Terjerat Pesona Preman Insaf

Terjerat Pesona Preman Insaf
24. Ancaman


__ADS_3

“Ini banyak saksi di sini, loh.  Semua orang melihat saat kamu menyerempet aku.  kalau aku mau, kita selesaikan ini di kantor polisi.”


Wajah Akhmar tampak lelah begitu Aiza menyebutkan kalimat itu.  ia terlihat pasrah.


Melihat ekspresi Akhmar yang langsung putus asa, Aiza merasa menang.  Artinya ancamannya berhasil.  Entah kenapa Aiza merasa penasaran pada pria begajulan di hadapannya itu.  meski casingnya urakan, namun rasa penasaran itu tak dapat dipungkiri. 


“Oke, aku minta maaf,” ucap AKhmar sambil menyodorkan tangannya ingin berjabatan tangan.


“Nggak semudah itu.”


Akhmar mengernyit.


“Kesalahan itu harus ada konsekuensinya,” imbuh Aiza.


“Jadi aku harus bagaimana?”


“Kamu tahu surat Al Balad?” tanya Aiza.


Lagi- lagi Akhmar mengernyit.  “Kenapa dengan surat itu?  aku tidak pernah membaca Al Quran, jadi jangan bertanya tentang ayat- ayat Al Quran.”


Aiza menghela napas.  Padahal tadinya ia ingin menyinggung tentang isi surat itu, yang di dalamnya terdapat tausiah mengenai pesan untuk bersabar dan berkasih sayang, sedangkan yang dilakukan Akhmar itu bertolak belakang.  tapi mendengar Akhmar yang mengaku tidak pernah membaca Al Quran, Aiza malah mendapat sebuah ide yang tiba- tiba muncul di kepalanya.  


“Dalam waktu tiga hari, kamu setor hafalan Al Balad ke aku.  maka urusan kita selesai,” ucap Aiza.

__ADS_1


Akhmar membelalak.  “Nggak nyambung!  Kenapa urusan menyerempet begini larinya ke hafalan?”


Aiza memalingkan pandangan.  “Ya sudah, kalau nggak mau, kita ketemu di kantor polisi aja.  Tuh, Ada cctv yang menunjukkan kalau kamu nyerempet aku tadi.”  Aiza menunjuk kamera cctv di atas teras rumah sakit.


Akhmar mengikuti arah pandang Aiza, helaan napas pria itu terdengar cukup keras.  Ia seperti merasa kalah oleh ancaman wanita.  Beda rasanya saat diancam oleh laki- laki.  Lidah wanita itu tajam.  Namun kemudian Akhmar menggeleng.


“Maaf.  Aku tidak bisa,” ucap Akhmar kemudian menunggangi motornya.  Ia menyalakan mesin motor dan menarik gasnya setelah menginjak gigi motornya.


“Jangan kaget kalau mendapat surat cinta dari polisi!” seru Aiza membuat Akhmar perlahan menurunkan tarikan gasnya.


Motor Akhmar tampak memelan.  Pria itu menghentikan motor dan menyetandarkannya.


Aiza mengulum senyum melihat Akhmar yang menuruni motor dan berjalan mendekatinya.


“Sepuluh hari,” ucap Akhmar.


“Sepuluh hari untuk apa?”


“Aku nego harinya.  Kamu menawarkan aku menghafal surat itu dalam tiga hari kan?”


“Nggak bisa sepuluh hari.  Kelamaan.”


“Satu minggu.”  Akhmar menawar.

__ADS_1


Aiza mengangguk tanda menyetujui. Deal.


Akhmar melepas napas kasar menyadari ia sedang dikerjain wanita. Kenapa ia jadi lemah begini di hadapan aiza? Kenapa ia tidak bisa melawan gadis itu? Bukankah seharusnya ia tinggalkan saja gadis itu begitu saja tanpa harus melayani ancaman konyol itu? Tapi aneh, ia malah menurutinya.


“Apa kaitannya kecelakaan tadi dengan hafalan?” tanya Akhmar geram.


Aiza ingin menyampaikan maksud hatinya yang menginginkan supaya Akhmar mengenal ayat- ayat Allah dengan caranya.  Entah apa yang menyebabkan Aiza berharap Akhmar akan lebih mendekatkan diri melalui pengenalannya pada ayat Allah.  Namun yang jelas itulah yang dia lakukan. Isi kepalanya berkata demikian. Sungguh aneh.


“Ada kalanya seseorang menghukum orang yang bersalah bukan dengan cambukan, tapi dengan solawat nabi yang dilafazkan seribu kali.  Menurutku itu lebih baik. Dan inilah caraku!” ucap Aiza.


Akhmar jadi teringat hukuman yang pernah dia terima dari papanya. Sepertinya Aiza sepemikiran dengan Adam.  


"Lalu dimana kita bisa bertemu kembali untuk aku setor bacaan?" tanya Akhmar dengan malas.  Membayangkan sederet huruf hijaiyah saja, ia sudah ingin muntah, bagaimana ia akan sanggup melakukannya? Tapi ya sudahlah, ia turuti saja dulu kemauan gadis nyeleneh di hadapanya itu.


"Aiza Hulya. Foto bunga melati. Itu instagramu. Kamu bisa cek alamat emailku di sana. Nanti aku kasih tau alamat rumahku," jawab Aiza.


Akhmar mengernyit heran. Setelah tadi ia ditugaskan untuk menghafap surat, sekarang disuruh searching akun instagram. Ya ampun. Akhmar kan tidak punya instagram. Dia tidak pernah aktif di dunia maya. Dia lebih suka realita. Tapi lidah Akhmar terasa kelu untuk membantah perkataan Aiza. Dia membungkam, hanya diam, tak mau mendebat.


Akhmar lalu melenggang pergi. Menunggangi motor dan meninggalkan Aiza.


Senyum manis tercetak di wajah cantik Aiza.


***

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2