Terjerat Pesona Preman Insaf

Terjerat Pesona Preman Insaf
85. Kembali Bertemu


__ADS_3

Akhmar menatap Aiza dengan intens tanpa mengucapkan sepatah kata. Wajah pria itu datar, namun di matanya bertumpu jutaan harapn yang sulit dijabarkan dengan kata- kata.


"Hei! Jangan diliatin banget kayak ketemu malaikat Izrail aja." Aiza berseru dengan suara keras disertai tawa renyah.


Akhmar berpikir keras. Malaikat Izrail itu malaikat yang tugasnya apa? Akhmar lupa. Itu pernah ia pelajari saat SD. 


"Malaikat di alam kubur ya?" tanya Akhmar penasaran, mengakibatkan ekspresi wajahnya menjadi serius.


"Malaikat maut, malaikat pencabut nyawa." Tawa Aiza pecah.


Akhmar malah terdiam menikmati betapa tawa itu sangat indah, betapa cantiknya wajah gadis di hadapannya itu. Entah lusa ia akan bisa menatap tawa itu lagi atau tidak.


"Hei, bengong lagi. Kayak kesambet gundul pringis." Aiza melambaikan tangan di hadapan wajah Akhmar.


Akhmar masih terlihat datar. 


Senyum di wajah Aiza perlahan lenyap. Gadis itu memasang ekspresi serius, sama seperti yang dilakukan Akhmar.


"Kamu beneran nggak belajar ngaji lagi? Di mana gitu, kan belajar membaca Al Quran itu nggak harus sama aku. Dimana aja bisa belajar," ucap Aiza.


Akhmar menggeleng. "Nggak ada semangat." 


Aiza tampak kecewa. Usahanya yang hanya separuh, tak bisa membuat Akhmar berhasil membaca Al Quran. Aiza gagal. Merasa telah gagal.


"Aku pergi. Abah kamu bisa mengamuk kalau tau aku di sini," pamit Akhmar.


"Abah nggak ada di rumah." Entah kenapa Aiza mengatakan itu untuk memberi isyarat pada Akhmar supaya bertahan beberapa saat lagi berdiri di sana.


"Tapi umi kamu kan ada, nggak enak kalau memergoki aku di sini." Akhmar memutar mata. Lalu kembali menatap mata bulat Aiza. Rasanya tak ingin beralih dari pandangan yang indah itu. "Maaf, aku udah menjadi penyebab kekacauan hidup kamu."


Akhmar balik badan, melangkah menuju ke motornya yang bertengger di pinggir jalan.


Aiza menatap punggung Akhmar hingga pria itu menaiki motornya, mengenakan helm dan berlalu pergi. Aiza mengamati hingga hilang dari pandangan.

__ADS_1


Ya Allah... Baru kali ini Aiza gagal dalam urusan begini.  Sedih rasanya.


Aiza menepuk- nepuk pipinya sendiri sambil beristighfar. Ia berlari secepat kilat memasuki kamar. Satu hal yang seharusnya ia lakukan sekarang adalah membuat planing untuk Akhmar supaya bisa kembali belajar mengaji bersamanya.


"Aha..." Aiza menjentikkan jarinya saat mendapatkan ide itu. Ia kemudian mengetik sebuah kalimat dan mengirimkannya kepada Akhmar.


.


( Datang ke sekolahku setiap jam pulang sekolah! Masih mau belajar baca Al Quran kan? )


Chat dibaca. Lalu tampak Akhmar sedang mengetik. Tak lama masuk chat.


( Oke ) 


Diikuti emoticon senyum.


Aiza pun tersenyum membaca pesan itu. Alhamdulillah... Semoga niat baiknya akan membawa pada keberkahan. Akhmar harus bisa membaca Al Quran.


***


"Mm.... Gue di sekolah aja sih." Aiza ada janji dengan Akhmar, ia harus menepatinya. Ia baru saja selesai makan siang di kantin sekolah.


"Ke kantin yuk makan cemilan.  Satu jam itu kan lama. Dari pada bosen."


"Jangan ngemil terus, Nay. Entar badan li melar loh kayak tales. Mau?"


Nayla membelalak. "Jangan nakut- nakutin iiih.  Kalau gitu ke indoor yuk, baring- baring di sana," ajak Nayla sambil menarik perhelangan tangan Aiza. Biasanya memang Aiza dan Nayla selalu menghabiskan waktu bersama saat menunggu waktu les tiba.


"Sori Nay, gue nggak bisa. Soalnya gue ini mau ngajarin murid gue ngaji," bantah Aiza.


"Ngaji? Di sekolah? Kenapa nggak di rumah aja?"


"Murid gue yang satu ini beda, Nay. Murid kawakan. Udah gede."

__ADS_1


Nayla mengernyit.


Aiza kemudian menceritakan seluruh kejadian yang terjadi, membuat Nayla hanya bisa melongo dan berakhir dengan telapak tangan Aiza yang menempel di permukaan mulut Nayla hingga membungkam.


“Entar lalat masuk!” Aiza menyeletuk membuat Nayla terkekeh.


“Za, ini serius lo ngajarin cowok udah lajangan ngaji?” Nayla masih tak yakin.


“Kenapa enggak?  Emang harus ada alasan ya untuk berbuat baik?”


“Harus dong.  Alasannya karena Allah.”


“Tumben, pinter.”  Aiza mengusap wajah Nayla.  “Ya udah, gue pergi.”


“Kemana?”


“Nemuin Akhmar, dia udah nelepon tadi, katanya nunggu di samping gedung sekolah.”


“Gue ikut.”


“Mau ngapain?”  Aiza mengernyit.


“Ngeliat kayak apa mukanya murid lo.”


“Ya akayk manusia lah.”  Aiza diikuti oleh Nayla.  Mereka keluar gedung sekolah, melintasi sisi samping gedung.  


Tampak di kejauhan sana sosok pria duduk di atas motor matic sambil menghadap hape di tangannya.  Hanya kelihatan punggungnya saja, mengenakan jaket warna biru muda.  Rambutnya diikat, menyisakan anak rambut yang tidak terjangkau oleh karet di sekeliling wajah.  Ia berteduh di bawah pohon rindang.  Di sana ada sebuah kursi permanen.


“Bodi nya keren, Za.  Orangnya ganteng ya?” tanya Nayla sambil mengawasi dari arah belakang.


“Gue nggak tau ukuran ganteng yang kayak apa.  Setau gue yang jelek itu monyet.”


Nayla hanya nyengir.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2