Terjerat Pesona Preman Insaf

Terjerat Pesona Preman Insaf
56. Gawat Darurat


__ADS_3

Akhmar melangkah memasuki halaman luas, melewati pagar besi dengan corak klasik berukuran tinggi.  Langkah lebar membawanya sampai ke teras.  Manik matanya melirik ke kiri dan kanan. Sepi.


Teras cukup terang benderang dengan pencahayaan yang cukup.  Ia benar- benar risih dengan penampilannya yang sekarang.  Mengenakan baju koko warna cokelat, kopiah hitam, celana gombrang, serta membawa sebuah mushaf.  Mirip seperti penampilan ustad.


“Berasa jadi kayak orang begok gue di sini.  Astaga!”  Akhmar mengumpati dirinya sendiri.  Kenapa mendadak bisa menjadi sperti orang tolol begitu?  Bahkan yang membuatnya menjadi seperti orang bodoh adalah levelan anak yang masih berseragam putih abu- abu.  Rasanya ia menjadi konyol sekali.


Ia ingat tadi sempat bingung saat berada di pasar membeli pakaian yang sekarang dia kenakan itu.  beberapa kali memilih dan mengganti pakaian, mencari dan terus mencari, akhirnya pilihannya jatuh pada koko yang kini ia kenakan.  Sungguh dia merasa telah diperdaya oleh akalnya sendiri.


“Siapa di situ?” seru Zahra yang memergoki Akhmar berdiri celingukan di depan rumah, enggan masuk.


Akhmar hanya terpaku sambil membenahi kopiahnya yang sejak tadi rasanya tidak pas di kepala.  


“Oh… Kamu?  Akhmar kan?” seru Zahra yang berdiri di teras.  “Mau belajar ngaji?  Ya udah, masuk aja!”


Mendengar itu, Akhmar pun melangkah masuk melewati sisi samping rumah.  


Zahra masuk.

__ADS_1


Syukurlah kakak ipar tidak menanyai banyak hal kepadanya.  Eh, kok kakak ipar?  Akhmar melangkah melewati teras samping rumah.  Ia sudah mengetahui kemana harus melangkah.  Tepatnya ke ruangan tempat mengaji yang pernah dia masuki.


Langkahnya terhenti di ambang pintu menatap anak- anak kecil yang duduk berjejer rapi di ruangan.   Mereka usianya kisaran empat sampai sebelas tahun.  Jumlahnya banyak.  Anak- anak perempuan duduk berbaris rapi di sebelah kiri, dan yang laki- laki berbaris rapi di sebelah kanan.  Suara anak- anak mengobrol dan bercanda tawa terdengar riuh, meramaikan suasana.  Malah ada dua orang anak laki- laki yang berkejaran.


“Eh, ada Pak ustad!” seru salah seorang anak menatap kedatangan Akhmar.


Anak- anak yang duduk dengan posisi membelakangi Akhmar itu sontak menoleh semua.  Sejurus pandangan anak- anak tertuju ke arah Akhmar.


Astaga!  Dipanggil Pak ustad?  Dan bagaimana bisa Akhmar duduk bersama dengan anak- anak itu?  Apakah ini artinya ia harus belajar mengaji di tengah keramaian anak- anak?  Mau ditarok mana mukanya saat ditatap dan diejek anak- anak itu karena di usianya yang sudah sedewasa itu baru belajar mengaji?  Akhmar mengurungkan niat, lebih baik ia pulang saja.  Malu duduk bersama dengan anak- anak kecil.


Akhmar balik badan, berjalan meninggalkan pintu.  Tapi bagaimana dengan janjinya dengan Aiza?  Laki- laki yang dipegang adalah kata- katanya.  Lagian, kenapa ia jadi sekonyol ini?  kenapa harus mau menuruti perkataan Aiza?  Kesempatan untuk setor bacaan adalah hari ini.  kalau dia sampai telat, maka ia akan gagal untuk belajar mengaji di sana.


Lagi- lagi ia menjadi pusat perhatian anak- anak.  Mereka yang berlarian pun langsung duduk, dipastikan anak itu adalah anak paling bandel.  Dari tingkah dan mukanya sudah kelihatan.  Keriuhan mendadak lenyap.  Ruangan sepi.


“Waalaikumsalam, pak ustad!” seru bocah bandel tadi, menyindir Akhmar yang memasuki ruangan tanpa mengucapkan salam.  Mereka dipastikan terbiasa mengucap salam saat memasuki ruangan.


Anak- anak lain serentak terkekeh kecil.  

__ADS_1


“Hus, diam!” sarkas Akhmar dengan tatapan tajam, membuat anak- anak langsung terdiam dan tak berkutik. 


Akhmar lalu berkeliling mengawasi anak- anak itu.  berdiri menatap wajah- waah imut bocah- bocah berjilbab dan berkopiah.  “Kenapa guru ngaji kalian belum datang?”


“Bukannya Pak ustad yang gantiin Kak Aiza?” Bocah bandel tadi membalikkan pertanyaan.


Menjawab terus tuh bocah.


“Gue bukan guru ngaji.  Gue juga sama kayak kalian, mau ngaji.”  Akhmar menghempas duduk di sisi para bocah.


Mereka melongo.  Namun tak mau banyak tanya mengingat Akhmar galak sekali.


“Assalamu’alaikum!”


Suara mengguntur diiringi langkah kaki memasuki ruangan, langsung dijawab dengan salam serentak oleh anak- anak.


Sosok pria paruh baya berpenampilan khas kyai muncul dan langsung duduk apling depan, menghadap ke arah anak- anak.  Sorban di pundak.  Kopiah putih di kepala, serta sarung kotak- kotak.

__ADS_1


Akhmar terkejut menatap wajah pria paruh baya itu.  Bukankah itu si tua Bangka yang kepalanya pernah kena timpuk sepatunya?  Waduh, gawat!


BERSAMBUNG


__ADS_2