
Apakah pria paruh baya itu mengenali wajah Akhmar? Jika saja pria itu mengenali wajah Akhmar, maka tamatlah riwayat Akhmar. Dan… kenapa pria itu bisa berada di sana? bahkan duduk di posisi Aiza yang selama ini mengajar mengaji?
“Siapa itu?” bisik Akhmar pada si bocah bandel.
“Itu Ustad Ismail, abahnya Kak Aiza,” balas si bocah yang juga berbisik.
Akhmar menggeleng menyadari nasibnya yang berada di ujung tanduk. Kenapa pula Aiza memiliki sosok ayah yang belagu begitu? Dan kenapa pula kisah hidup Akhmar untuk menuju pengajian begitu rumit? Salah satunya yang membuat rumit adalah Ismail. Lebih baik ia kabur saja. Lalu bagaimana kelanjutannya untuk mengaji dengan Aiza jika ayahnya Aiza saja adalah musuhnya.
Akhmar beringsut mundur, hendak kabur.
“Hei, kamu! Mau kemana? Sini!” Suara mengguntur itu membuat Akhmar berhenti bergerak.
Ya ampun!
Pelan, kepala Akhmar menoleh. Menatap Ismail.
"Saya?" Akhmar menunjuk dadanya sendiri.
Ismail mengawasi wajah Akhmar dengan dahi bertaut. Lalu tangannya terangkat menunjuk muka Akhmar.
"Kamu siapa?" tanya Ismail.
Akhmar lega. Mungkin Ismail lupa dengan wajah Akhmar mengingat sekarang Akhmar mengenakan kopiah dan pakaian khas muslim. Jelas, wajah Akhmar yang sekarang terlihat berbeda dengan Akhmar yang dulu.
"Saya ini mau setor hafalan, Pak ustad," jawab Akhmar berusaha sopan.
"Setor hafalan? Setau saya tidak ada murid di sini yang seumuran kamu?"
"Saya kan murid baru," jawab Akhmar enteng, tanpa beban.
"Oh..." Ismail mengangguk- anggukkan kepala. "Ya sudah, kamu kemari! Setor saja bacaannya sekarang!"
"Saya duluan nih? Bukan yang kecil- kecil duluan?"
__ADS_1
"Kamu yang duluan. Ayo, kemari!" titah Ismail.
Sesuai perintah, Akhmar mendekat dan duduk menghadap Ismail.
"Oh iya, anak- anak, seperti biasa Kak Aiza sedang ada les bahasa Arab. Jadi malam ini tidak bisa mengajar, malam ini belajar sama Abah dulu ya?" Ismail berbicara dengan anak- anak.
"Iya, Abah!" serentak anak- anak.
Pandangan Ismail tertuju ke wajah Akhmar. "Namamu siapa?"
"Akhmar."
"Baik, ayo baca hafalannya!"
Langsung saja, Akhmar membaca hafalannya. Dan tak lupa diawali dengan ta'awudz dan basmallah supaya tidak diprotes lagi.
Beberapa kali Akhmar mendapat teguran Ismail karena dianggap salah dalam melafazkan huruf. Namun ia berhasil dianggap telah lulus hafalan karena memang Akhmar berhasil menghafal surat itu.
"Bacaan kamu buruk sekali," ucap Ismail.
"Itu lafaznya harus diperhatikan. Kamu harus mulai belajar membaca dari iqro' supaya lidahnya tepat saat melafazkan huruf hjaiyah. Sebab meleset sedikit, maknanya bisa berbeda. Ayo, kemari!" Ismail membuka iqro dan meminta Akhmar melafazkan hurufnya satu per satu.
Astaga. Percuma dong Akhmar membawa Al quran yang dia beli di jalan tadi. Padahal ia sudah berniat akan membaca kitab suci itu. dan anehnya, ia kecewa saat tahu Aiza tidak bisa mengajar ngaji. Apakah ini artinya ia sedang sangat ingin bertemu dengan Aiza? Lalu kedatangannya ke sana untuk mengaji juga hanya sebagai modus? Dan ini kenapa malah diajarin sama bapaknya begini? Ah, nggak lucu!
