Terjerat Pesona Preman Insaf

Terjerat Pesona Preman Insaf
101. Terkepung


__ADS_3

Aiza menatap neneknya yang tertidur di kasur. Ia memegangi tangan neneknya dan berbisik pelan, "Nek, ini Aiza. Aiza datang untuk nemuin nenek."


Mata nenek bergerak, kemudian terbuka. Kulitnya tampak mengeriput. Ia tersenyum menatap wajah cucu yang biasanya rajin mengantar makanan ke kamar, rajin membaca ayat suci di sisinya, juga rajin menemaninya hingga tertidur.


"Aiza! Kamu kemana aja, Nduk? Nenek rindu. Nenek rasanya lama nggak melihatmu." Nenek mengusap pucuk kepala Aiza.


"He heee... Aiza pun kangen sama nenek." Aiza memeluk neneknya. 


Mereka mengobrol, berbicara hal ringan dan tertawa bersama.


Tak lama setelah itu Aiza berpamitan pergi, mengaku akan ke sekolah.


Kembali Aiza mengendap keluar rumah. Aman. Tidak ada yang memergokinya. Baru saja ia melangkah keluar gerbang, beruntung ia langsung mendapati ojek yang melintas di depan rumah. Aiza menghentikan ojek itu dan membonceng sesaat setelah menyebutkan alamat sekolahnya kepada bang ojek.


Motor melaju. Di atas kendaraan yang bergerak menyusuri jalan aspal, Aiza merenungi nasibnya, yang sekarang malah berantakan. Namun semangat di dalam diri Aiza tetap tumbuh. 


"Loh, bang ini mau kemana? Jalan menuju ke sekolah Aiza nggak ke sini?" seru Aiza menyadari jalan yang dilalui itu sepi dan bukan merupakan jalan yang seharusnya.


"Jalan besar macet, Neng. Kita cari jalan lain," jawab si abang ojek.


Aiza mengernyit. Mengawasi jalan yang dilalui. Namun semakin lama, jalan itu semakin jauh dari sekolahnya. Ia mulai curiga.

__ADS_1


"Turunin Aiza, Bang! Turunin sekarang!" ucap Aiza.


Motor terus melaju kencang, malah kecepatannya ditambah.


"Berentiiii! Berenti sekarang!" titah Aiza kesal. Bang ojek disuruh berhenti malah semakin menambah kelajuan motor. Jelas si abng ojek memiliki niat buruk. Bayangan menakutkan sontak menari-, nari di kepala Aiza. Takut dibawa lari tukang ojek dan ditutunkan di semak- semak lalu dianu- anuin. Ujung- ujungnya dimutilasi dan dibuang ke sungai.


Hiiiy... Serem. Kan banyak tuh berita di TV yang menyiarkan kasus serupa.


Tak mau dibawa lari, Aiza mengambil niat hendak melompat turun dari motor. Pandangannya tertuju ke arah jalan yang seperti bergerak sangat cepat akibat tingkat kelajuan motor yang luar biasa.


Bismillah... Aiza melompat. 


Tubuh mungil Aiza terguling di aspal sesaat setelah melompat turun. Kaki Aiza yang terpaksa menapak saat turun dari motor, kini terasa nyeri bukan main. Sakit. Tubuhnya menghantam aspal cukup keras. Lututnya berdarah, demikian juga sikunya yang tergores aspal.


Beberapa detik Aiza terdiam merasakan sakit luar biasa di sekujur tubuhnya. Rasanya seperti hampir mati. Ia lalu bangkit bangun dengan gerakan cepat, mengingat si abang ojek yang terlihat putar balik ke arahnya.


Aiza berlari menjauhi jalan dengan kaki pincang. Untungnya ia masih bisa berlari meski dalam keadaan menahan sakit di sekujur tubuh.


Aiza masuk ke gedung tua. Gedung yang sudah lama tak digunakan. Dindingnya sudah berwarna cokelat akibat lumut yang mengotorinya.


Aiza tertatih, kesulitan berlari. Ia mencari tempat persembunyian. Lalu menyelinap ke balik diding ruangan lain.

__ADS_1


Terdengar langkah kaki abang ojek memasuki gedung itu. Suaranya menggema.


"Woi, dimana lu?" Abang ojek berteriak. Beberapa menit ia hilir mudik mencari- cari, kemudian terdengar ia menelepon. "Woi, cewek itu melompat turun dari motor gue. Sekarang masuk ke gedung tua. Mendingan kalian buruan kemari karena gue nggak bisa bawa dia ke situ. Cepetan dari pada dia kabur."


Abang ojek keluar. Aiza mengintip ke luar melalui jendela yang kacanya sudah kabur akibat debu tebal yang menempelinya.  


Aiza melihat tiga motor memasuki halaman gedung, mereka melepas helm dan menaruh di atas spion. Abang ojek berlalu pergi menunggangi motornya. Sedangkan empat pria yang baru saja datang, menuruni motor dan memasuki gedung. 


Ya Allah... Apa yang sebenarnya akan terjadi? Apakah mereka akan mengeksekusi Aiza? Apakah ini akan menjadi kisah mencekam di akhir hidup Aiza seperti di berita- berita itu?


Ya Allah... Hanya kepada- Munaku berlindung, hanya kepada- Mu pula aku bergantung. 


Aiza jelas tak bisa lari kemana- mana, sebab pintu keluarnya hanya satu yang dipastikan akan membuat Aiza berpapasan dengan para begudalan itu, sedangkan pintu lain dalam keadaan digembok dari luar. Kepala Aiza terasa pusing sekali, tubuhnyanngilu, kaki pun sakit. Ia tak berdaya.


Terdengar langkah- langkah kaki memasuki ruangan. Suasana yang sepi membuat setiap suara menjadi terdengar sangat jelas.


“Woi…  Itu dia.  dia ada di sana!” teriak salah seorang menunjuk ke arah Aiza yang bersembunyi di balik dinding ruangan lain.


Allah… Bantu Aiza.  Aiza tidak bisa berbuat apa- apa selain memohon pertolongan- Mu.  Tidak ada yang tidak mungkin bagi- Mu.  Segalanya mudah bagi- Mu.  Termasuk jika Engkau menghendaki untuk mengubah manusia- manusia jahat ini menjadi kucaci kecil.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2