
Anak- anak sudah tidak ada, sudah pulang semua.
"Sudah ya, pak ustad?" tanya Akhmar berusaha sopan.
Ismail mengawasi sekeliling, semuanya sudah beres.
"Pergilah! Dan ingat, besok tidak perlu datang kemari lagi!" tegas Ismail dengan tatapan tajam sambil menunjuk- nunjuk wajah Akhmar.
"Makaudnya? Saya dilarang ikut belajar ngaji di sini lagi ya?" Akhmar ingin memperjelas maksud ucapan Ismail.
"Ya. Jangan mengaji di sini lagi!" ucap Ismail sarkastik.
"Loh, abah kenapa ngelarang Akhmar mengaji di sini lagi?" Zahra yang baru saja muncul dan mendengar pembicaraan itu, langsung ikut campur.
Ismail menatap sulungnya. "Pria ini berandalan." Ismail lagi- lagi menunjuk- nunjuk wajah Akhmar. "Preman tidak tahu diri. Berbahaya."
"Kok abah ngomong begitu?"
"Kenyataannya begitu. Siapa yang bisa menjamin kalau preman ini bakalan insaf? Dia berbahaya, siapa tau maksud kedatangannya kemari bukan untuk mengaji? Tapi malah untuk sesuatu yang tidak baik, entah mencuri, entah menculik, atau apa saja yang membahayakan?" Ismail berapi- api.
"Pak ustad boleh lihat saya sebagai preman nggak beradab, tapi siapa pula yang bisa menjamin kalau saya ini sedang hijrah?" Akhmar bicara dengan tenang. Berusaha mengambil hati Ismail dengan kata- kata yang muncul secara tiba- tiba di kepalanya.
"Abah, orang mau hijrah jangan dipersulit. Apa pun niatnya Akhmar, biar itu menjadi urusan Akhmar dan Allah. Kita hanya bisa membuka peluang jalan menuju yang baik. Abah nggak boleh menghambat itu!" Zahra memohon.
"Belajar ngaji tidak harus di sini. Di mana saja bisa. Silakan belajar ngaji di tempat lain. Mau hijrah kok pilih pilih tempat!" Ismail bersungut.
"Abah, kalau Tuhan bukakan jalan itu di tempat ini, apa salahnya Akhmar belajar ngaji di sini. Di tempat lain belum tentu Akhmar merasa tertarik. Abah sama aja menghalangi orang untuk hijrah," ucap Zahra lembut.
Ismail jadi merasa seperti sedang dihakimi anaknya sendiri, dinasihati dan diluruskan cara pikirnya. Rasanya agak malu. Mukanya sedikit memerah.
"Ya sudah, terserah saja!" Ismail tak berkutik. "Tapi ingat ya, kamu jangan modus sama anakku Aiza." Ismail menekankan kalimatnya sambil menunjuk wajah Akhmar.
Jika saja yang menunjuk wajahnya itu bukan bapaknya Aiza, Akhmar sudah mematahkan telunjuk itu. Nggak sopan banget. Minta dihormati tapi nggak mau menghargai yang muda.
__ADS_1
"Niat saya bagus!" Akhmar masih terlihat tenang.
Ismail melangkah pergi. Jelas tampak di wajahnya kalau ia tidak menyukai Akhmar.
"Semangat ya belajar ngaji. Besok boleh dateng ke sini lagi," ucap Zahra memotivasi.
Akhmar mengangguk. Hatinya kakak ipar sudah berhasil dia taklukkan.
"Aiza belajar bahasa Arabnya setiap hari apa ya?" tanya Akhmar, supaya ia bisa menghindari pertemuan dengan Ismail lagi.
"Hari rabu."
Oh... Iya, Akhmar ingat dulu kejadian malam mencekam saat ia menyelamatkan Aiza juga di hari rabu.
"Baik. Makasih banyak. Aku pergi." Akhmar berpamitan, mencoba bersikap sesopan mungkin.
***
Malam itu Akhmar melangkah menuju halaman rumah kos nya. Ia mengernyit melihat sebuah motor baru bertengger di depan rumah.
"Mas, udah lama?" tanya Akhmar.
"Lumayan."
