
"Aiza sakit perut," celetuk Aiza yang entah kenapa alasannya hampir sama seperti yang dilontarkan Akhmar. Mungkin saja mereka memang sehati.
Qanita mengernyit heran. "Loh, jadi benar kamu nangis karena mencret?"
"Siapa yang bilang Aiza mencret?"
"Akhmar."
Aiza terkesiap. Lidah Akhmar suka nyablak kalau ngejawab. Enak aja ngatain mencret. Bikin malu aja.
"Masak sih kamu sampai nangis cuma gara- gara mencret? Apa parah banget mencretnya?" tanya Qanita.
"Sakit banget. Sakit." Aiza meremas pagar yang dia sentuh sambil membayangkan wajah Akhmar.
__ADS_1
"Kalau gitu kita ke puskesmas yuk," ajak Qanita cemas.
"Nggak usah, Umi. Ngantuk."
"Loh, nanti tambah parah gimana?"
"Minum obat aja. Aiza mau ke kamar." Aiza meninggalkan Qanita, melangkah menuju kamar sambil mengusap matanya yang mulai basah.
Melihat putrinya sedih, Qanita pun tak tega. Ia menemui Ismail di kamar. Suaminya itu tengah duduk di sisi kasur dengan ekspresi gundah.
Ismail menatap istrinya dengan mata membelalak. “Loh, apanya yang dikorbankan? Justru Aiza itu di posisi beruntung sekarang, sebab dia mendapatkan pria soleh seperti Aldan. Siapa pun gadis yang menikah dengan Aldan, artinya dia itu beruntung, begitu juga dengan Aiza. Jadi tidak ada yang salah dengan keputusan ini.”
“Tapi kan Aiza itu sudah besar. Dia seharusnya memiliki kebebasan untuk memilih.”
__ADS_1
“Memilih yang salah, begitu? Biarkan jodohnya dipilihkan olehku, aku jamin rumah tangganya akan menampilkan surga saat dia hidup bersama dengan laki- laki seperti Aldan. Kalau Aiza dibiarkan memilih jodoh sendiri, maka dia pasti akan memilih Akhmar, begudal bajing*n itu! apa kamu mau anakmu menikah dengan pria berandalan itu? akhlaknya rusak, modal agama pun nggak ada!” Ismail membayangkan wajah Akhmar dengan geram.
“Tetap saja, seharusnya Zahra yang menikah. Dan nggak sepatutnya Aiza yang menggantikan.”
“Jangan sebut nama itu lagi! aku tidak sudi mendengar nama itu di keluarga ini! dia bukan anakku lagi! bikin malu keluarga, kabur dengan laki- laki! Memalukan sekali!” Suara Ismail terdengar tinggi, kesal bukan main. “Dia itu kan sudah dewasa, pikiran pun matang. Bagaimana bisa mengambil keputusan untuk kabur di hari penting. Apa dia nggak mikir bagaimana muka kedua orang tuanya? itu namanya sengaja mempermalukan orang tua! Pengecut!”
“Lebih baik kita cari Zahra sampai ketemu. Dia harus bertanggung jawab!”
“Sudah kubilang, jangan sebut nama itu lagi! nggak perlu lagi mencari dia. biarkan dia pergi bersama laki- laki pilihannya. Entah apa yang sudah dia lakukan di luaran sana bersama laki- laki yang bukan mahromnya. Najis! Murahan! Memalukan! Lagi pula, kemana kita akan mencarinya? Sudahlah, jangan pernah sebut dia lagi! Aku nggak akan pernah mengakuinya di rumah ini. Kalau suatu saat dia kembali, jangan pernah ada yang membukakan pintu untuknya! Sebab semenjak dia meninggalkan rumah, dia bukan termasuk ke dalam anggota keluarga ini!” Suara Ismail bergetar penuh amarah.
Selalu begitu! Setiap kali seorang anak melakukan kesalahan, Ismail pasti mengeluarkan maklumat yang sama, bahwa ia tidak mengakui anaknya lagi. Sekali pun seorang anak bersalah, Qanita sebenarnya tidak mau menghakimi dengan perilaku yang buruk, cukup dihukum dan diberi nasihat sesuai ajaran agama.
***
__ADS_1
Bersambung
Maaf pendek, soalnya sedang kejar target di sebelah 🥺🥺 ngos-ngosan ini.