Terjerat Pesona Preman Insaf

Terjerat Pesona Preman Insaf
47. Jangan Dibela


__ADS_3

Adam sedikit menyeringai merasakan nyeri yang masih menyerang di dadanya.


“Pa, kita ke rumah sakit?” ucap Aldan cemas.


“Tidak usah.  Papa tidak apa-apa.”  Adam kembali memejamkan matanya sebentar dengan kepala menengadah menyandar di sandaran sofa.  Kemudian ia membuka mata sesaat setelah melepas telapak tangannya dari dada.  “Papa kecewa dengan sikap Akhmar.  Dia sungguh sangat keterlaluan.”


“Tapi nggak akan ada yang bisa memutus hubungan ayah dan anak.  Di dalam darah Akhmar, mengalir darah yang sama dengan papa.  Dan dia nggak akan pernah menjadi mantan anak Papa.  Akhmar tetap darah daging Papa.”


Adam tersenyum getir menatap wajah teduh sulungnya.  Selalu Aldan yang menjadi penenangnya.  Aldan, putra pertamanya yang sangat jauh berbeda dengan Akhmar.  Aldan begitu baik, perhatian dengan orang tua, taat beribadah, dan rajin mengaji.  Tapi Akhmar?  Kenapa dua lelaki yang terlahir dari satu rahim bisa memiliki sifat yang bertolak belakang?  


Adam kecewa dan sedih mengingat begitu banyak perjuangan, materi dan pengorbanan dihabiskan hanya untuk Akhmar, namun hasilnya malah menyakitkan ketika Akhmar sudah beranjak besar.  


Adam harus menangis beberapa kali karena kehilangan istri setelah beberapa jam istrinya tersebut melahirkan Akhmar.  Akhmar lahir prematur di kehamilan tujuh bulan kurang empat belas hari dalam kondisi yang mengenaskan.  Sesaat setelah lahir, kaki Akhmar bayi tidak bisa digerakkan, dan setelah diperiksa ternyata ada nanah di dalam tulangnya.  


Bayi Akhmar memiliki kelainan yang harus segera ditangani pihak medis.  Bahkan Adam yang saat itu masih hidup dalam kesederhanaan, harus menanggung biaya operasi untuk Akhmar yang jumlahnya tidak sedikit.  Cucuran keringat dan air mata telah Adam persembahkan demi memenuhi kebutuhan Akhmar dan Aldan yang saat itu masih berusia empat tahun.  Miris sekali hidupnya.


Bukan itu saja, sebulan setelah itu, Akhmar bayi mengalami pendarahan di kepala.  Pada awalnya Akhmar mengalami demam tinggi hingga muntah-muntah dan berakhir dengan kejang.  Butuh biaya yang jumlahnya fantastis untuk membuat Akhmar bisa hidup normal, tentunya Akhmar harus kembali menjalani operasi untuk mengeluarkan cairan di kepala.  Tentulah berat bagi Adam mengumpulkan dana dalam waktu sesingkat yang diharapkan.

__ADS_1


Adam rela menjual seluruh barang yang dia miliki demi kehidupan Akhmar kecil, dia juga berhutang kesana kemari.  Beruntung, Adam mendapatkan donasi dari penggalangan dana yang dibuka melalui sebuah situs internet, tak luput dari bantuan salah satu stasiun televisi hingga biaya operasi tertutupi.


Akhmar bayi pun berhasil sembuh dari sakitnya setelah jauh perjalanan dan pengorbanan yang Adam lakukan.  Adam yang rela mengorbankan hidupnya demi si buah hati, merasa lega melihat tumbuh kembangnya Akhmar yang semakin membaik.  


Sejak kecil, sifat Akhmar memang sudah terlihat berbeda dari Aldan.  Akhmar kecil yang mudah marah saat tidak mendapatkan mainan yang dia inginkan, Akhmar kecil yang sering menghantam dinding ketika disuruh mandi, Akhmar kecil yang sering memecahkan benda-benda di sekelilingnya saat keinginannya tidak terpenuhi.  Ya Tuhan.  Tingkah laku Akhmar sejak kecil memang sering membuat Adam marah, hingga Adam terkadang kehabisan kesabaran lalu meluapkan kekesalannya dengan memukul, mencubit, atau menjewer Akhmar.


Rasanya pengorbanan dan harta yang habis ia korbankan untuk Akhmar, terbayar dengan karunia Illahi yang ia terima saat ini.  Hidup berkecukupan dengan kekayaan yang mencukupi.


Lantas, inikah yang harus Adam terima setelah seluruh pengorbanan yang ia lakukan?  


“Pa, tempat dan lingkungan kami memang sama.  Tapi pergaulan, teman, dan tekhnologi yang kami pakai berbeda.  Akhmar hanya butuh sedikit perhatian dan nasihat.”


“Kamu tidak perlu terus membelanya.  Kamu sangat menyayanginya?”  Adam menatap Aldan lekat-lekat.


Aldan mengangguk.  “Dia adikku.”


Adam mengusap kepala Aldan penuh kebanggaan.  “Jika memang Papa jarang mengurus Akhmar, juga jarang mengurusmu, itu bukan tanpa alasan.  Yang Papa lakukan hanyalah untuk menghidupi kalian.  Karena Papa sayang sama kalian.”

__ADS_1


“Aku tahu itu, Pa.”


“Tapi Akhmar tidak mengerti akan hal itu.”


“Akhmar sejak dulu memang sifatnya angkuh dan tidak bisa menghargai orang tua,” celetuk Desi menimpali.


 “Pa, maafin Akhmar.  Dia tetap anak Papa.”  Aldan mengulang kalimatnya.  “Plis, cabut kata- kata Jahanam yang Papa ucapkan tadi.  Kasian Akhmar.  Ucapan orang tua, sama halnya dengan doa.  Papa ngatain Akhmar jahanam, sama aja Papa menyuruhnya terus berperilaku seburuk- buruknya manusia yang nantinya akan menghuni neraka Jahanam.  Kata- kata itu malah justru akan membentuk akhlak Akhmar menjadi seperti yang Papa ucapkan.”


“Jangan lagi kau bela dia hanya supaya papa kembali mengharapkan dia.  Hidayah itu tidak akan sampai jika tidak dijemput.  Hati Akhmar sudah diberikan titik hitam dan sulit hiodayah menembusnya.  Sampaikan pada Akhmar, jika suatu hari nanti terjadi hal buruk padanya, suruh dia mencari Papanya dan minta maaf.”  Adam bangkit berdiri dan berjalan dengan langkah lemas menuju ke kamarnya.


Aldan tertegun melihat gerak langkah lemah Papanya.   Desi pun terdiam.


***


Bersambung


Selalu setia like yups

__ADS_1


__ADS_2