Terjerat Pesona Preman Insaf

Terjerat Pesona Preman Insaf
53. Guru Killer


__ADS_3

“Ayo mulai!” titah Aiza.


“Hal ataaka hadiisul…”


“Hei!”  Aiza memukul punggung tangan Akhmar dengan penggaris kayu yang sejak tadi dia pegang.


Sontak Akhmar menarik tangannya yang ada di atas meja.  Menyembunyikan ke bawah meja.  Buset, pukulan Aiza dahsyat banget! 


“Bisakah bicara tanpa harus memukul?” Akhmar mengelus punggung tangannya yang memerah dengan tatapan kesal.


“Ini belum seberapa.  Aku dulu dididik dengan keras sama guru ngajiku loh.  Setiap kali salah bacaan langsung dijewer.  Kalau telat setor hafalan di batas waktu yang ditentukan, aku disuruh berdiri dengan satu kaki selama setengah jam sambil terus mengulang hafalan sampai- bener- bener hafal.  Dan kalau nggak hafal- hafal juga, aku disuruh solawatan sampai seribu kali.  Apa nggak domble itu bibir?  Peraturan itu juga berlaku untukmu,” tegas Aiza mengingat masanya belajar mengaji.


Akhmar hanya diam.  Separah itu proses untuk mendapat kata maaf dari Aiza setelah insiden serempetan kemarin.


“Hukuman yang diberikan bukan untuk menyiksa, tapi tujuannya untuk kebaikan.  Menurutku bagus.  Jadi kamu ngikut aja, jangan protes.  Masih mau ngelanjutin enggak?  Atau nyerah?” Aiza mengangkat alis.


“Lanjut,” balas Akhmar tenang.  “Memangnya aku tadi salah?  Bukannya bacaanku udah benar?”


“Setiap kali baca ayat- ayat suci, baca ta’awudz dan basmallah dulu!”


“Oh…”  Akhmar membuang napas.  Ternyata bukan salah lafaznya, melainkan ada yang ketinggalan.  “Taawudz itu apa?”


“Ya Allah…”  Aiza terbelalak kaget.  Ta’awudz pun akhmar tidak tahu?  Tapi Aiza kemudian langsung mengubah ekspresinya yang kaget itu menjadi biasa saja.  Ia tidak boleh mematahkan semangat Akhmar yang sedang ingin berjuang untuk menghafal ayat suci.  “Ta’awudz itu adalah doa memohon perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk. A’udzubillahiminasyaitonirrojim.”


“Oh… Itu bunyinya.”  Akhmar lalu membaca taawudz, dilanjutkan membaca basmallah, dan kemudian membaca hafalannya.  Hampir setiap ayat, Akhmar mendapat teguran dari Aiza karena dianggap salah harakat nya, panjang pendeknya, dan masih banyak lainnya meski sebenarnya Akhmar sudah benar- benar hafal dengan bacaannya.


“Oke.  Hafalan kamu sebenernya udah lancar dan lengkap.  Hanya aja, panjang pendeknya banyak yang salah, kamu perlu belajar banyak tentang panjang pendeknya bacaan itu,” komentar Aiza setelah Akhmar menyelesaikan bacaannya.


“Kalau gitu, aku butuh guru ngaji.  Kamu gurunya, bisa?”


Aiza membelalak.  Males banget punya murid resek dan perilakunya nggak sopan kayak Akhmar.  Gadis itu bersungut. 


“Kamu bisa belajar ngaji sama yang lain.  Guru ngaji nggak Cuma aku,” ucap Aiza datar.

__ADS_1


“Kamu membatasi orang yang ingin belajar agama sama kamu?”


Ugh… ngejawab mulu!  Aiza kesal sekali.  Padahal Aiza mengenalkan Akhmar pada hafalan karena ia ingin Akhmar mengenal lebih dekat dengan agama, tapi kenapa Aiza tak ingin membantu Akhmar untuk bisa mengaji? 


Jujur saja Aiza ingin menolak permintaan pria itu, tapi tidak ada alasan untuk Aiza menghalangi orang lain menuntut ilmu.  Apa lagi balasannya adalah catatan amal kebaikan yang kelak akan menjadi bekal untuk menolongnya.  


