
Motor sudah snagat jauh melaju, kendaran di belakang masih terus mengejar. Bahkan kini semakin dekat. Akhmar menggeser duduknya agak maju. Lalu kedua lengannya memegang stang dan menarik gas full. Belok sana belok sini, gesit dan lincah.
Aiza melepas stang dan menutup wajahnya yang tertutup kaca helm dengan kedua telapak tangan. Dalam hati berdoa semoga Allah memberi keselamatan kepadanya. Dia masih muda dan belum ingin mati.
Kecepatan motor sangat kencang, membuat Aiza seperti berada di ambang kematian. Jantungnya berlarian. Bahkan di situasi semencekam itu, ia tak lagi menyadari posisi punggungnya yang menempel sempurna dengan dada bidang Akhmar. Ia meringkuk di depan dan tak mau tau dengan apa yang dilakukan oleh Akhmar. Ia mengangkat kakinya dan membiarkan tergantung saat Akhmar mengambilalih posisi memainkan gigi dengan kaki.
Akhmar meringis merasakan sakit yang luar biasa pada kaki kanannya saat memainkan gigi motor. Namun ia tak peduli. Rasa sakit itu terobati saat melihat kerudung Aiza yang berada tepat di dalam pelukannya.
Sayangnya situasi saat itu dalam keadaan mencekam, andai saja dalam keadaan normal, tentu Akhmar akan merasa senang sekali.
Tiba- tiba mesin motor berhenti setelah menempuh perjalanan entah berapa ratus kilo. Motor masih dalam keadaan melaju meski mesin sudah mati, dan lambat laun, motor pun memelan. Akhmar menginjak rem.
“Kenapa?” tanya Aiza panik.
“Sepertinya kehabisan minyak.”
“Aduh!” Aiza semakin panik. Ia bisa mati konyol dilukai preman- preman mengerikan yang brutal itu. Atau malah menjadi korban pemerkosaan yang mengenaskan. Tidak. Hal itu tidak boleh terjadi.
Kesal, Aiza melempar helm begitu saja.
Para pengejar di belakang semakin lama semakin mendekat.
Aiza terkejut saat tangannya ditarik oleh Akhmar dan mereka melompat masuk ke semak belukar. Lalu berlari menjauh dari jalan aspal.
Sebelum orang- orang brutal itu melihat keberadaan Akhmar, pria itu menunduk bersama dengan Aiza yang ada di bawahnya. Mereka bersembunyi di balik semak belukar yang ketinggiannya hanya mencapai satu meter.
“Woi, keluar woi!” Jamed berteriak keras. Ia dan teman- temannya berhenti di dekat motor milik Akhmar yang ditenggerkan di pinggir jalan.
“Woi, keluar!”
Jamed terus berteriak lantang dengan nada penuh emosi.
Akhmar menekan tubuh Aiza yang ada di bawahnya, gadis itu berada di posisi menelungkup, meringkuk dengan kedua kaki terlipat, dan tangan yang juga terlipat di depan dada. Wajahnya sangat dekat dengan tanah. Akhmar berada di atasnya. Sejak awal tadi, posisi itu tidak berubah.
“Pindah dari situ! Menjauh dariku!” bisik Aiza saat ia menyadari posisinya yang ternyata pepet maksimal.
__ADS_1
“Nggak bisa,” balas Akhmar yang juga berbisik.
“Tinggal pindah aja apa susahnya? Jangan modus!” gertak Aiza berbisik.
“Kita sedang berada di semak- semak, kalau aku bergerak, suaranya bakalan berisik.”
Aiza barulah mengerti maksud ucapan Akhmar. Jika Akhmar bergerak, tentu gerakannya itu akan menimbulkan suara berisik yang mengundang perhatian Jamed. Aiza pun tak bisa protes lagi. Meringkuk seperti kucing sedang tidur. Posisinya benar- benar tidak nyaman, sama sekali tak bisa bergerak. Bahkan rumput yang ada di depan hidungnya, asik bergoyang- goyang, sesekali mengenai lubang hidungnya. Hampir saja Aiza bersin akibat digodain si rumput liar.
Kelewatan! Ngejek aja nih rumput!
Suara gaduh di jalan sana terdengar kacau. Jamed dan teman- temannya menghancurkan motor milik Akhmar. Mereka juga membakar motor itu. Lalu mereka menghambur pergi.
