Terjerat Pesona Preman Insaf

Terjerat Pesona Preman Insaf
127. Terluka


__ADS_3

"Kalau Aldan dan Aiza nikah nanti, bagusnya mereka tinggal di sini aja. Biar Mas Adam jadi ada temennya, biar  rumah ini rame," ucap Jihan berapi- api.


"Apa lagi kalau Aiza sudah punya anak, Mas Adam pasti seneng bisa nimang cucu," timpal yang lain.


"Iya bener, akan ada sosok wanita yang memperhatikan Mas Adam juga."


"Eh eh eh, nggak bisa begitu," sangkal Ismail dengan nada bergurau. "Aldan wajib ikut bersama saya selama beberapa bulan. Saya mau tau seperti apa Aldan memperlakukan putri saya." Ismail kemudian tergelak.


Disambut dengan senyum oleh Adam. "Biar adil, mereka boleh tinggal seminggu di sini, dan seminggu di sana."


Di tengah pembicaraan hangat yang topiknya adalah calon rumah tangga Aiza dan Aldan, Akhmar tampak diam dan mengunyah makanan dengan tenang. Pandangannya terus tertuju ke piringnya. Ia lalu mendorong piring setelah makanannya habis, ia meneguk jus dan mengelap mulut. Ia mengambil makan hanya sedikit sehingga cepat selesai.


"Ini lalapannya mana? Kok, nggak ada timun?" celetuk Adam yang kesehariannya memang suka dengan lalapan. Ia lalu memanggil Roni, asisten rumah tangga. Namun beberapa kali dipanggil, Roni tak kunjung muncul. 


Melihat Adam yang menunggu kedatangan Roni penuh harap, Akhmar berinisiatif hendak mengambil timun, ia bangkit berdiri, tepat bersamaan dengan Aiza yang juga tengah bangkit berdiri.


Semuanya menatap ke arah Aiza dan Akhmar silih berganti, tatapan mereka seperti sedang memoertanyakan kenapa Aiza dan Akhmar berdiri secara serentak?


"Biar aku yang ambil lalapan!" ucap Akhmar menjelaskan posisinya.

__ADS_1


"Aiza mau ke toilet." Aiza menjelaskan maksudnya bangkit berdiri.


"Oh, sebelah sana!" Aldan menunjuk arah toilet.


Aiza mengangguk, melangkah menuju ke arah yang ditunjuk oleh Aldan, searah dengan Akhmar yang sudah berjalan lebih dulu darinya.


Aiza masih satu arah dengan Akhmar yang berjalan di depannya ketika mereka sudah berbelok. Aiza melewati dapur, tepat dimana Akhmar tengah membuka kulkas.


"Aku bisa kesasar kalau nggak dikasih petunjuk kemana arah kamar kecil," ucap Aiza yang berdiri di tengah- tengah ruangan.


Akhmar menoleh. "Tuh, di sana!" Pria itu menunjuk lorong dengan dagunya lalu kembali fokus dengan pekerjaannya yang mencari pisau.


Aiza tersenyum menyaksikan itu. Akhmar ternyata bisa juga menyentuh peralatan dapur.


Detik berikutnya, Aiza terkesiap saat melihat benda tajam di tangan Akhmar itu tanpa sengaja mengenai jari Akhmar hingga mengakibatkan luka, berdarah.


Akhmar menarik tangannya dan soontan melepas pisau. Darah segar menetes- netes.


"Astaghfirullah..." jerit Aiza menghambur mendekati Akhmar. Ia menarik rompi gamisnya dengan sekali sentak hingga robek, lalu mengikatkan robekan kain itu ke jari yang terluka, pertolongan pertama supaya darah tidak terus mengucur. Ia mengangkat tangan Akhmar supaya berada di posisi atas, namun Akhmar menurunkan tangannya.

__ADS_1


Aiza kembali mengangkat tangan Akhmar lagi. "Tangan kamu harus berada di posisi atas jantung supaya darah nggak terus mengucur!" pinta Aiza membuat Akhmar akhirnya menurut, memposisikan tangannya di atas jantung.


Pria itu tetap tampak tenang, sedikit pun tak terlihat merintih atau menunjukkan ekspresi kesakitan.


"Kotak obat mana?" tanya Aiza.


"Nggak tau."


"Loh, ini rumah kamu kok kamu bisa nggak tau? Luka kamu serius itu. Robekannya dalam. Akan kucari di sekitar sini ya!" Aiza minta ijin.


"Hm."


Mendengar persetujuan Akhmar yang meski hanya ala kadarnya itu, Aiza segera mengobok- obok lemari atas untuk mencari kotak obat. Biasanya seseorang akan meletakkan kotak obat di sekitar sana sebagai antisipasi pekerja dapur yang siapa tahu akan terluka saat mengerjakan pekerjaan dapur. 


Posisi dapur rumah Aiza yang terkesan klasik memang berbeda dengan dapur Akhmar yang terkesan modern, namun Aiza mengerti biasanya seseorang selalu menyediakan kotak obat di dapur untuk jaga- jaga. Sebab pekerjaan dapur itu rentan dengan luka. 


Aiza menemukan obat yang dicari, ia segera membawa kotak obat itu dan melakukan pekerjaannya dengan terampil, tak lain mengobati luka Akhmar dengan obat dan peralatan seadanya tanpa melepas ikatan awal, sebab darah akan mengalir jika ikatan itu dilepas. Jadi Aiza hanya mengolesi betadin saja dari luar. Pasti pedih, tapi Akhmar tampak santai saja. 


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2