
“Kamu hafalannya kapan? Setiap malam ya?” tanya Aiza.
Akhmar mengangguk.
“Kalau bisa, hafalan setiap selesai shalat subuh. Pasti cepet nyantol di kepala. Sebab waktu subuh itu pikiran kita masih jernih jadi mudah untuk hafalan.” Aiza memberi saran. Kegigihan Akhmar dalam menghafal ayat- ayat suci membuat Aiza kagum. Semangatnya patut dicontoh. Meski niat awal Akhmar hafalan Al Quran untuk mendekati Aiza, Aiza berharap suatu saat niat itu akan berubah karena Allah.
“Oh.” Akhmar tak mau mengomentari banyak hal.
“Intinya mau memperbaiki diri ke jalan yang baik, pasti hafalan makin dilancarkan,” imbuh Aiza.
Mendengar itu, sontak batin Akhmar seperti mendapat pukulan. “Dosaku udah banyak banget, Za. Mana mungkin Tuhan mengampuninya.”
“Loh? Kok belum apa- apa udah putus asa?” Aiza menepuk meja keras, membuat Akhmar kaget.
Ataga, nih cewek bisa galak begini sehari- harinya makan apa sih? Akhmar heran.
“Nggak ada dosa yang nggak diampuni kecuali dosa sirik,” tegas Aiza.
Akhmar tertegun.
Ekspresi Aiza kembali teduh, ia menatap Akhmar. Pria di hadapannya itu menyimpan sejuta kisah yang membentuk karakter keras dalam dirinya. Mungkin lingkungannya buruk, atau pergaulannya yang buruk, atau entahlah.
“Emangnya kesalahan apa yang membuatmu merasa udah melakukan banyak dosa? Boleh tau?” tanya Aiza yang tertarik dengan kehidupan Akhmar.
Seketika, wajah Akhmar tampak berubah, dipenuhi dengan mimik tak menentu. Bayangan tentang Vito menari- nari di kepalanya, tentang ayahnya, juga tentang shabu- shabu yang sempat menenggelamkannya pada kesenangan sesaat.
“Aku ini seorang pembunuh.” Akhmar menatap meja, tanpa ingin menatap wajah Aiza.
Tak perlu ditanya bagaimana ekspresi Aiza, gadis itu terkejut. Matanya membulat sempurna. Bahkan terdiam dan tercekat.
__ADS_1
“Aku menyakiti wanita. Durhaka pada papa. Aku pengguna barang haram, shabu- shabu. Semua hal buruk ada padaku. Lalu, alasan apa yang membuat Tuhan akan mengampuniku?”
“Tobat.”
Akhmar menatap Aiza.
“Kamu beneran pernah bunuh orang?” tanya Aiza masih tak yakin.
“Ya.”
Suhu tubuh Aiza mendadak panas dingin. Ia sedang berhadapan dengan seorang pembunuh. Namun demikian, pria itu tetap mengakui kesalahannya.
“Kenapa kamu membunuhnya?” tanya Aiza lagi.
“Ini kebodohan dan kejahatan. Aku nggak ingin mengingatnya lagi. boleh kan kalau aku nggak menjawab pertanyaanmu?”
“Kamu menyesal?”
Aiza mengangguk. “Mar, masih ada waktu untukmu mengubah duniamu.”
Ekspresi wajah Akhmar tak berubah. Seperti tak ada keinginan untuk hijrah. Dia merasa sudah memiliki banyak kesalahan yang sulit dihitung dengan ilmu matematika. Kesalahannya terhadap sang ayah, entah sudah berapa banyak. Sejak kecil sampai sekarang, hanya kesalahan lah yang ia berikan kepada ayahnya.
Untungnya ia tidak bertemu ibu sejak bayi. Andai saja ia masih bertemu ibunya, mungkin air mata ibunya akan kering akibat ulahnya. Kehormatannya pada sang ibu yang seharusnya tiga kali lipat dari hormatnya pada ayah, akan berbalik menjadi kedurhakaan. Akhmar merasa beruntung karena tak pernah menyakiti ibunya seperti ia melukai ayahnya.
“Kalau kamu mengerti kadar dirimu, maka kamu nggak akan menghinakan Tuhan dengan kemaksiatan,” ucap Aiza membuat Akhmar tertegun. “Aku juga bukan manusia baik. Aku hina seperti lumpur. Tapi kita mesti punya niat untuk menjadi lebih baik. Di dalam doa, aku hanya minta supaya Tuhan mencukupkan aku dengan yang halal, menjauhkan aku dari yang haram. Aku minta supaya aku bisa merasakan keutamaan Tuhan, sehingga nggak perlu aku selain kepada Tuhan.”
Gadis ini selalu membuat Akhmar merasa diketuk dalam dirinya. Dan… satu hal yang sangat Akhmar sukai adalah sikap Aiza kini berubah lebih baik padanya. Tapi Akhmar tahu diri, mustahil ia beranggapan bahwa sikap baik Aiza diartikan bahwa gadis itu menyukainya.
Bagi Akhmar, bisa dekat dengan Aiza seperti sekarang, sudah merupakan anugerah. Itu lebih dari cukup baginya. Ia tidak menuntut supaya Aiza bisa membalas perasaannya. Cukup dia sendiri yang tahu bahwa dia sangat menyayangi gadis itu. Tak perlu ia meminta balasan dari Aiza.
__ADS_1
Akhmar bangkit berdiri, hendak pulang. Aiza ikut berdiri, mengikuti Akhmar keluar.
“Sekarang udah punya harapan apa belum?” tanya Aiza.
“Harapan untuk apa?”
“Harapan untuk mencapai satu kebaikan.” Akhmar menatap spidol tinta hitam yang ada di tangan Aiza. Ia lalu berjalan menuju ke pagar dinding yang ada di sisi ujung taman. Ia membuka tutup spidol, lalu mengarahkan ujung spidol ke dinding. Ia menulis sesuatu di dinding itu tanpa bertanya terlebih dahulu pada pemiliknya apakah boleh mengotori dinding itu dengan spidol atau tidak. Sembarangan nulis saja.
‘Bertemu papa’
Aiza membaca tulisan itu. “Itu harapan kamu?”
“Ya.”
Aiza ikut menulis ke dinding itu menggunakan spidol tinta biru.
‘Istiqomah shalat tahajud’
Akhmar membaca tulisan rapi milik Aiza. Bukan hanya orangnya saja yang rapi, tulisannya pu rapi sekali. Tulisan Akhmar juga rapi, tapi ukurannya agak besar.
“Itukah harapanmu?” tanya Akhmar.
“Ya.”
Oh… Gadis itu sedang berusaha keras untuk bisa istiqomah dalam menjalankan shalat tahajud yang mungkin selama ini masih terasa berat.
“Oh iya, aku mau antar makan untuk nenek. Aku tinggal ya!” Aiza pamit.
“Aku juga mau pulang!” ucap Akhmar.
__ADS_1
Aiza menghambur pergi.
Bersambung