
Aiza memasuki rumah kecil yang ruangannya juga mungil. Tapi bersih. Nyaman. Tidak ada sofa, tidak ada meja makan. Juga tidak ada hiasan apa pun.
Saat memasuki kamar, ia hanya mendapati kasur lesehan serta satu lemari kecil. Tidak ada wc di kamar itu, wc ada di luar. Rumah itu hanya terdiri dari tiga ruangan. Tak lain ruang tamu, kamar, dapur yang menyatu dengan ruangan makan, serta kamar kecil.
Tak masalah bagi Aiza tinggal di tempat itu. Ia baru saja menarik uang tabungannya dari ATM dan memanfaatkannya untuk membayar kontrak dimuka. Ia harus berhemat sebab uang tabungannya tidak banyak. Uang itu harus bisa ia manfaatkan untuk kehidupannya yang sekarang.
Untungnya hari ini adalah hari minggu, Aiza tidak sekolah. Ia membaca Al Quran di hape sebentar. Kemudian memasuki kamar kecil, hendak mandi.
Meski kamar mandi itu sempit, namun bersih. Hanya saja cat dindingnya sudah tidak bagus lagi sehingga menampilkan pemandangan yang buruk.
Baru saja Aiza menyiram tubuhnya dengan segayung air, ia dikejutkan oleh kedatangan makhluk mungil ciptaan Tuhan yang menggelikan baginya.
"Kecoaaaaaaa....!" Aiza menjerit kalang kabut. Ia membuka pintu hendak keluar, namun baru ingat kalau saat ini ia sedang dalam keadaan tanpa busana.
Lah, jadi bagaimana ini? Kecoa yang menggelikan itu malah berlarian mendekati Aiza. Elah, ngejekin dia.
Aiza melompat- lompat di tempat, lalu lari ke sana kemari menghindari si kecoa. Tak dapat akal, ruangan yang sempit membuatnya tak bisa bergerak lebih leluasa. Ia terus menjerit hampir menangis. Si kecoa benar- benar luknut, enak saja nguberin orang. Dijauhin, eh dianya malah mendekat.
Handuk mana handuk? Elah si handuk pun nggak ada. Aiza baru ingat kalau ia masuk ke kamar mandi tanpa membawa handuk. Gimana mau membawa handuk, lah Aiza saja belum membeli handuk.
Dari pada pingsan ketakutan, Aiza menghambur keluar sesaat setelah menyambar kemeja lalu menempelkan ke bagian depan sekenanya, menutupi seperlunya.
"Waaaa......" Aiza lari ngibrit.
Tiba- tiba tampak seorang pria menyelinap masuk rumah dan mencar sumber suara teriakan.
Cepat Aiza berkelit dan menyelinap masuk ke kamar sedetik sebelum si pria menatap ke arahnya. Untung saja ia berhasil masuk sebelum kondisinya yang hanya tertutupi sepotong kemeja yang dia pegangi itu dilihat orang lain.
"Ada apa? Ada apa ini?" Seruan dari luar terdengar keras.
__ADS_1
Aiza mengunci pintu kamarnya. Sekarang ia bingung dan panik menyadari tak ada sehelai pun pakaian miliknya di sana. Bagaimana mungkin ia bisa mandi tanpa membeli handuk dan pakaian ganti?
Aiza menepuk- nepuk keningnya sendiri sambil melompat di tempat.
"Haloo... Ada apa? Kenapa teriak- teriak?"
Suara yang bersumber dari luar kembali menggema.
Aiza menghentikan gerakan tubuhnya saat menyadari satu hal. Loh, itu kan suara Akhmar? Ya Allah... Kok bisa?
"Halooo...." Akhmar kembali berseru.
"Akhmar, itu kamu kan?" balas Aiza sambil mempererat kemeja yang hanya mampu menutupi bagian depan tubuhnya saja.
Pintu sudah dikunci, tapi tetap saja Akhmar merasa risih dengan kondisinya itu.
"Hei, kamu Aiza?" Akhmar mencari sumber suara. Menoleh ke kiri dan kanan. Ia mengenal suara Aiza.
"Apa?"
"Tolong usir kecoa di kamar mandi. Aku takut banget, mau mandi berasa kayak diuber setan," pinta Aiza.
Akhmar memasuki kamar mandi. Ia mencari- cari kecoa di berbagai sudut. Eh, tapi pandangannya malah menemukan benda yang menggantung.
Lah, itu kan be ha? Dan yang itu celana dalem. Ya ampun, Aiza ada- ada aja deh. Nyuruh nyari kecoa tapi malah disuruh nonton alat tempur wanita begitu?
Akhmar memalingkan pandangan. Dosa kalau dilihatin terus.
"Eh, apaan nih?" Akhmar melompat saat sesuatu merayap di punggung kakinya. Itulah makhluk kecil yang sejak tadi dicari.
__ADS_1
Owalaah... Begini nih jadinya kalau ngeliatin alat tempur wanita, kualat. Ditimpuk kecoa jadinya kan?
Akhmar menyentak kaki hingga si kecoa pun terjatuh. Dipijak dengan kaki lalu menyiram benda itu dan mengalirkannya supaya keluar dari lubang dan menghilang dari pandangan.
Sudah tifak ada lagi kecoa yang lain, Akhmar menuju pintu untuk keluar, namun ia balik lagi dan kepalanya menyembul masuk ke kamar mandi, kembali menatap dua benda yang menggantung tadi. Hanya sedetik, ia melenggang meninggalkan kamar mandi.
"Kecoa udah kubantai! Sekarang aman!" seru Akhmar.
"Loh, kok dibantai? Jangan dibunuh. Dia juga mau hidup!" balas Aiza. "Nggak boleh bunuh binatang, diusir aja."
Akhmar menggaruk kepalanya yang tak gatal. Aiza memang menggemaskan, semua ajaran dia kerjakan. Taat banget tuh cewek.
"Udah terlanjur. Kamu kenapa di dalem aja? Nggak mau keluar?" tanya Akhmar.
"Enggak. Kamu pergi aja dulu."
Aneh, apa ngajakin perak umpet kali ya?
Baru saja Akhmar melangkah hendak keluar, ia mendengar suara teriakan Aiza, "O ya, kamu kok bisa ada di sini?"
"Kontrakanku di rumah sebelah. Justru aku yang tanya kenapa kamu bisa ada di kontrakan ini? Kamu ngontrak di sini?" tanya Akhmar.
"Iya. Ya udah, kamu pergi dulu ya!"
Akhmar menurut saja. Ia melangkah keluar.
Setelah memastikan Akhmar sudah pergi, Aiza mengintip keluar, aman. Ia pun kembali ke kamar mandi untuk menjemput pakaiannya sendiri.
Ya Allah, sekarang aku bahkan tinggal bersebelahan dengan Akhmar. Mau berapa kejadian lagi yang membuat aku dan Akhmar tanpa sengaja dalam keadaan dekat begini?
__ADS_1
***
Bersambung