
Akhmar. Iya, pria yang berdiri di ambang pintu itu adalah Akhmar. Hampir saja Aiza tidak mengenali pria itu mengingat penampilan Akhmar yang kini tampak jauh berbeda. Rambutnya sudah tidak gondrong lagi. rapi. Rambut itu tampak kelimis dengan minyak yang memolesnya. Wajahnya bersih, tetap tampan. Rahang kokoh dengan leher yang berotot, juga tubuhnya yang six pack tak berubah. Mengenakan kemeja warna putih dan tas menggantung di pundak.
Ya Allah.. Akhmar sudah ada di depan mata. Setelah sekian lama, akhirnya Aiza dapat bertemu kembali dengan pria yang selama ini dia nantikan. Hati Aiza berbunga menatap wajah tampan itu. Kebahagiaan memuai di benaknya. Aiza ingin berlari dan mendekati Akhmar untuk menanyakan kabar pria itu, namun ia menahan diri. Ia tahu membatasi sikap. Sebahagia ini saat kembali bertemu dengan pria itu.
Akhmar mematung saat pandangannya mendapati sesosok gadis yang ebrdiri di tengah- tengah ruangan, mengenakan kerudung warna biru, dengan bros kecil di kepala, menambah kesan indah. Mata Akhmar beradu pandangan dengan mata Aiza.
Segala rasa berkecamuk dalam pikiran Aiza. Masihkah Akhmar menunggunya? Ataukah sudah ada gadis lain yang mengisi hati Akhmar? Dan... Bagaimana perasaan Akhmar saat tahu bahwa ia kini malah menjadi calon istri kakaknya sendiri? Rumit.Aldan merangkul pundak Akhmar dan menggeretnya mendekati Aiza. Saat itu, tatapan mata Akhmar masih tertuju ke wajah Aiza.
“Akhmar?” Aldan tersenyum girang. “ “Capek?” tanya Aldan memijit pundak diknya.
Akhmar hanya menggeleng singkat. Tatapannya tertuju ke arah Aiza. Sosok gadis yang kini berdiri di tengah- tengah ruangan, mengenakan hijab panjang dengan bros cantik di kepala yang menambah kesan indah. Mereka bertukar pandang.
Tatapan Akhmar tampak begitu dalam ke mata bulat Aiza.
__ADS_1
“Oh ya ya, ada kabar gembira untukmu. Kemarilah!” Aldan merangkul Akhmar dan menggeretnya mendekati Aiza. “Kamu datang disaat yang tepat. Kakakmu ini sebentar lagi akan melepas masa lajang. Selama ini kamu ingin mendengar kabar kalau Mas mu ini menikah kan? Kenalin, ini Aiza. Calon istri Mas.” Aldan menunjuk Aiza dengan suka cita.
Gurat semangat dan raut berseri- seri di wajah Akhmar berubah. Kini menegang. Pria bertubuh gagah dan atletis itu masih terpaku menatap Aiza. Demikian sebaliknya. Mata mereka seperti sedang berkomunikasi.
Tanpa sadar tali tas di pundak Akhmar terjatuh, melorot hingga ke pergelangan tangan.
"Aiza, ini adikku, namanya Akhmar Adhyasta. Tiga tahun dia tinggal di tempat Pak De di Yogyakarta. Katanya mau belajar bisnis dan banyak hal di sana. Dan kurasa ilmu yang dia timba sudah cukup, ini makanya dia balik ke sini."
Masih tak ada respon antara Aiza dan Akhmar. Dua insan yang memiliki ikatan janji itu masih memaku dalam diam, bertukar pandang.
Tidak ada respon apa pun dari Akhmar.
“Kenapa kamu pulang nggak bilang- bilang? Kenapa nggak ngabarin? Kalau ngabarin kan bisa dijemput?” Aldan mendekati Akhmar dan memeluk sebentar, menepuk pundak adiknya penuh rasa bangga.
__ADS_1
“Kalau aku kabarin Mas, namanya bukan kejutan,” jawab Akhmar datar.
Ya, sikap Akhmar yang sekarang tampak lebih dingin. Apakah itu karena Aiza sudah meras asing pada Akhmar, atau memang Akhmar benar- benar bersikap sedingin es sekarang?
“Ayo, kemarilah. Duduk di sini! Kita mengobrol!” ajak Aldan.
"Silakan Mas lanjutkan aja, aku ke atas." Akhmar balik badan, lalu melangkah gontai menaiki anak tangga.
Aiza mengawasi langkah Akhmar hingga hilang dari pandangan. “Mas Aldan, aku pergi dulu! Ada urusan yang harus aku selesaikan.”
“Sekarang?” tanya Aldan.
“Iya. Permisi.” Aiza mengucap salam kemudian berlalu pergi.
__ADS_1
***
Bersambung