Terjerat Pesona Preman Insaf

Terjerat Pesona Preman Insaf
80. Dituduh 'Seperti Binatang'


__ADS_3

“Mas, ada apa ini?” Qanita muncul bersama dengan Zahra yang bingung melihat kekacauan di ruangan itu.


Ismail berhenti, wajahnya masih tampak merah padam.  Napasnya ngos- ngosan.  Dia kecapekan.  


Nah, itulah makanya jangan ngejar anak muda, umur udah tua masih berani main kejar- kejaran.  Akhmar ingin tertawa namun ditahan.


“Ini.  laki- laki laknat ini berani muncul di rumah ini dnegan menyamar begini!”  Ismail menunjuk- nunjuk Akhmar yang berdiri agak jauh.


Akhmar melepas samarannya.  Membuang ke sembarang arah.  Kini, Akhmar tampil seperti biasanya.  Tampan dan menawan.


“Looh… Itu Akhmar. Ya ampun!”  Zahra menepuk jidat.  Dalam hati tertawa karena lucu.  Namun juga prihatin pada kejadian yang dia saksikan.  Ruangan pun menjadi kacau.


Qanita hanya beristighfar.  “Lalu apa masalahnya dengan Akhmar?  Dia kan belajar mengaji.  Biarkan dia menimba ilmu dengan anakmu.  Amalnya akan mengalir untuk anakmu.  Nggak ada yang salah dari hal itu.”


“Salah.  Salah besar.  Asal kamu tau, laki- laki laknat itu sudah kurang ajar.  Dia melempar kepalaku dengan sepatu.  Dia membawa Aiza sampai ke perbatasan kota di malam buta.  Lelaki macam apa itu?  Hanya laki- laki baj*ngan yang berbuat seperti itu.  tidak ada tempat untuk pria semacam dia!”  Ismail menunjuk ke arah Akhmar. 


Yang ditunjuk tampak tenang. 


“Abah, Aiza udah jelasin semuanya ke abah.  Aiza nggak sebodoh itu sampai mau diajakin jalan sama laki- laki malam buta.”  Aiza menyahut dengan suara lantang.  “Aiza pergi malam itu juga karena ada sebabnya.  Akhmar nggak seburuk yang abah sebutkan!”

__ADS_1


Hati Akhmar berbunga mendapat pembelaan dari Aiza.  Kenapa deg- degan begini?  Walah, disaat kondisi sedang dalam keadaan ekstrim begini, masih sempat ia merasa berbunga- bunga. 


“Tidak ada kata maaf buat lelaki laknat itu!”  Ismail masih tampak murka.


“Apakah abah yang berhak melaknat manusia?  Sejak tadi abah menyebut dia laknat terus?”


“Aiza!” Ismail yang tak pernah menghardik bungsunya, kini terdengar menghardiknya.  Ia menatap bungsunya dengan mata melebar. Dadanya naik turun seiring napasnya yang tersengal. Ia tampak sangat ingin memuntahkan amarah, namun sosok bungsunya yang tak pernah mendapat amukan orang tua itu membuatnya mengurungkan niat.  


Semua orang akan sulit marah pada Aiza jika melihat wajah imut itu. Hanya dengan melihat wajah itu saja, semua orang akan merasa ingin berdamai. Termasuk Ismail yang enggan melanjutkan amarahnya meski di dalam dadanya sudah memuncak. 


Ismail kemudian menatap Akhmar.


"Kemari kau! Perilaku mu persis seperti binatang!" Ismail mendekati Akhmar.


Tak mau kualat jika sampai melawan si tua, Akhmar memilih melintasi pintu lain yang ada di belakangnya, tak lain pintu yang malah mengarahkannya masuk ke ruangan lain. Ia menutup pintu kaca yang baru saja ia lintasi dan tersenyum sambil melambaikan tangan ke arah Ismail. Ia berhasil kabur.


Sayangnya ia tak tau kemana arah langkahnya, bingung dengan tujuan. Kemana arah pintu keluar? Ia belok sana belok sini, keluar masuk tak tau arah.


Ini nih akhirnya kalau berurusan sama orang tua seperti Pak Ismail.  Jika bukan ayahnya Aiza, tentu Akhmar sudah menceburkan lelaki tua itu ke sungai. Biar berenang dan ketemu sama buaya. Eh, buaya ketemu buaya pasti rame.

__ADS_1


Dan sial, kini Akhmar malah masuk ke kamar Aiza. 


Sedangkan Ismail beralih menatap Aiza setelah membiarkan Akhmar lepas darinya.


"Aiza, kamu ini dikasih tau yang baik malah terus melanggar. Akhmar itu berbahaya." Ismail bicara dengan nada tinggi.


"Kenapa Akhmar yang ingin belajar pada hal yang baik malah dilarang? Kenapa abah nggak bisa introspeksi? Selama ini nggak bisa adil sama istri istri abah.” Aiza menjerit saat mengatakannya. Melirik uminya yang mengelus dada.


"Aiza, jangan bicara begitu! Umi nggak pernah mengajarimu bicara begitu ya!" Qanita sedikit meninggi.


"Adil itu hanya milik Allah. Manusia mana mungkin bisa adil. Itu khilafnya manusia. Dan Allah maha mengampuni dosa. Allah mengerti manusia tempatnya khilaf." Ismail membela diri. "Di dalam Al quran jelas tertulis berkali- kali kalimat 'istri istri kamu' untuk menyebut wanita yang menjadi istri. Tidak hanya satu istri untuk laki- laki. Rosul pun sunnah dalam hal itu."


"Kalau abah mau hidupnya punya istri banyak kayak rosul, abah juga harus menjadi seperti rosul dalam hal apa pun," bantah Aiza.  “Apa abah sanggup?”


"Aiza, sudah!" Qanita menyergah.


Aiza menghambur pergi. Ia sangat mengerti kenapa uminya malah kesal terhadapnya dan terlihat membela sang ayah, itu karena umi tidak ingin dinilai sebagai istri yang tidak baik karena dianggap mengajari anak untuk tidak sopan pada ayahnya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2