
Semenjak malam itu, Akhmar setiap malam mengaji di rumah Aiza dengan menyamar sebagai pria berkumis dan berkaca mata. Seperti biasa, ia mengaji paling belakangan. Dan setelah selesai mengaji, Akhmar dan Aiza selalu menuliskan harapan- harapan mereka di dinding pagar rumah.
Dasar gadis lucu! Bukannya melarang Akhmar mencoret- coret dinding, malah ikut- ikutan mencoret- coret, membuat dinding dipenuhi dengan tulisan.
Setiap malam, seusai mengaji, mereka menuliskan satu harapan di sana. hingga tanpa sadar, sudah ada banyak coretan di dinding itu.
Malam kedua, Akhmar menulis harapannya.
‘Mengembalikan senyuman ibunya Vito’
Sedangkan Aiza menuliskan kalimat lain.
‘Hafal 30 juz’
Malam ke tiga.
Akhmar : ‘Minta maaf pada orang- orang yang disakiti’
Aiza : ‘Mengajak umi umroh ke Mekkah’
Malam ke empat.
Akhmar : ‘Puasa bersama keluarga’
Aiza : ‘Selalu bahagia bersama umi dan kak Zahra’
Malam ke lima.
Akhmar : ‘Mengganti motor Kakakku’
Aiza : ‘Membeli motor baru dengan duit sendiri’
Malam ke enam.
Akhmar : ‘Mendapat pekerjaan dengan gaji gede’
Aiza : ‘Lulus sekolah dengan nilai memuaskan’
__ADS_1
Malam ke tujuh.
Akhmar : ‘Dianggap anak baik oleh papa’
Aiza : ‘Bisa kuliah di luar negeri, Kairo’
Malam ke delapan.
Akhmar : ‘Punya bandara sendiri.’
Aiza : ‘Punya perpustakaan yang bukunya berfaedah untuk umat muslim.’
Malam ke Sembilan.
Akhmar : ‘Punya kapal pesiar.’
Aiza : ‘Punya pondok pesantren.’
Malam ke sepuluh.
Akhmar : ‘Sujud bersama papa’
Tulisan- tulisan itu telah menghias dinding, menjadikan Aiza selalu mampir ke dinding itu setiap kali pulang sekolah, sebelum ia memasuki rumah. Ia membaca harapan- harapan itu berulang kali. Senyumnya terbit setiap kali membacanya.
Untungnya pagar dinding itu berada di samping bangunan rumah, tepatnya agak ke belakang, sehingga coretannya tidak kelihatan saat seseorang melintas di sekitar sana, juga sedikit tertutup bunga setinggi dada. Sedangkan pagar lainnya berupa jeruji besi, yang membentang mengelilingi rumah bagian samping sampai ke depan.
Hampir setiap malam, sepulang dari belajar mengaji, Akhmar mendatangi rumah, melihat dari kejauhan, dan merasa puas saat sekilas melihat papanya muncul.
Hafalan Akhmar sudah lancar. Dia mengantongi enam belas surat yang kini sudah ada di luar kepala. Lafaznya juga sudah baik. Bacaannya tepat. Dia begitu mudah dalam belajar Al Qur’an.
Malam itu, Akhmar baru saja duduk di depan meja, berhadapan dengan Aiza setelah anak- anak yang lain pulang. Seperti biasa, Akhmar membaca Iqro dan dilanjutkan dengan hafalan surat. Berhubung Akhmar sangat cepat menangkap pelajaran, hari ini adalah hari terakhir ia membaca Iqro.
Selanjutnya, ia sudah bisa membaca Al Quran. Betapa pria itu merasa bangga. Akhirnya ia bisa membaca Al Quran. Bahkan ia tak sabar menunggu hari esok.
“Sekarang saatnya menuliskan harapan baru ke dinding!” ucap Akhmar usai membaca hamdallah.
“He heee…” Aiza tertawa. “Kamu inget aja soal itu.”
__ADS_1
“Udah jadi kebiasaan.”
Akhmar bangkit berdiri.
“Akhmar, tunggu! Aku duluan yang nulis loh.” Aiza mengejar Akhmar.
Akhmar yang berjalan di depan pun menghentikan langkah ketika ia berpapasan dengan Ismail di ambang pintu.
Pria berpeci hitam itu memasang wajah sangat, menatap Akhmar tajam.
Ini kenapa si tua keladi natap gue begini? Akhmar mengernyit bingung. Dia sudah mengenakan penyamaran yang sempurna, mana mungkin Ismail mengenalinya bukan?
“Malam,ustad!” Akhmar menundukkan kepala isyarat menyapa.
“Akhmar!” panggil Ismail dengan suara mengguntur keras.
Aiza terkejut, ternyata abahnya mengenali Akhmar. Padahal pria itu sudah sangat repot dengan penyamarannya itu. Tapi malah sia- sia.
Diam- diam, Ismail mencurigai keberadaan sosok Akhmar. Ismail kemudian mendatangi ruangan mengaji, dan malah memergoki Aiza memanggil nama Akhmar. Saat itulah ia baru sadar bahwa kecurigaannya selama ini adalah benar.
“Dasar biad*b! Beraninya kau muncul di rumah ini untuk menemui putriku!” Ismail melotot dengan suara mengguntur keras. “Manusia terkutuk! Enyahlah kau dari hadapanku!” Ismail melepas sendalnya yang beratnya sampai sekilo itu, kalau digunakan untuk menggampar, gigi pasti bisa rontok dan langsung ompong.
“Jangan!” Akhmar mundur dan mengangkat tangan ke udara saat Ismail melayangkan sendalnya hendak mendaratkan ke wajah Akhmar. Pria itu tampak sangat tenang saat berpikir hendak melarikan diri.
Sialnya, Akhmar tak punya ruang untuk bisa kabur, ia malah melompat mundur dan kini kembali masuk ke dalam ruangan. Lalu bagaimana caranya ia bisa melarikan diri? Ia tak bisa melawan Ismail. Bisa kualat kalau dia melawan orang tua.
“Dasar binatang! Manusia laknat!” Ismail mengutuk dengan mata melotot, terus mengejar dengan membabi buta.
“Stop, Abah! Stop!” Aiza ingin melerai. Namun ia hanya bisa mengejar abahnya saja.
Akhmar berlari, melompati meja, melompati apa saja.
Ya Tuhan, lebih mengerikan dikejar orang tua ketimbang dikejar singa kalau begini.
“Abah, stop! Udah, abah!” suara Aiza tak dihiraukan.
Ismail melemparkan benda apa saja yang ada di sekitarnya. Sapu, kemoceng, kursi dan lain sebagainya. Ruangan menjadi berantakan. Akhmar tidak memiliki kesempatan untuk bisa melewati pintu karena Ismail sengaja tak mau jauh dari pintu. Suasana benar- benar gaduh.
__ADS_1
Bersambung