Mempertimbangkan hal dahsyat yang mungkin akan dia terima, Aiza merasa berat untuk menolaknya.


“Kalau begitu, syaratnya kamu harus hafalin surat Al- Fajr.  Batas waktu seminggu!” ucap Aiza.  “Setelah hafal, kamu baru boleh datang dan belajar mengaji ke sini.  Tapi kalau melewati batas waktu, maka kamu gagal.”


“Itu berapa ayat?”


“30 ayat.”


Akhmar terkesiap.  “Tambah panjang lagi jumlah ayatnya.”


“Ayatnya pendek- pendek.”  Syarat yang cukup fair.    


Mendengar itu, Aiza membelalak heran.  Nyeplos banget ngomongnya.  “Kamu sendiri yang merugi.”


Akhmar mengangkat alis.  Aneh, awalnya ia mengutuk sikap Aiza yang mendesaknya hafalan hanya demi supaya kasusnya tidak diperpanjang, tapi sekarang ia malah jadi penasaran, bagaimana supaya bisa membaca Al Quran.


“Apakah orang yang ingin menuntut ilmu itu harus dipersulit begini?” Akhmar ingin mendengar jawaban Aiza.


“Setiap orang yang ingin naik level pasti mendapat ujian kan?  Orang mau naik kelas aja mesti harus mengikuti ujian dulu.  Mau masuk jadi tentara aja mesti lulus tes dulu.”


Akhmar puas mendengar jawaban Aiza.  Gadis cerdas.


“Kalau di waktu yang udah ditentukan kamu belum berhasil menghafalnya, maka jangan datang kemari.  Tapi kalau kamu yakin udah hafal, maka Bawa Al qur’an, alat penunjuk untuk mengaji, dan berpakaian rapi.  Jangan pakai baju begini!”  Aiza menunjuk pakaian Akhmar dengan dagunya.


Akhmar menatap penampilannya sendiri.  mengenakan kaos oblong dan celana jeans.  Tiba- tiba terbayang di kepalanya bagaimana ia mengenakan baju koko dan sarung, serta kopiah di kepala.  Ia menggeleng pelan.  


“Jam berapa aku harus datang kemari?” tanya Akhmar.  Huh, kenapa ia menuruti gadis itu?  

__ADS_1


“Ba’da isya.  Tapi itu kalau kamu beneran hafal ya!”


Akhmar mengangguk.


“O ya, kamu masuk tadi lewat mana?  Kenapa tiba- tiba bisa ada di halaman rumahku?”


“Manjat pagar!”  jawab Akhmar enteng.


Aiza mengernyit kaget.  “Pantesan.  Lain kali kalau masuk tuh lewat pintu pagar, jangan manjat pagar.  Kayak maling aja.”


“Aku nggak nyaman lewat pintu pagar.”


“Kenapa?”


“Takut nggak dibolehin masuk.  Aku nggak kenal sama orang- orang di rumah ini.  kalau aku muter lewat depan dan malah ketemu sama ayah kamu, pasti nanti aku ditanya- tanyain, makanya manjat pagar.”  Akhmar menggaruk caruknya yang tak gatal.


“Justru kalau kamu manjat pagar, kamu bisa digebukin orang.  Dan kamu pasti bakalan aman masuk ke sini kalau penampilanmu rapi dan baik.  Bukan penampilan kayak preman begini.  Mana pakai kalung lagi.  Aku nggak menerima murid pakai kalung ya!  Laki- laki nggak boleh pakai kalung.”  


Akhmar mendengarkan saja.  


“Ya udah.  Sekarang kamu pulang!” titah Aiza. 


Akhmar bangkit berdiri, melangkah meninggalkan ruangan luas itu.  Ia menoleh saat berada di ambang pintu.  Entah kenapa ia merasa sangat nyaman berada di rumah itu, rasanya tak ingin melangkah pergi dari sana.  aneh!


“Lewat pintu ya!  jangan manjat pagar!” seru Aiza membuat Akhmar kembali menoleh.  


Pria itu hanya diam.  Ia lalu melangkah menyisiri teras samping rumah, menuju ke depan.  Ia harus melewati halaman depan untuk sampai ke pintu pagar.


“Loh, kamu siapa?” 


Suara itu membuat Akhmar sontak terkejut dan menoleh.  


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2