Bahkan beberapa kali Akhmar mendapat teguran karena dianggap salah melafazkan huruf. Ismail membenarkan dan mencontohkan lafaz yang seharusnya. Sulit sekali Akhmar mengikutinya. Sebab pikiran Akhmar melayang kemana- mana. Merasa sial sekali.
"Baik, selesai! Besok diulang lagi!" titah Ismail. "Makanya jangan malas belajar ngaji, ini sudah umur segini baru belajar ngaji," imbuhnya membuat Akhmar semakin gedeg.
Baru saja Akhmar hendak bangkit berdiri, namun Ismail menahannya.
"Tunggu!"
"Apa lagi ya, Pak Ustad?" Akhmar ingin menelan bulat pria tua di hadapannya itu.
__ADS_1
"Saya seperti pernah mengenal kamu?" Ismail mengingat- ingat.
Waduh! Masih cling juga ingatan si tua. Akhmar menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Loh, kamu kan orang yang... Oh iya... Kamu anak muda yang begajulan di tengah jalan itu kan? Yang melempar saya dengan sepatu?" Mata Ismail membulat menatap wajah Akhmar.
Nah, ketahuan!
Akhmar tidak bisa menyembunyikan wajahnya. Dan ini aneh, terakhir saat Akhmar melempar sepatu dan mengenai kepala Ismail, pria tua itu terlihat pulang ke sebuah rumah lain, bukan rumah Aiza. Lalu kenapa sekarang malah berada di sini? Jadi hakim lagi.
"Sepatu kamu bahkan masih saya simpan, bocah kurang ajar! Berandalan!" Ismail menepuk meja keras, membuat anak- anak terlonjak kaget.
Tetap tenang, Akhmar hanya diam. Memilih diam lebih baik. Rasanya aneh saat Akhamr tidak membalas kemarahan Ismail, ia merasa sedang menghargai Aiza. Lah? Lebih tepatnya, apakah ia beranggapan bahwa ia sedang berhadapan dengan calon mertua? Alamakjang!
Ingat, ia sedang berhadapan dengan calon mertua. Bisa kena depak dari daftar calon mantu kalau dia macam- macam. Tak apa sekarang mengalah. Lusa, kalau sudah dapat anaknya, dia goreng itu si tua nyebelin.
"Sini kamu!" Ismail menatap tajam ke arah Akhmar.
Tak mau membantah, Akhmar mendekat dengan tenang. Sedikit pun kemarahan Ismail tak membuatnya gentar.
"Orang tuamu gagal mendidikmu. Berandalan sepertimu benar- benar tidak pantas berada di mana pun. Apa kamu tidak tahu kalau orang yang kamu timpuk dengan sepatumu itu adalah orang terpandang? Disegani warga. Dipatuhi banyak orang!" hardik Ismail sangat marah.
Dih, sombong dia! Yang begini paling disukai setan.
Akhmar tetap diam, menunduk saja supaya dianggap patuh. Itung- itung biar dinilai sudah tobat.
"Kamu jangan pulang dulu! Tunggu di sini sampai anak- anak selesai mengaji!" titah Ismail setelah puas memaki- maki dengan kata- kata sepuasnya.
Akhmar menuruti. Ia menunggu di sana. Dia menjadi murid paling sial karena disuruh- suruh terus oleh ayahnya Aiza. Disuruh menyusun meja, disuruh mematikan Ac, disuruh melipat karpet permadani, pokoknya disuruh merapikan ruangan itu. Suara Ismail terdengar menghardik fan wajahnya pun garang sepanjang memerintah.
Dalam hati, Akhmar terus mengumpati si bapak tua. Mudah- mudahan stroke lu, kena serangan jantung mendadak, atau langsung ketemu malaikat penjemput nyawa. Awas lu ya, pas nanti udah terkapar di atas ranjang pesakitan, pasti gue ketawain. Berapa sih umur lu? Kali aja udah sembilan puluh taon. Kenapa nggak mati- mati juga? Awet amat yang begini mah.
Bersambung
__ADS_1
Klik like yups