"Ini motor siapa?" Akhmar menatap motor laki- laki berwarna merah itu.
"Motormu."
Akhmar mengernyit lagi.
"Mas beli untukmu. Kamu bisa pakai itu untuk bepergian. Selama ini kamu pasti kesulitan bepergian tanpa kendaraan." Aldan menepuk pundak adiknya.
Akhmar membuang napas. "Makasih Mas. Mas perhatian banget sama aku."
__ADS_1
"Ini belum seberapa jika dibandingkan dengan pengorbanan papa selama ini. Dia sudah banyak memperjuangkan bahkan mempertaruhkan nyawanya untuk kita. Nggak bisa dihitung juga seberapa banyak keringat, tenaga dan waktu yang sudah dia korbankan."
"Mas, papa itu nggak suka sama aku. Bawaannya marah terus sama aku. Kapan sih papa bersikap baik ke aku? Nggak pernah, Mas."
"Boleh mas kasih tau alasannya?" Aldan menatap intens mata Adiknya.
Akhmar memutar mata. "Ngomong aja mas."
"Papa selalu marah sama kamu karena papa sayang dan peduli sama kamu. Papa ingin kamu menjadi anak yang berguna, menjadi anak yang baik dan soleh. Papa marah karena sedang meluruskan jalan yang kamu tempuh. Pertanyaannya sekarang mas balikin, kapan kamu berbuat satu hal kecil kebaikan untuk papa?" Aldan bicara dengan sangat lembut, juga tatapan yang teduh.
"Mas mau nyalahin aku?"
Aldan menghela napas. Ia menyerah. "Ya sudahlah. Sekarang kamu masuk. Tuh, kamu makan nasi bungkus yang mas belikan. Juga ada uang buat kamu. Uang kuliahmu udah mas bayarin."
"Papa tau soal ini ya mas?"
Aldan menggeleng. "Mas lakukan ini sembunyi- sembunyi tanpa sepengetahuan papa. Apa pun yang terjadi, kamu itu tetap adikku."
Akhmar sudah menduga hal inilah yang akan dilakukan oleh kakaknya. Pria itu begitu pengertian. Lembut dan penuh nuansa sayang.
"Thanks, Mas."
"Semoga apa yang mas berikan menjadi barokah dan dimudahkan Allah supaya kita bisa kumpul lagi." Lagi, Aldan menepuk lengan Akhmar. "Good night. Jadilah anak yang berguna dan bermanfaat. Allah akan mempermudah urusanmu." Aldan melangkah pergi, masuk ke mobilnya. Dia menekan klakson kemudian melajukan mobilnya meninggalkan Akhmar.
Tatapan Akhmar kini tertuju ke sebungkus plastik berisi nasi bungkus. Ia membawa plastik itu masuk. Duduk lesehan di lantai, membuka bungkusan nasi. Lauk udang galah kesukaannya, juga ada perkedel buatan papanya. Akhmar termenung sebentar menatap perkedel itu. Jujur saja ia merindukan masakan papanya. Hasil masakan papanya memiliki ciri khas tersendiri yang tidak dimiliki di restoran mana pun. Membuat ketagihan penikmatnya. Sungguh pun beliau adalah seorang laki- laki, namun beliau terampil dan ahli dalam hal memasak.
Akhmar mengunyah perkedel. Entah kenapa rasanya malah nyangkut di leher saat ia menelannya. Ia teringat papanya, juga teringat makian papanya.
Tak peduli, Akhmar melanjutkan santapannya hingga habis.
Sebuah notifikasi masuk ke hape nya. Uang masuk dari Aldan. Tak henti Aldan melakukan apa saja demi kelangsungan hidupnya.
Akhmar bertekad, besok dia harus mencari pekerjaan. Ia tak mau bergantung hidup pada kakaknya. Hidup itu tidak selalu manis, disaat kakaknya dalam kesulitan, maka ia tidak bisa menyandarkan hidup pada kakaknya. Lagi pula, dia pergi dari rumah bukan untuk nyender pada sang kakak, tapi untuk menunjukkan bahwa ia juga bisa hidup tanpa belas kasih dari orang lain.
__ADS_1
Bersambung