Terjerat Pesona Preman Insaf

Terjerat Pesona Preman Insaf
71. Saling Curhat


__ADS_3

“Kita gimana pulangnya?  Nggak mungkin kan bermalam di sini?” celetuk Aiza sambil menyalakan senter hape nya supaya ada penerangan.


“Sabar ya, nanti kalau ada kendaraan yang lewat, akan ku hentikan.  Kita tunggu aja dulu”


Wuuush… Angin kencang membawa hujan, tempiasnya mengenai sebagian tubuh Aiza. Gadis itu sedikit menggeser duduknya, namun tetap saja tampias hujan mengenainya.  Ia tak mau menggeser posisi duduknya lagi, karena jika ia menggeser lagi, maka ia akan sangat dekat dengan Akhmar.


Gadis itu melirik Akhmar, tepat saat pria itu juga tengah menatapnya. Mereka bertukar pandang sebentar. Aiza mengalihkan pandangan.


"Kamu geser ke sini aja. Lama- lama kamu bakalan basah kalau di situ terus." Akhmar bangkit berdiri. Lalu duduk di bawah, tepat di depan meja. Di sana aman, tidak kena hujan, tapi celananya kotor. Ia tak peduli itu. Yang penting Aiza aman dari serangan hujan.


Aiza menggeser duduknya, berpindah ke tempat Akhmar tadi. Ia melongokkan kepala melihat Akhmar yang duduk tanpa alas.


"Kamu nggak apa- apa duduk di situ?" tanya Aiza.


"Enggak. Santai aja."


Aiza memeluk kakinya yang terlipat. Dingin.


"Apa kamu nggak mau ngabarin umi mu, umi mu pasti khawatir." Akhmar mendongak menatap Aiza yang berada di atas.


"Enggak. Setau Umi, aku sedang les bahasa Arab sekarang."


"Anak- anak ngaji belajar sama abahmu ya?"


"Mungkin." Aiza menghela napas, tak mau membicarakan abahnya. Lebih baik membahas hal lain. "Kamu sendiri? Apa nggak dicariin keluargamu ngilang gini?"


"Aku mah bebas. Aku tinggal di kontrakan, sendirian."


"Pantesan."

__ADS_1


"Pantesan ngapa?" tanya Akhmar.


"Nggak keurus."


Akhmar tersenyum.


"Emangnya orang tua kamu nggak ada di kota ini? Mereka di luar kota?" tanya Aiza yang mulai tertarik ingin mengetahui lebih banyak tentang kehidupan Akhmar.


"Mama udah meninggal sejak aku bayi."


"Eh, sori. Trus papa kamu?"


"Papa di rumah bersama dengan kakak laki- lakiku."


"Kalau papa kamu juga ada di kota ini, kenapa kamu mesti ngontrak? Kenapa nggak tinggal sama papamu aja?"


Bayangan Akhmar melayang pada kejadian terakhir dimana ia diusir oleh papanya dengan kemurkaan. Jelas terlihat amarah yang memuncak dari papanya itu. Gemuruh di dada Akhmar memuncak mengenang itu. 


"Aku diusir."


"Loh? Pasti karena kamu jahat?"


Kata- kata itu membuat Akhmar langsung menoleh ke arah Aiza.


"Ngeliat sikap dan tingkahmu, pasti karena kamu kelewatan makanya papamu mengusirmu," imbuh Aiza tanpa peduli dengan sorot mata Akhmar.


"Papa selalu membanding- bandingkan aku dengan kakakku. Katanya aku sangat buruk, sedangkan kakakku baik sekali. Katanya aku nggak bisa menjadi seperti kakakku. Ya tentu aku nggak bisa menjadi kakakku karena aku adalah aku."


"Seenggaknya mencontoh kakakmu. Itu maksud papa kamu."

__ADS_1


Akhmar membuang napas kasar. Gedeg sekali, kenapa Aiza juga membela papanya? Di sini, Akhmar ingin menunjukkan bahwa dia selalu dipojokkan oleh papanya, kebanyakan dituntut supaya menjadi orang lain, dipaksa mengubah kebebasannya. Tapi malah tidak mendapat respon baik dari Aiza. Percuma ia bicara.


"Apa pun kasusnya, nggak ada orang tua yang menginginkan anaknya menjadi baj*ngan. Kalau anak salah, pasti diluruskan. Hanya aja, kita terkadang salah menerima sikap mereka," ucap Aiza.


"Itu berlaku untukmu juga kan?"


"Aku tau aku salah karena selalu bersikap buruk ke abah, aku nggak bisa menerima kenyataan abah yang tukang kawin, sebab aku nggak rela umi disakitin."


Akhmar terdiam. Mereka memiliki alasan yang berbanding terbalik kenapa hubungan mereka bisa buruk terhadap orang tua.


"Sebenernya aku juga nggak mau jauh dari abah begini. Aku tau kok abah memiliki hak yang wajib aku lakukan, aku wajib hormat dan patuh terhadapnya, tapi aku begini cuma ingin menunjukkan wujud protes dan abah sadar bahwa apa yang abah lakukan itu salah. Memilih wanita- wanita muda yang cantik untuk diperistri itu bukan jadi kebenaran selagi  alasannya karena nafsu, berbeda menikahi janda tua renta demi menaikkan derajat mereka. Atau janda yang punya anak banyak dan butuh nafkah. Bahkan manusia tuh buat adil aja nggak akan sanggup."


Akhmar memahami letak kekesalan Aiza, ia mewakili suara hati wanita di separuh bumi ini.


"Kamu kalau nikah bakalan punya istri banyak juga apa enggak?" Aiza melirik Akhmar.


Yang dilirik malah terkekeh. 


"Kok, ketawa?" tanya Aiza.


"Aku jamin cukup satu istri."


"Kenapa? Bukannya laki- laki memiliki peluang untuk memperistri lebih dari satu?"


"Pertama, aku manusia, dan pasti nggak akan bisa adil. Kedua, aku dengar dari guru agama, katanya dosa istri dan anak itu ditanggung suami kalau suami nggak bisa menjadi imam yang baik dan mengajarkan yang baik pula pada anak istri. Dosaku aja nggak keitung, gimana kalau ditambah dosa anak dan istri? Di neraka bisa- bisa aku nggak diangkat- angkat gara- gara menghabiskan dosa yang entah berapa banyak."


"Tau dosa juga kamu?" Aiza tertawa.


Akhmar malah terdiam. Pembicaraan dengan Aiza menjurus ke agama, membuatnya ingat pada semua kesalahannya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2