilkan luka baret hingga darahnya mencuat. Sebenarnya Akhmar masih bisa menahan rasa sakit itu tanpa harus merintih- rintih begitu. Biasanya ia juga selalu tahan banting. Tapi ini perlu dia lakukan untuk mengambil simpati Aiza. Dan aktingnya lumayanlah, apa lagi proses tabrakan tadi lumayan keras dan lukanya juga lumayan ngeri dan alasan itu cukup kuat untuknya merintih menunjukkan betapa lukanya sangat parah.
“Apakah mungkin ada yang patah? Sakitnya gilak!” Akhmar kelojotan, menunjukkan bahwa lukanya serius.
“Aku bantu bawa ke rumah sakit, yuk!” Aiza ikut meringis melihat luka di kaki Akhmar. Ekspresi wajah gadis itu tampak sangat cemas sekali.
“Iya. Buruan!”
“Bisa jalan sendiri?” tanya Aiza.
Akhmar tidak menjawab, hanya mengawasi luka di kakinya. Aiza lalu meraih lengan Akhmar dan membantu pria itu bangkit berdiri. Lalu memapahnya menuju ke arah motor. Aiza menyingsingkan roknya hingga terangkat, lalu naik ke motor ninja milik Akhmar. Ia selalu memakai celana panjang di dalam rok sehingga aman saat roknya terangkat begini.
“Ayo!” ajak Aiza membuat Akhmar tercengang. Ternyata gadis yang ada di hadapannya itu bukan hanya lincah, tapi serba bisa.
Akhmar pun membonceng di belakang. Ada tas khusus kurir yang disediakan ekspedisi untuk mengantar barang di bagian kiri dan kanan. Benda itu cukup mengganggu posisi kaki Akhmar, sehingga pria itu maju sedikit.
Akhmar sedang melaksanakan tugas mengantar barang, sudah hanya tinggal beberapa barang saja yang tinggal, tapi malah kecelakaan. Tapi ia rela mengalami kecelakaan itu mengingat penyebabnya adalah Aiza. Dan ujung- ujungnya kini ia malah berboncengan dengan gadis pujaan.
Aiza merapal doa dalam hati, berharap Akhmar akan baik- baik saja. Jika dilihat secara fisik, luka Akhmar tampak parah. Aiza panik. Takut akan ada luka serius.
Dan tiba- tiba mata Aiza membulat sempurna saat merasakan tubuh di belakangnya ambruk dan nyender di punggungnya.
__ADS_1
“Ya Allah, ini bagaimana?” Aiza bingung. Dalam keadaan kepepet begini, Aiza tidak lagi memikirkan tentang halal haramnya bersentuhan dengan lelaki, tentunya menolong nyawa orang lain adalah sebuah keutamaan. Dan halal.
Bersambung