Suara deru iring- iringan motor yang menjauh, menyadarkan Akhmar bahwa ia sudah berada di zona aman.
Akhmar bangkit dan menggeser tubuhnya ke samping. Duduk beralaskan rerumputan. Sakit di kakinya terasa semakin parah. Namun ekspresi wajahnya tetap normal, tak adatanda- tanda kalau dia kesakitan. Cukup rasa sakit itu dia sendiri yang merasakan.
Akhmar tersenyum menatap Aiza yang masih meringkuk. Gadis itu sangat menggemaskan. Tangan Akhmar terangkat dan menjulur ke arah kerudung gadis itu, hendak menyentuhnya. Namun trehenti dua centi di atas kepala Aiza. Ia merasa konyol sendiri, kenapa bisa sebesar ini harapannya terhadap gadis yang masih berseragam putih abu- abu? Gadis itu bhakan masih jauh muda di bawahnya.
Akhmar menarik kembali tangannya dan menurunkannya.
“Za! Udah aman!”
Akhmar mengangguk.
Aiza pelan bangkit bangun, mengintip ke arah jalan. Matanya yang bulat pun semakin membulat sempurna melihat motor Akhmar yang terbakar.
“Ya Allah, itu motor kamu habis dibakar!” Aiza terbengong kaget.
Akhmar sudah tahu apa yang terjadi, dia tidak menanggapi.
“Trus ngapain kita masih di sini?” Aiza melangkah meninggalkan Akhmar.
“Kamu nggak niat bantuin aku berdiri?” tanya Akhmar yang tak beranjak dari posisinya.
Aiza menoleh. Lalu kembali berjalan.
__ADS_1
“Awas ada ular!” seru Akhmar sambil bangkit berdiri dengan bantuan ranting. Ia berjalan dengan kaki pincang.
Baru selangkah kakinya berjalan, ia mendengar teriakan.
“Aaaaaaa….” Aiza menjerit histreis, lari tunggang langgang, balik arah menuju kepada Akhmar.
Akhmar tersenyum melihat Aiza ketakutan.
“Ada ulaaaar!” seru Aiza terus berlari hingga ia memutari tubuh Akhmar, kini berdiri di belakang badan bsar pria itu.
“Tuhan langsung mengijabah perkataanku.” Akhmar berkata dengan datar, membuat Aiza menjadi cemberut. “Tadi udah aku peringatkan, awas ada ular.”
“Ularnya gede banget.”
“Nggak apa- apa. Namanya juga di semak- semak. Ya banyak ular.” Akhmar melangkah menuju ke arah jalan, melewati jalan yang sama yang dilalui Aiza tadi.
“Kok, lewat sini? Ada ularnya loh di depan sana tadi,” ucap Aiza namun tetap mengikuti langkah aki Akhmar. Ketakutannya luar biasa. Melihat ular yang ukurannya sebesar lengan tangan, membuat nyalinya seperti dipatahkan.
“Itu itu ituuuu… itu ularnya!” Aiza hiteris menunjuk ular yang merayap di depan.
Akhmar tampak santai saja, melangkah terus. Jarak ular hanya sekitar dua meter saja. “Ayo, sini! Nggak apa- apa!” ajak Akhmar menoleh ke arah Aiza.
Aiza berlari dengan cara melompat- lompat sambil menjerit, lari ngibrit hingga sampai ke jalan. Napasnya ngos- ngosan.
“Ya Allah, mengerikan sekali ini!” Aiza mengelus- elus dadanya sendiri. mengatur napas.
“Ular itu nggak akan mengganggu kita kalau kita nggak mengganggu dia. juga nggak mengejutkannya. Itu sih kalau dia nggak kelaparan.”
“Kalau kelaparan?” Mata Aiza membulat menatap Akhmar yang terlihat tenang.
“Yaaa kita bisa ditelan.”
Aiza mendengus. Akhmar masih sesantai itu saat berada di ambang maut. Raut wajah Aiza mendadak mendung. Matanya berembun. “Ini semua gara- gara kamu.”
Akhmar diam. Ia siap mendapat omelan dari mulut Aiza yang mungil. Ia sadar semuanya memang kesalahannya. Sumber masalah adalah dari dirinya.
__ADS_1
Well, silakan mengamuk!
BERSAMBUNG