
"Sepi banget nggak ada Akhmar." Atep menyeletuk sambil mengembuskan napas kasar. Asap rokok turut serta menyembur dari mulutnya.
"Tauk tuh si Akhmar, sekarang nggak punya waktu buat kita." Enyong menyahuti.
Bajul diam saja. Sibuk berselancar dengan hape. Entah apa yang dia perhatikan di hape tersebut.
"Padahal kan Akhmar pentolan rombongan, tapi malah nggak pernah muncul dimari. Gawat tuh orang." Jambrong ikut nimbrung. Sesekali menggaruk keteknya yang gatal, sudah seminggu tidak mandi. Dialah rajanya pemalas, malas mandi, malas kerja, malas ngapa- ngapain. Tapi kalau makan nggak pernah absen.
"Semenjak dua menjak ini, Akhmar udah menjauh dari kita," celetuk Atep.
"Menurut lo, apa yang ngebuat dia jadi begini?" tanya Enyong.
Semuanya diam. Berpikir masing- masing.
"Biar gue telepon dia. Kali aja sakit keras tuh orang, kena azab," ucap Atep sambil menekan nama Akhmar di hape nya.
Panggilan terhubung dan Atep menekan tombol speaker.
"Ada apa?" Suara Akhmar terdengar lantang.
Enyong, Bajul dan Jambrong mendekati hape Atep.
"Lo dimana?" tanya Enyong.
"Masih idup kan?" sahut Jambrong.
"Takut aja lo kenapa- napa, aneh aja kok nggak gabung dimari lagi," celetuk Atep.
"Kita lagi ngumpul ini," sahut Enyong.
"Perut gue mules, ngeliat muka kalian udah kayak ngeliat belakangan sapi," jawab Akhmar yang tak ingin mengakui bahwa saat ini sedang disibukkan dengan kegiatannya hafalan Al quran atas perintah Aiza. Alasan itu tentu akan menjadi bahan tertawaan teman- temannya.
"Seriuslah, Mar. Lo kenapa nggak gabung ama kita lagi? Nggak seru kalau nggak ada lu." Jambrong berucap dengan berapi- api.
__ADS_1
"Udahlah, biarin aja kalau Akhmar maunya begitu. Palingan kalau bosen, dia bakalan balik ke kita lagi," celetuk Bajul.
"Pala lo peang, Akhmar itu emang seharusnya ada bersama kita. Kita kan begini udah sejak SMA, masak main ngilang gitu aja?" Atep ngegas.
Bajul hanya terkekeh saja.
"Kalian tau kalau gue diusir dari rumah. Gue mesti fokus kerja supaya bisa menyambung hidup," jawab Akhmar.
"Halah, kalau urusan duit mah gampang. Kami bakalan patungan buat lo. Urusan makan elo, kebutuhan elo, dan biaya hidup elo, itu gampang," sahut Atep.
"Bentar lagi gue kesitu," jawab Akhmar.
"Seriusan lo mau kemari?" tanya Atep girang.
"Hm." Akhmar memutus sambungan telepon. Ia menyambar jaket dan langsung keluar mengendarai motornya.
Sebenarnya ia sudah tidak berminat berkumpul dengan teman- temannya di persimpangan jalan, setiap kali pulang mengaji, ia langsung pulang ke rumah untuk melakukan hafalan Al quran. Namun karena malam ini ada yang ingin dia selesaikan, maka ia harus keluar menemui teman- temannya.
Tak berapa lama kemudian Akhmar sampai di tempat tujuan, ia mematikan kendaraan tepat saat ban motornya berhenti di dua centi dari hidung Atep yang tengah jongkok.
"Untung idung lo pesek, kalau mancung, pasti udah kena serempet tuh idung." Bajul terkekeh.
Ekspresi wajah Akhmar datar, tatapannya pun tak biasa. Candaan teman- temannya tak membuatnya ikut tertawa seperti biasanya.
Akhmar menyilangkan tangan di dada, menatap nanar wajah- wajah di hadapannya.
"Siapa diantara kalian yang kurang ajar sama Aiza?" tanya Akhmar dengan nada menghakimi.
"Semua mah demen ngegangguin Aiza, mukanya imut kayak boneka patung. Gimana bisa kuat nahan nafsu?" Jambrong menyeletuk, belum menyadari letak kekesalan Akhmar.
Atep menyenggol Jambrong, memberi kode bahwa Akhmar sedang tidak bergurau.
"Ini bukan masalah mengganggu doang, tapi sampai pegang- pegang dia?" tegas Akhmar dengan suara mendominasi dan tatapan tajam.
__ADS_1
Menyadari kemarahan Akhmar, semuanya diam, bertukar pandang.
"Siapa yang ngadu?" Bisik Atep.
Enyong mengedikkan bahu.
"Siapa? Jawab!" bentak Akhmar membuat tiga tangan sontak terangkat dan menunjuk Enyong.
Muka Enyong yang menjadi pusat perhatian, matanya berputar menatap tiga telunjuk di depan hidungnya.
"Emangnya lo beneran suka sama Aiza? Lo nggak rela dia diusilin?" tanya Enyong sambil bangkit berdiri.
Akhmar langsung turun dari motor. Wajahnya masih tampak sangat tenang saat ia melayangkan kepalan tangan dan meninju wajah Enyong.
"Itu dari Aiza." Akhmar kembali naik ke motornya.
Enyong terkejut sambil memegangi sudut bibirnya yang berdarah. Pukulan Akhmar memang hanya satu kali, tapi tenaganya luar biasa dahsyat.
"Jangan ada yang berani macem- macem lagi sama Aiza. Urusannya sama gue!" Akhmar memutar motor dan berlalu pergi.
Semuanya kembali bertukar pandang.
"Ternyata Akhmar bener- bener jatuh cinta sama Aiza. Ck ck ck..." Bajul mengangguk- anggukkan kepala.
"Dia nggak rela ceweknya dianuin sama orang lain," imbuh Jambrong. "Masyaa Allah.. bibir lo dower, Nyong! Memble! Ha haaaa..." Jambrong tertawa puas menatap bibir Enyong yang mendadak mekar seperti mawar.
Yang lain ikut tertawa.
"Sialan! Udah tau temen menderita malah diketawain. Bangs*t kalianlah!" Enyong pasang muka sedih.
Bajul mengambil tisu dan mengelap luka di wajah Enyong, Atep ke warung mencari betadin untuk segera mengoleskan betadin tersebut ke luka itu.
***
__ADS_1
Bersambung
Klik like yups